Pustaka

Inteligensi Embun Pagi: Akhir Sebuah Penantian

Supernova: Intelijensi Embun Pagi

Sebuah penantian telah digenapi. Seri Supernova terakhir, Inteligensi Embun Pagi (IEP), lahir dengan harap-harap cemas pembaca yang menahun di penghujung Februari 2016. Novel karya Dewi “Dee” Lestari Simangunsong ini kabarnya meraih 10 ribu pre order sebelum dirilis (Beritagar.id).

Sebelum membaca seri ini, ada baiknya membaca lima seri Supernova sebelumnya yang terbit sejak 2001. Terdiri dari sekumpulan best seller berjudul Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh  (2001); Akar (2002); Petir (2004); Partikel (2012); dan Gelombang (2014). Seri pertama Supernova sukses memikat rumah produksi untuk diangkat ke layar lebar yang rilis 11 Desember 2014. Berhasil menjadi film Indonesia terlaris nomor 8 pada tahun 2014 dengan meraup 501.258 penonton (filmindonesia.or.id).

Supernova menceritakan tentang perjalanan spiritual anak muda dengan berbagai lika-likunya. Anak muda yang mempertanyakan semesta. Di tiap seri, personil trio vokal Rida Sita Dewi ini mengupas latar belakang dan jalan hidup para tokoh utama. Karakter tiap tokoh disajikan dengan begitu dalam dan penceritaan yang mengalir.

IEP merupakan titik temu tokoh-tokoh inti yang tersebar dari berbagai belahan dunia. Para Peretas seperti Bodhi, Elektra, Zarah, Gio, dan Alfa  berkumpul menjadi satu untuk menjalankan sebuah misi penting bagi dunia. Tak disangka-sangka, tokoh pendukung lainnya ternyata memiliki peran penting dalam mewujudkan misi tersebut. Ada yang berperan sebagai Infiltran, Salvara, dan Umbra. Perjuangan, pengorbanan, kesetiakawanan hingga pengkhianatan silih berganti memberi warna pada seri terakhir Supernova. Dee menyuguhkan plot cerita yang kompleks dan penuh kejutan. Ketegangan demi ketegangan dirangkai dalam 99 keping cerita setebal 690 halaman.

Di tengah perjalanan misi yang mendebarkan, perempuan kelahiran 20 Januari 1976 ini tetap memberikan percakapan yang mengundang gelak tawa. Beberapa kali tergelak karena lontaran-lontaran jenaka dari Kell, Mas Kas hingga ibunda Alfa. Lepas dari hal tersebut, IEP memang didominasi oleh percakapan daripada narasi. Imajinasi pembaca digiring melalui konversasi antarkarakter.

Cerita fiksi mengenai penciptaan seisi bumi ini ada baiknya dinikmati saat hari libur. Tak akan bisa berhenti untuk terus membacanya. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menuntaskan ratusan halaman. Paragraf terakhir di tiap keping cerita menerbitkan rasa penasaran yang membuncah untuk menguak berbagai misteri. Meski nantinya harus menanggung kecewa karena Supernova harus terhenti. Meninggalkan kecamuk rasa yang tak terdefinisi.

Judul: Supernova: Inteligensi Embun Pagi

Penulis: Dee Lestari

Penerbit: Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)

Cetakan Pertama: Februari 2016

Penyunting: Adham T. Fusama

Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah

You may also like

1 Comment

  1. Mamaknya Alfa paling epic emang

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pustaka