close

Selebrasi di Puncak Tertinggi

C IMGP0091

Semarak peringatan kemerdekaan bangsa ini tinggal menghitung hari. Setiap orang punya cara sendiri untuk selebrasi. Upacara mengingat bebasnya bangsa dari penjajahan bisa dilakukan di mana saja. Lapangan luas, kedalaman laut hingga puncak-puncak tertinggi.

Tren pendakian gunung yang bergulir tahun-tahun belakangan ini menyumbang tingginya jumlah pendaki di hari-hari libur. Khususnya, hari libur 17 Agustus yang bertepatan dengan HUT republik ini.

Mari melihat pada gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru semakin populer melalui film adaptasi novel 5 cm yang meraup untung besar di penghujung 2012. Setelah 13 minggu penayangan, jumlah penonton mencapai 2.387.236 penonton. Betapa banyak orang terpikat cerita dan pemandangan alam gunung berketinggian 3.676 mdpl. Meski begitu, film ini disayangkan karena mengenyampingkan unsur keamanan dalam pendakian. Bayangkan betapa banyak orang yang akan mendaki ke Mahameru setelah menonton film ini tanpa persiapan matang yang tak muncul dalam film.

 Dampak dari film ini dapat dilihat dari lonjakan pendaki pada perayaan 17 Agustus yang mencapai 3.000 orang pada tahun 2013 dan 2014. Angka yang fantastis mengingat bahwa pada tahun 2011 saja tercatat 300-an pendaki yang berupacara bendera. Tahun 2012, pendaki juga tak banyak karena periode puasa sekaligus berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Meningkatnya pendaki berarti meningkat juga jumlah sampah di Gunung Semeru. Tak semua pendaki menyadari kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sampah yang mereka tinggalkan. Jika rerata jumlah sampah per orang 0,5 kg dengan total 3.000 pendaki, maka terdapat 1.500 kg atau 1,5 ton sampah yang dihasilkan tiap tanggal 17 Agustus.

Padahal, menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Ayu Dewi Utari, kuota pendaki per hari dibatasi sebanyak 500 orang. Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga ekosistem kawasan (bisnis.com, 2015). Namun pada kenyataannya, tiap peringatan kemerdekaan, pendaki melebihi kuota hingga mencapai 3.000 orang. Andi Iskandar, pegiat lingkungan dari JICA (Japan International Cooperation Agency) menuturkan bahwa jika pendaki melebihi kuota akan merusak ekosistem kawasan Gunung Semeru. Andi menekankan pada talkshow Pengembangan Pengetahuan dalam Berkegiatan di Alam Bebas yang Aman dan Nyaman bahwa “waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan ekosistem tidak cukup sepuluh tahun. Tidak cukup dengan tiket yang Anda bayar”, tegasnya (halomalang.com, 2015).

Alangkah lebih baiknya jika para pendaki memiliki kesadaran pribadi untuk membawa sampah kembali ke bawah dan membuangnya di tempat yang tepat. Meninggalkan sampah di jalur pendakian berarti menyumbang kerusakan ekosistem. Kerusakan ekosistem butuh waktu yang lama dibanding dengan beberapa jam membawa sampah turun ke bawah. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab untuk melestarikan ekosistem dengan tidak membuang sampah di jalur pendakian.

Sumber:

Surabaya.netTempo.coViva.co.idHalomalang.comBisnis.comFilmindonesia.or.id


(Catatan: Tulisan ini dibuat untuk Gerakan Bawa Sampah.

Sebuah kampanye online di sosial media (Instagram & Twitter).

Bawa sampah Anda dan bagikan gambar aktivitas #BawaSampah ke Instagram dan Twitter @bawasampah dengan tagar #BawaSampah.

Sebarkan kebiasaan positif ini agar semakin banyak orang yang bertanggung jawab terhadap sampah di gunung!)

teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of