close
Screenshot_82

Tragedi terbunuhnya perwira militer pada peristiwa 30 September 1965 menjadi pemicu pembantaian massal terhadap orang-orang yang diduga bersayap kiri. Rezim Orde Baru menumpas ribuan orang di berbagai daerah di Indonesia demi terciptanya keamanan bangsa dan negara. Ada yang ditahan dan disiksa tanpa diadili. Anak-anak mereka pun hidup tak tenang di bawah bayang-bayang orang tua yang dicap komunis oleh negara.

Nasib tragis tersebut tak hanya diderita masyarakat yang tinggal di Indonesia. Warga negara Indonesia yang sedang berada di luar negeri pada masa itu pun mengalami kesulitan. Ada yang sedang ikut konferensi, ada juga yang sedang menjalani beasiswa pendidikan tinggi. Para delegasi dan mahasiswa dihadapkan pada pilihan jika tidak mengakui pemerintahan Soeharto maka dianggap komunis dan paspor dicabut. Sebagian mengakui kemudian hidup aman. Sebagian menolak dengan konsekuensi hidup tanpa kewarganegaraan, menjalani hidup sebagai eksil politik 1965 atau disebut Eksil 1965.

Kehidupan para Eksil 1965 ini menginsipirasi Visinema Pictures untuk menuturkan sejarah bangsa dengan cara yang berbeda. Cerita cinta mahasiswa yang terjebak gejolak politik hingga tak dapat kembali ke negerinya dikisahkan melalui Surat dari Praha.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=fDQ_WRMfZlU&w=560&h=315]

Surat dari Praha mengisahkan kehidupan Mahdi Jaya (Tyo Pakusadewo) yang menolak Orde Baru dan memilih untuk tetap tinggal di Praha, Rep. Ceko. Janjinya untuk kembali pada kekasih, Sulastri (Widyawati Sofyan) tak bisa ia tepati. Di masa tuanya, ia kedatangan seorang perempuan dari Indonesia, Laras (Julie Estelle), membawa sekotak surat dan meminta tanda tangannya sebagai bukti kotak telah diterima.

Film garapan Angga Dwimas Sasongko ini menghanyutkan penonton dalam kisah pilu Eksil 1965 yang menanggung derita atas kesewenangan Rezim Orde Baru. Jaya yang lulusan sarjana terhambat karirnya sebagai ahli nuklir karena tak berkewarganegaraan. Ia rela menjadi petugas kebersihan untuk tetap hidup.

Sejarah dikuak selapis demi selapis melalui dialog Jaya dan Laras. Lagu-lagu gubahan Glenn Fredly menjadi nada yang mewarnai film ini dengan lirik puitiknya. Keindahan kota Praha menjadi latar yang memanjakan mata penonton.

Upaya pemeran utama patut diapresiasi. Jaya dan Laras dapat bernyanyi sekaligus bermain musik dengan cukup baik. Jaya dengan olah vokalnya, harmonika, gitar dan piano; sementara Laras dengan suara indah dan permainan pianonya.

Sayangnya. produk sponsor digambarkan terlalu mencolok sehingga sedikit mengganggu. Selain itu, dari awal hingga tengah film, emosi cerita dibangun dengan baik namun setelahnya terasa begitu datar. Masa lalu Jaya dituturkan hanya melalui cerita dan surat-surat, mungkin jika ada visualisasi masa lalu akan jadi lebih menarik.

Surat dari Praha layak untuk dinikmati karena sarat nilai sejarah dan politik namun tetap dikemas dengan nada-nada indah dan kisah cinta. Membuka mata generasi muda melalui karya audiovisual yang mudah dicerna. Semoga dapat membuka cakrawala berpikir terhadap dampak sebuah rezim kepada warga negaranya.

(National Geographic Indonesia, 2014) (CNN Indonesia, 2015)

Tags : Angga Dwimas SasongkoEksil 1965Glenn FredlyJulie EstelleSurat dari PrahaTio PakusadewoVisinema PicturesWidyawati Sofyan
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
Nie
Guest

Menarik…

diteraskata
Guest

Terima kasih 🙂

Nengnunuz_
Guest

Barusan nonton film ini. Filmnya sederhana tapi cukup bikin getir. Banyak warga negara kita yang sebenarnya berpotensi besar harus hidup terlunta-lunta di negeri orang tanpa kewarganegaraan pula.

diteraskata
Guest

Nah iya! Sayang banget punya potensi tapi terhambat gejolak politik. Semoga zaman sekarang nggak perlu ada yang kayak gitu lagi ya.