close
Processed with VSCO with hb2 preset

Sebuah karya seni dapat bertransformasi menjadi karya seni yang lain. Tak ubahnya juga puisi Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono. Bermula dari puisi pada tahun 1989, berlanjut menjadi lagu hingga komik. Seperempat abad kemudian, puisi tersebut bertranformasi dalam bentuk novel pada tahun 2015. Nantinya pun akan dapat dinikmati dalam bentuk audiovisual, sebuah film yang kabarnya akan rilis Juni tahun ini.

Novel Hujan Bulan Juni menceritakan kegelisahan Sarwono, dosen sekaligus peneliti di Program Studi Antropologi Universitas Indonesia. Pingkan merupakan adik sahabatnya, Toar, yang telah ia kenal bertahun-tahun dan akan melanjutkan studi pascasarjana ke Jepang. Novel ini menuturkan bagaimana pergolakan batin kedua insan yang dimabuk asmara namun terhalang keyakinan, budaya hingga pilihan dalam melanjutkan pendidikan.

Hujan Bulan Juni merupakan novel Sapardi pertama yang saya baca. Membaca puisinya membuat siapapun berekspektaksi novelnya pun akan sedemikian puitik. Ekspektasi tersebut tak meleset jauh. Dalam novel ini bertabur kata-kata puitik khas Sapardi dalam porsi yang pas. Penggambaran perasaan tokoh pun diceritakan dengan apik hingga membuat pembaca larut ke dalam cerita.

Sayangnya, ada beberapa istilah yang disematkan namun tidak dijelaskan dengan baik dalam cerita. Istilah tersebut terdiri dari: liyan, WA, pejah gesang ndherek, “aplikasi keynote ketika build out“, penulisan unsur oksigen 02 (seharusnya O2), dan selfi tanpa cetak miring (selfie atau swafoto). Penulis tidak menjelaskan apakah WA atau WhatsApp (aplikasi perpesanan dengan jaringan internet), sepanjang novel hanya ditulis mengirim WA atau dilampirkan di WA. Untuk pembaca yang tidak memakai smartphone, kemungkinan akan bertanya-tanya apa itu WA. Begitu juga dengan istilah liyan, pejah gesang ndherek, dan “aplikasi keynote ketika build out“, yang cukup mengganggu kenikmatan dalam membaca dan berimajinasi.

Selain itu, penulisan kalimat-kalimat panjang tanpa disertai tanda baca membuat pembaca cukup lelah karena tidak adanya jeda. Entah paragraf tersebut disertakan sebagai puisi di dalam paragraf atau puisi yang lupa diberikan baris baru ke bawah kalimatnya.

Meskipun demikian, novel setebal 133 halaman ini layak dinikmati sebagai bacaan akhir pekan. Ringan namun tetap berkesan. Ceritanya sederhana dituturkan dengan begitu menawan. Sebuah novel yang sayang kalau dilewatkan.

Judul: Hujan Bulan Juni

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan pertama: Juni 2015

Editor: Mirna Yulistianti

Desainer cover: Iwan Gunawan

Simak secuplik kutipan dari novel Hujan Bulan Juni:

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan nafasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruang kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin. (Sapardi Djoko Damono, Novel Hujan Bulan Juni, hal. 66)

Tags : GramediaHujan Bulan Juninovelnovel Hujan Bulan JuniSapardi Djoko Damono
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

3 Comments on "Novel Hujan Bulan Juni: Ketika Puisi Bertransformasi"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Nunik Utami
Guest

Cum 113 halaman ya? Nggak terlalu panjang dibandingkan novel2 lain. Terima kasih reviewnya, ya 🙂

Tuty prihartiny
Guest

Untuk saya yang bukan pembaca novel, review kakmar cukup bagi saya memahami novel tsb. Tks kak Maria