close
mtf_JEbLN_108.jpg

Pertunjukkan musik, terlebih yang tanpa bea masuk, selalu berhasil menjadi magnet penarik massa. Tak peduli lokasi, apalagi waktu pertunjukkan yang terselip di tengah padatnya hari kerja, massa mengerubung untuk dihibur kolektif musik memikat.

Kaum urban pun menerobos ganasnya kemacetan ibukota di jam pulang kerja. Saat matahari undur diri, halaman belakang Rolling Stone Cafe mulai dipadati penggemar band-band folk yang sedang hangat diperbincangkan di kancah musik tanah air. Pukul 18.30, belum ada alat musik yang berbunyi. Ternyata, sesi bincang-bincang seputar dampak festival musik terhadap perkembangan suatu kota menjadi pembuka. Dipandu oleh jurnalis Wendi Putranto, Stephanus Adjie selaku promotor Rock in Solo (Solo) dan Anitha Silvia dari Indonesia Netlabel Union dan C20 Library and Collective (Surabaya), membagikan pandangan dan pengalaman seputar festival musik di kota masing-masing. Topik ini juga menarik perhatian Nuran Wibisono untuk menelaahnya melalui kajian akademis.

Semakin malam, penonton terus bergulir tanpa henti. Waktu tunggu diisi celotehan pemandu acara yang tak jauh-jauh dari nostalgi 90-an yang digandrungi juga ampuh mengundang tawa. Silampukau, duo asal Surabaya menjadi penampil pertama. Membawakan tembang dari album panjang pertama yang rilis medio tahun ini bertajuk Dosa, Kota dan Kenangan. Eki Tresnowening dan Kharis Junandharu berhasil merangkum realita kota pahlawan lewat lirik-lirik kritis nan menggelitik. Penampil selanjutnya band asal Bali, Dialog Dini Hari. Brozorio Orah (bassist) yang berhalangan digantikan sementara oleh Rhesa dari Endah N Rhesa. Berbagai hits dari empat album yang telah rilis dibawakan. Float asal Jakarta menjadi penutup yang manis di tengah hujan gerimis yang menambah syahdu suasana. “Sementara” selalu ditunggu. Lagu yang kemudian dijadikan strategi untuk mengecoh penonton. Akhirnya, nomor tersebut diperdengarkan sebelum dua lagu terakhir.

“Sementara teduhlah jiwaku 

Tidak lagi jauh 

Belum saatnya kau jatuh

Sementara ingat lagi mimpi

Juga janji-janji 

Jangan kau ingkari lagi…”

Paduan suara penonton berkumandang sepanjang lagu. Lantunan yang membuat siapa saja tergugah, merenung hingga mengembangkan senyum. Ketika lagu ini berakhir, sebagian penonton menuju pintu keluar. Sisanya bertahan hingga pertunjukkan usai meski esok harus bangun pagi untuk bekerja lagi.

Tags : Dialog Dini HariEki TresnoweningFloatFloat ProjectfolkJakartaKharis JunandharuRhesaRolling Stone CafeSilampukauSurabaya
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar