close
Poster Ngenest

“Sejak SD kita selalu di-bully sama Faris and the gank. Karena apa coba?”

“Ya karena kita China lah.”

“Salah lu. Karena kita berbeda.” (Cuplikan dialog Ngenest, 2015)

Hampir setengah abad nampaknya pemerintah Indonesia baru menyadari bagaimana sebuah istilah yang disematkan kepada golongan tertentu menimbulkan dampak psikososial-diskriminatif dengan warga negara Indonesia. Istilah tersebut mengacu pada golongan masyarakat berkulit putih dan bermata sipit yang disebut sebagai China/Cina. Bukan konotasi positif. Melainkan istilah yang sensitif namun terus berkembang tak pernah layu di tanah nusantara.

Masyarakat pribumi cenderung sinis terhadap apa yang mereka sebut sebagai China/Cina. Menengok sejarah pergolakan 1998, bibit diskriminasi yang tumbuh subur mengakibatkan keturunan Tionghoa menjadi korban. Belum lagi dalam kehidupan sehari-hari, mereka harus kebal menjadi bulan-bulanan bullying dari pihak yang belum memahami apa itu toleransi.

Negara juga turut serta dalam melanggengkan proses diskriminasi ini lewat Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pres.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967. Surat edaran ini mengenai penggantian istilah Tionghoa menjadi Tjina/China/Cina. Barulah setelah 47 tahun berlalu, atas pertimbangan dampak psikososial-diskriminatif serta membaiknya hubungan bilateral Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan bahwa istilah Tjina/China/Cina diganti dengan Tionghoa. Ketetapan ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor Se-06/Pres.Kab/6/1967 (Kompas.com, 2014) .

Di penghujung 2015, dirilis sebuah film yang mengangkat topik diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia. Eits, jangan salah menilai dulu karena film ini bukan film berat mengenai politik, ekonomi, sosial dan budaya. Film ini merupakan film drama komedi yang di dalamnya mengandung kecamuk batin seorang Ernest Prakasa. Sosok Ernest yang terlahir sebagai keturunan Tionghoa menyebabkannya sering kali di-bully oleh teman-teman sekolahnya sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

Ngenest dibuat berdasarkan trilogi novel berjudul sama yang lebih dulu sukses menjadi best-seller. Rangkuman trilogi novel ini menceritakan perjalanan hidup penuh diskriminasi hingga membuat tokoh utama ingin beradaptasi dengan cara yang berbeda. Meski sudah berkarib dengan kawan ‘China’ yang senasib, Patrick (Brandon Salim/Morgan Oey), Ernest (Kevin Anggara/Ernest Prakasa) berusaha membaur dengan geng Faris yang kerap mengganggunya. Sayangnya, usaha adaptasi tersebut sia-sia. Ernest tidak menyerah sampai di situ. Memasuki masa kuliah, ia pun menemukan strategi untuk memutus rantai diskriminasi dengan menikahi pribumi. Hal ini dilakukannya agar keturunannya tidak lagi berciri fisik sepertinya.

Ernest Prakasa terkenal sebagai komika dengan bit cerdas yang selalu mengundang gelak tawa. Pria kelahiran 29 Januari 1982 ini tidak hanya bertugas menjadi aktor utama, ia juga bertindak sebagai penulis cerita dan sutradara dalam film ini. Kepiawaiannya ber-stand-up comedy membawanya menciptakan dialog-dialog segar di dalam film. Selain itu, musik latar yang disuguhkan juga terasa pas dan tidak berlebihan.

Akan tetapi, ada sedikit yang mengganggu dalam film. Yaitu pemakaian wig untuk Ernest dan Meira saat mereka kuliah. Sayangnya, masih kurang terlihat natural. Tidak hanya itu, pada saat adegan keduanya berkonfilk di dalam mobil, Ernest nampak tidak konsisten dalam penggunaan sabuk pengamanan. Awalnya, memakai sabuk pengaman ketika berganti sudut kamera terlihat tidak memakai.

Namun, hal tersebut tidak mengurangi kualitas film yang mampu mengurangi stress. Penonton diajak tertawa sepanjang film berlangsung. Pemeran pendukung seperti Ge Pamungkas, Awwe dan Muhadkly berhasil mencuri perhatian penonton dengan akting mereka yang jenaka.

Pengalaman buruk diskriminasi membuat Ernest mempertimbangkan untuk memiliki anak. Terbersit trauma kalau-kalau anaknya nanti jika lahir seperti fisik sang ayah. Ia takut buah hatinya akan memperoleh perlakuan serupa di masyarakat. Kegelisahan ini menjadi klimaks cerita yang akhirnya membuat Ernest mengambil keputusan. Melalui film ini, ia ingin berpesan kepada masyarakat luas mengenai dampak negatif dari bullying yang ia terima selama hidupnya. Ia setidaknya telah berusaha mengikis sensitivitas di negeri ini melalui karyanya. Berharap siapapun yang menonton film ini dapat mengerti apa itu toleransi dan tak lagi berlaku diskriminatif terhadap keturunan Tionghoa.

Dalam konferensi pers, ia lugas mengatakan,

“Kenapa sih kalau dengar kata ‘Cina’? What’s wrong with that word? Kenapa harus punya begitu banyak konotasi. Sebuah kata adalah sebuah kata, sebenarnya kita harus belajar menempatkan kata sesuai konteksnya. Kenapa sebuah kata ‘Cina’ itu dibuat jadi mengerikan. Kadang-kadang memang jadi sensitif karena warisan dari Orde Baru yang membuat kita seperti ini. Dan, itulah yang harus kita kikis, sensitivitas-sensitivitas yang tak perlu itu.” (Ernest Prakasa, dikutip dari Muvila.com, 2015)

 

Tags : AwweBrandon SalimErnest PrakasafilmGe PamungkasKevin AnggaraMorgan OeyMuhadklyNgenest
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz