close
IMG_0819

“Mbak, mohon maaf sebelumnya. Kapal Nggapulu tujuan Larantuka yang Mbak pesan sedang diperbaiki, jadi tiket yang Mbak pesan belum bisa kami sediakan”, ujar petugas agen perjalanan di ujung telepon dengan nada bersalah.

“Kok bisa, Mas? Gimana dong saya udah pesan tiket kereta ke Surabaya nih. Kalo begitu, ganti tiket ke KM Awu sampai Ende biar saya bisa sampai Larantuka tepat waktu,” jawab saya dengan kepasrahan.

Melakukan perjalanan sendirian memang merepotkan. Mengurus persiapan tiket dan barang-barang kebutuhan sungguh bikin kewalahan. Apalagi perjalanan yang dilakukan tidak hanya 1-2 hari, bisa mencapai 2-3 minggu perjalanan. Harus cermat mengatur pengeluaran agar tidak kebobolan sebelum kembali ke rumah.

Salah satu akses yang bersahabat bagi kantong pejalan menuju timur Indonesia adalah menggunakan kapal laut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tiket pesawat ke kawasan timur negeri ini berkali lipat lebih tinggi daripada ke Malaysia atau Singapura yang acap kali diumbar harga promosi. Strategi yang sukses membuat banyak orang tergoda untuk mencicipi rasanya ke luar negeri.

Ada kawan yang menggoyah keyakinan saya dengan bertanya, “Nggak mau ke Singapur atau Malaysia aja? Cukup lho dengan dana segitu.”

Saya jawab dengan senyuman dan berkata, “masih mau lihat Indonesia dulu”.

Beberapa minggu sebelum perjalanan, hampir setiap malam saya berkarib dengan mesin pencari untuk mengumpulkan informasi destinasi dan biaya perjalanan. Semakin banyak mengetahui keindahan Nusa Tenggara Timur, semakin panjang daftar destinasi. Membuat saya kelimpungan menentukan lokasi dan estimasi biaya. Rasanya semua ingin dikunjungi!

Perencanaan awal saya akan melalui jalur darat dengan kereta Jakarta – Banyuwangi, dilanjutkan dengan sambung menyambung naik kapal feri dan bis antar kota. Hitung-hitung ongkos, masih cukup besar dan belum termasuk biaya makan. Jika tidak tiba tepat waktu di terminal sesuai jadwal bis, terpaksa harus menunggu berjam-jam (bahkan bisa menginap) untuk menunggu bis yang diinginkan.

Pilihan jatuh pada penyedia jasa tranportasi laut. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menyediakan jasa transportasi dengan harga tiket yang terbilang paling murah dibanding transportasi darat, apalagi udara. Kecepatan berbanding lurus dengan harga. Ingin cepat, naik pesawat. Ingin murah tinggal sediakan waktu seluang mungkin karena kapal butuh waktu berhari-hari mengarungi lautan.

Drama perjalanan dimulai ketika pemesanan tiket…

KM Nggapulu keberangkatan Surabaya dengan tujuan Larantuka merupakan hasil hitung-hitung yang paling efisien versi saya. Tidak sampai 400 ribu rupiah, kita sudah berhasil menginjakkan kaki di pulau yang terkenal dengan reptil purba komodo. Sekitar dua minggu sebelum perjalanan, saya pesan tiket melalui agen resmi Pelni di Bekasi. Di hari kedatangan saya, tiket tidak bisa langsung diproses karena ada kendala teknis di situs Pelni. Tunggu 1-2 hari lagi, saran petugas agen.

Seminggu berlalu, tidak ada kabar dari agen perjalanan. Padahal, saya sudah memesan tiket kereta ekonomi menuju Surabaya. Saya pun berinisiatif memastikan. Masih terkendala katanya, besoknya akan dikabari lagi.

Was-was itu pasti. Dikarenakan, salah satu tujuan saya ke Flores adalah mengikuti Pekan Suci Semana Santa di Larantuka. Jadwal tiba KM Nggapulu tanggal 23 Maret 2016 adalah tanggal yang tepat untuk mengikuti prosesi cukup awal. KM Nggapulu berangkat langsung dari Surabaya (21/03/2016) menuju Maumere, dilanjutkan Larantuka. Sementara KM Awu membutuhkan waktu lima hari (20-25/3/2016) menuju Larantuka karena banyak berlabuh di Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Esoknya, betapa kaget saya ketika dikabari KM Nggapulu tidak beroperasi karena sedang direparasi. Buyar sudah semua itinerary yang sudah saya susun. Alternatif yang bisa saya ambil agar tetap bisa mengikuti prosesi adalah dengan KM Awu tetapi berlabuh di Ende (Kamis pagi, 24/3) dan melanjutkan dengan bis menuju Larantuka. Setidaknya, masih bisa mengikuti Jumat Agung di Larantuka.

Mau tidak mau, saya melakukan pemesanan ulang dengan tiket KM Awu tujuan Ende. Mungkin memang sudah digariskan seperti ini jalannya, batin saya. Semoga hari berikutnya dapat kabar baik, jangan sampai KM Awu sold out karena sudah kurang 4 hari dari jadwal keberangkatan.

Tiket Kertajaya untuk tanggal 19/3 tampaknya harus saya batalkan dan membeli tiket baru dengan keberangkatan 18/3. Jika memaksakan berangkat di tanggal 19/3, terlalu berdekatan waktunya dengan jadwal kapal. Saya tak ada waktu untuk beristirahat.

Sambil terus memenuhi daftar barang-barang kebutuhan perjalanan, saya cuma bisa berdoa agar besok mendapat kabar baik dari agen perjalanan. Kalau memang tidak dapat tiket kapal, terpaksa melalui jalur darat dengan berbagai konsekuensinya.

Lagi-lagi saya terperanjat mendengar kabar dari agen perjalanan. Apa yang sudah saya relakan, kini kembali dan mewujudkan apa yang saya rencanakan. Puji Tuhan, KM Nggapulu selesai direparasi dan bisa beroperasi sesuai jadwal. Saya tak perlu re-schedule jadwal kereta.

Lepas rasanya dari cemas. Tiba waktunya untuk berkemas-kemas.

Larantuka, tunggu saya di sana!

 

Tags : kapalkapal lautkeretaKertajayaKM NggapuluPelayaran Nasional IndonesiaPelniperjalanansolo travelingtiket
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of