close
no thumb

Apakah yang dapat mencairkan rindu yang telah membeku?

Kehangatan.

Kali ini, rindu itu tidak hanya dicairkan oleh kehangatan. Namun, ditambah dengan bara api yang menyala-nyala. Membuat rindu itu menggelegak bak air mendidih. 

Rasanya seperti satu dasawarsa tak menyaksikan penampilan Efek Rumah Kaca. Padahal, hanya kurang dari dua tahun. Sabtu malam lalu, kerinduan untuk menyaksikan mereka tuntas sudah. Bahkan lebih dari apa yang pernah dibayangkan.

Menyulap sebuah gudang menjadi sebuah lokasi pertunjukkan merupakan ide yang menarik. Penonton disambut dengan mural sepanjang lorong masuk, membuat siapapun ingin terus eksis dengan mengunggah foto artsy ke media sosial. Beraneka food truck berjajar untuk melepas lapar dan dahaga. Gudang tempat pertunjukkan tidak hanya berisi panggung, terdapat bermacam stand finalis kompetisi dari kategori musik, style, fotografi dan seni visual.

Adrenalin penonton dipacu oleh band stoner rock asal Bandung, Sigmun. Sebuah performa yang penuh energi. Semakin malam, muncul kolaborasi pertama dari White Shoes and the Couples Company dengan Sentimental Moods. Tak hanya karya pribadi tapi mereka juga mengaransemen karya musik tradisional Indonesia. Acara ini ditutup oleh kolaborasi pertunjukkan yang paling ditunggu-tunggu.

Inilah sebuah wujud yang melepaskan kerinduan pendengar. Efek Rumah Kaca (ERK) kembali mengumandangkan kegelisahan mereka secara live setelah setahun vakum karena sang vokalis melanjutkan studi ke Amerika. Band yang Juli lalu merilis single bebas unduh “Pasar Bisa Diciptakan” berkolaborasi dengan unit musik berbahaya bernama Barasuara. Barasuara baru akan melepas album mereka Oktober nanti. Ajaibnya, meski belum merilis album, fans mereka sudah kadung hafal setiap penggal lirik lagu band ini.

Adrenalin yang sudah terpacu lebih dulu ditenangkan oleh petikan gitar akustik dari jemari Gerald Situmorang, bassist Barasuara. Selanjutnya, personil kedua band bermunculan dan bersama-sama penonton melantunkan “Sebelah Mata”. Ada tembang yang keduanya mainkan, ada pula yang mereka bawakan secara mandiri. Paduan suara tak putus-putus menggema hingga akhir pertunjukkan. Bara aransemen gabungan dua kolektif musisi ini membakar emosi penonton. Mencairkan kerinduan terpendam yang membeku hingga membuatnya menggelegak bak air mendidih.

Tanpa terasa sebelas lagu sudah berlalu. Waktu yang harus memisahkan momen melepas rindu ini. Efek Rumah Bara (sebutan untuk kolaborasi ERK & Barasuara) memberi salam perpisahan dengan senandung “Pasar Bisa Diciptakan”. Seruan “we want more” tak berhasil membuat mereka kembali. Pertunjukkan harus usai. Menyisakan haru biru bagi siapapun yang datang dan menggemari musik ERK juga Barasuara. Sebuah persembahan musik yang membuat matamu berkaca-kaca.

Tags : BarasuaraEfek Rumah KacaGerald SitumorangGo Ahead Challenge Artwarding Nightlive performanceSentimental MoodsSigmunWhite Shoes and the Couples Company
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar