close
IMG_20150407_192627

Filosofi Kopi

Tantangan film adaptasi adalah memuaskan imajinasi pembaca. Sederetan film adaptasi dari karya penulis Indonesia, Dewi ‘Dee’ Lestari, telah membuktikan hal itu. Pembaca tak puas. Kecewa. Namun, cerita adaptasi yang satu ini berbeda.

Filosofi Kopi, sebuah cerpen dari antologi yang berjudul sama, diangkat kemudian dikembangkan beberapa bagian untuk menjadi sebuah film yang layak dinikmati. Tanpa perlu banyak gerutu karena berbeda dengan imajinasi. Kini, yang muncul puja-puji untuk film yang mulai dipersiapkan dari Oktober tahun lalu.

Filosofi Kopi bercerita tentang Ben (Chicco Jerikho) yang terobsesi pada kopi dan mendirikan kedai Filosofi Kopi bersama Jody (Rio Dewanto). Konsep kedai ini menarik karena memberikan filosofi tersendiri untuk kopi sehingga membuatnya banyak diliput. Kesohoran kedai Filosofi Kopi membuat seorang pengusaha menantang Ben untuk meracik kopi ternikmat setanah air. Hadiah tantangan yang besar membuat Jody tergiur hingga memaksa Ben untuk menyanggupi karena hutang mereka sudah menunggak. Di tengah persiapan untuk tantangan itu, problematika muncul bersamaan dengan kehadiran pakar kopi bersertifikat internasional cantik bernama El (Julie Estelle).

Dialog dan cerita film besutan Angga Dwimas Sasongko ini begitu segar. Ada bagian yang membuat penonton tertawa, berkontemplasi hingga hanyut terenyuh ke dalam cerita. Cameo dihadirkan dengan porsi yang pas dan akting yang memikat seperti Melissa Karim, Joko Anwar, Tanta Ginting, Baim Wong, Tara Basro, Slamet Rahardjo dan Jajang C. Noer. Sayangnya, terdapat bagian di mana kamera berguncang dan adegan yang dipaksakan tanpa pengantar. Yaitu ketika barista Nana (Ni Made Westny) panik karena suaminya kecelakaan. Padahal, tak ada pengantar bahwa barista tersebut telah bersuami dan suaminya dalam keadaan sakit. Mungkin, sekelumit hidup barista Aga maupun barista Aldi dapat diangkat untuk meyokong argumen Ben yang tak ingin mengurangi pekerja kedai Filosofi Kopi.

Promosi film ini teramat gencar. Salah satunya dengan melibatkan publik ikut ke dalam proses produksi. Merupakan first user generated movie  di Indonesia, di mana masyarakat dapat ikut serta memberi masukan untuk produksi film melalu aplikasi di smartphoneSelain itu, serangkaian talkshow digelar di beberapa kampus seantero nusantara. Belum lagi trip ke perkebunan kopi di Semarang dan Bandung bersama pemeran film. Ditambah dengan konser Filosofi Kopi Musik, acara musik gratis untuk penonton film dengan deretan musisi pengisi suara di sinema ini. Pengisi musik juga tak tanggung-tanggung, Filosofi Kopi menggandeng Maliq & D’Essentials, Glenn Fredly, Monita Tahalea, dan Is “Payung Teduh”.

Sebuah film yang dikerjakan dengan begitu baik. Para peracik film ini mengadaptasi cerpen ke film dengan hati dan begitu berhati-hati karena menciptakan banyak detail yang menarik. Penonton disajikan realita kopi nusantara yang begitu beragam, bagaimana proses panjang biji kopi menjadi kopi, pelelangan kopi juga kisah haru di balik kesuksesan tokoh-tokohnya. Filosofi Kopi akan membuat siapapun jatuh cinta. Cerita tentang obsesi yang kadang tak berlogika dan mengorbankan hati. Sebuah film yang diracik dari biji-biji berkualitas menghasilkan film yang harum dan nikmat untuk dipersembahkan kepada masyarakat Indonesia.

Tags : Angga Dwimas SasongkobaristaChicco JerikhofilmFilosofi KopiJulie EstellekopiRio Dewanto
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

3 Comments on "Filosofi Kopi: Mengadaptasi dengan Hati"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Nengnunuz_
Guest

Kayaknya cuma bukunya dee yang di filmkan yang belum pernah bikin gue kecewa.
Perahu Kertas, Madre, Rectoverso, Supernova sampai yang terakhir Filosofi Kopi.
Semuanya mewakili isi bukunya dan pemilihan pemain, pengisi soundtrack tuh total.

diteraskata
Guest

udah nonton Madre? Aku belum nonton nih.
Maksud kalimatnya “Kayaknya cuma bukunya dee yang di filmkan yang belum pernah bikin gue kecewa.” itu berarti semua buku Dee nggak mengecewakan ya?

Nengnunuz_
Guest

Udah. Iya bukunya tidak mengecewakan. Suka cararanya dee bertutur. Tulisannya selalu ada unsur budaya dan sains. hehe
Yup, setiap buku yg di filmkan, secara garis besar cerita di bukunya terwakili.
Kayak perahu kertas, yang buat gue ga cuma cinta-cintaan tapi juga tentang impian
Supernova yang membukan pemikiran tentang persepsi. Dan filosofi kopi ini terbaik menurut gue. Karena ada unsur membangun bisnis kopi di Indonesia. Ngasih pengetahuan juga seputar kopi. Workshopnya juga seru.

Duuuh, maap panjang.

wpDiscuz