close
IMG_0748

Petugas meniup panjang suling lokomotif. Tanda kereta api siap berangkat. Beranjak dari stasiun mengantarkan penumpang ke kota tujuan. 

Terik matahari Sabtu (19/03/2016) siang meluruhkan bulir-bulir keringat. Antrian panjang pemeriksaan tiket diisi beragam penumpang dengan bermacam-macam barang bawaan. Siapkan tiket kereta dan kartu tanda pengenal saat antri agar tak repot mencari lagi di hadapan petugas.

Tas carrier merah berkapasitas 55 liter menggantung di punggung. Dengan tas selempang kecil tempat barang-barang penting dan goodie bag untuk membawa cemilan selama perjalanan di kereta. Perjalanan menuju Nusa Tenggara dimulai dari sini. Kembara Nusa Tenggara.

Kereta ekonomi Kertajaya melaju tepat pukul 14.00 meninggalkan Jakarta. Mesin pendingin di gerbong terasa seperti tidak berfungsi. Keringat masih terus keluar. Aktivitas semua penumpang pun hanya berkipas-kipas untuk mendapat udara yang lebih segar.

Lelah menjalari tubuh. Lama tak berpergian jauh membuat saya menghabiskan waktu panjang untuk berkemas. Semalam wara-wiri mencari berbagai barang yang dibutuhkan. Cetak peta pariwisata, membeli obat pribadi dan P3K dasar, pulsa hingga pelembab wajah pelindung paparan terik matahari kawasan Nusa Tenggara. Saya berkemas sejak malam hingga pagi menjelang. Terpejam hanya dua jam.

Bantal sewaan seharga lima ribu rupiah menjadi incaran. Setelah pemeriksaan tiket, tidur menjadi hal yang paling saya tunggu-tunggu. Pasang earphone, setel playlist pengantar tidur, atur posisi bantal dan mimpi pun menyambut pejaman mata. Saya terlelap sepanjang sisa hari menuju malam.

Gerbong yang saya tempati berisi penumpang yang bervariasi. Orang tua, muda-mudi, anak kecil hingga adik bayi. Ada yang bersama keluarga, pasangan maupun seorang diri seperti saya. Ada beberapa aktivitas yang biasa dilakukan untuk membunuh waktu di kereta. Dimulai dengan yang sibuk mengutak-atik smartphone seperti main game, browsing, mendengarkan musik (kadang ada yang menyetel musik tanpa earphone sampai semua orang segerbong bisa dengar, bahkan satu gerbong ada 1-3 orang yang berulah seperti ini sehingga sangat mengganggu kenyamanan) dan kencang-kencang menelepon para kerabat. Ada yang asyik berbincang dengan rekan satu rombongan atau penumpang yang baru dikenal di atas kereta; ada yang menonton film melalui laptop; ada ibu yang menggendong sambil menyusui anaknya; ada yang tidur di bawah bangku kereta beralas kardus; saya sendiri lebih sering membaca Norwegian Wood dari Haruki Murakami. Di toilet, biasanya ada yang diam-diam merokok supaya tidak ketahuan petugas.

Pedagang asongan yang dulu sering berkeliaran dari Stasiun Cirebon sudah tidak tampak lagi. Hanya ada penjual makanan dan minuman resmi berseragam dari PT KAI. Meskipun pedagang asongan berulang kali membangunkan penumpang namun kehadirannya diharapkan untuk meredam rasa haus dan lapar dengan harga terjangkau. Ucapkan selamat tinggal kepada pecel ayam, kue-kue basah dan kering, mi instan dan aneka rupa minuman yang acapkali mereka jajakan. Lebih baik membawa perbekalan sendiri jika mau berhemat.

Kereta api menghadirkan manusia dari berbagai lapisan. Di kereta ekonomi, penumpang saling berhadapan. Cerita-cerita kehidupan manusia akan bergulir dari sebuah sapa.

“Mau ke mana?”

Sebuah tanya yang menjadi awal dari sebuah perbincangan. Seorang ibu di hadapan saya melakukan hal tersebut. Dari perbincangan kami, beliau bercerita bahwa suaminya telah meninggal beberapa tahun lalu. Tersisa beliau dengan seorang anak perempuan yang harus ia hidupi sendirian di Surabaya. Sehari-harinya, ia mengajar di sekolah dasar sekaligus berwirausaha dengan berjualan barang kebutuhan rumah tangga.

Mengetahui saya akan ke Nusa Tenggara Timur sendirian, ia menasehati saya.

“Jangan cepat percaya sama orang. Tetap waspada meskipun kelihatannya seperti orang baik. Percaya sama insting kamu.”. 

Lain lagi cerita penumpang di sebelah saya. Lelaki usia 20-an bersepatu trekking, gelang bergelimang di tangan dan buff bertengger di kepala yang mengisyaratkan bahwa ia seorang petualang. Benar saja, melalui perbincangan singkat ditemukan bahwa ia memang anggota pecinta alam yang menjelajah puncak-puncak gunung tanah Jawa dan pernah berkelana di Lombok selama tiga bulan. Pembicaraan mengalir, berbagi pengalaman hidup, memperkaya rasa.

Tanpa terasa, hampir 12 jam berlalu sejak keberangkatan di Stasiun Senen. Sabtu beranjak menjadi Minggu, waktu menunjukkan pukul 1.30. Petugas mengingatkan penumpang untuk bersiap turun di pemberhentian terakhir. Barang-barang diturunkan dari rak bagasi. Dingin malam menjemput penumpang di Stasiun Pasarturi, Surabaya. Ojek yang saya pesan melalui aplikasi mengantarkan ke tempat tinggal kawan baik di daerah Gubeng.

Kota pahlawan menjadi titik transit sebelum perjalanan panjang menuju destinasi utama: Nusa Tenggara Timur. 

p.s.: tulisan disusun di Rumah Baku Peduli, Labuan Bajo.

Tags : JakartakeretaperjalananstasiunStasiun Pasar SenenStasiun PasarturiSurabaya
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz