close
Processed with VSCO with x1 preset

Obyek wisata kerap jadi ajang swafoto bagi masyarakat masa kini. Pilih latar menarik, bergaya pose unik, cekrak-cekrik, pilah-pilih lalu unggah ke media sosial. Jangan lupa tambah rupa-rupa tagar agar semakin banyak yang mengklik ganda foto Anda.

Awal Desember 2015, hawa terik namun berawan kelabu menyelimuti kawasan Candi Prambanan. Bersama kawan, saya begitu antusias mengunjungi kawasan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Terlihat dari gerbang masuk, pucuk candi yang menjulang tinggi ke langit.

Tiket masuk sudah kami kantongi. Kami pun bergegas masuk lokasi karena hari nampak mau hujan. Di bagian depan, terpampang jelas keterangan bahwa cagar budaya ini adalah Situs Warisan Dunia yang diakui oleh UNESCO. Terlihat beberapa turis lokal sedang foto berlatar megahnya candi-candi, di sisi lain tampak turis mancanegara mengenakan kain sarung bermotif batik. Terbersit tanya dalam benak saya, “Kok saya nggak pake kain sarung bermotif batik ya?”

Tak lama kemudian, rintik hujan memaksa kami memasuki salah satu bangunan candi. Kaki melangkah menaiki anak tangga yang sesak oleh pengunjung yang juga ingin berteduh. Sampailah di bagian dalam candi, sebuah ruangan dengan patung setinggi 2-3 meter. Entah dewa siapa itu. Tak ada keterangan. Cahaya minim, kami cari-cari informasi di dinding-dinding siapa tahu ada papan keterangan. Nihil.

Pengunjung lokal lainnya juga mengalami kebingungan yang sama. Dari sekian banyak pengunung lokal, tidak ada satu pun yang berpemandu wisata. Setelah beberapa jenak kami mengamati patung dan ukiran di dinding-dinding, datang turis mancanegara bersarung motif batik bersama pemandu wisata. Tak mau ketinggalan, kami curi dengar penjelasan berbahasa Inggris dari pemandu. Sedikit-sedikit mengerti.

Patung di hadapan kami adalah patung Dewa Syiwa. Salah satu dari Trimurti, tiga dewa utama dalam Hindu, yang bertugas melebur segala sesuatu yang usang dan tidak layak untuk dikembalikan ke asalnya. Kami akhirnya sadar sedang berada di candi paling besar sekaligus tertinggi dengan ketinggian mencapai 47 meter.

Hujan di luar semakin deras. Kami tak jua menyewa payung. Malah ikut menyesaki sisi tangga, mengganggu wisatawan lain yang ingin masuk. Setelah hujan mereda, kami turun dan menyadari bahwa terdapat sedikit keterangan di depan candi.

Kawan-kawan terlihat lelah karena sebelumnya lelah mengelilingi Istana Ratu Boko yang luas berbukit-bukit. Tak tahu harus ke candi mana lagi. Sebagian terpecah entah ke mana. Di tengah kebingungan tersebut, pintu keluar menjadi pilihan.

Bayangan mengenai legenda Loro Jonggrang, dewa-dewa Hindu, Kisah Ramayana dan Krishnayana yang reliefnya menghiasi dinding-dinding candi pun buyar sudah. Sekelumit kisah tersebut pernah menjadi latar untuk novel dari penulis Ayu Utami. Novel-novel tersebut membuat saya membayangkan kisah-kisah tersebut dituturkan langsung saat saya berada di lokasi. Jauh-jauh tempuh perjalanan dari Jakarta, sekarang saya hanya bisa gigit jari. Informasi legenda dan kisah tersebut terpaksa saya cari sendiri melalui penelusuran di mesin pencari.

Saya langsung mengutuki diri sendiri yang lalai untuk menyewa jasa pemandu wisata. Mengingat-ingat kembali saat di loket, petugas yang berjaga tidak juga menawarkan pemandu. Apa dipikirnya wisatawan Indonesia hanya datang untuk berfoto, mengunggahnya, merasa eksis dan tak peduli pada kisah di balik Candi Prambanan? Mengapa wisatawan mancanegara bersarung kain motif batik dan saya tidak?

Penasaran, saya bertanya kepada dua orang teman yang pernah mengunjungi Prambanan. Apakah mereka memakai pemandu wisata, keduanya kompak menjawab tidak. Saya sendiri tak keberatan memberi tip untuk pemandu wisata yang piawai menceritakan sejarah, legenda hingga kisah yang ditatahkan dalam bentuk relief.

Akan tetapi, kalau ketiadaan penawaran kepada turis lokal mengenai jasa pemandu wisata, pantas saja Candi Prambanan hanya menjadi objek wisata untuk swafoto. Menjadi ajang generasi millenial untuk eksis dan mendapat banyak jumlah like atau love di media sosial. Apresiasi terhadap budaya dikhawatirkan kian luntur jika masyarakat Indonesia sendiri tak mengenali apalagi memahami budayanya. Alih-alih, turis mancananegara malah lebih mengagumi dan mengapreasiasi budaya nusantara.

Tags : cagar budayacandiCandi PrambananDewa Syiwagenerasi millenialpemandu wisata
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar