close
Capture 1

“Beneran gapapa naik kapal sendirian?”

“Nggak takut tenggelam nanti di tengah laut?

“Kalo sendirian, barang-barangnya siapa yang jagain?”

Begitu banyak perhatian dari teman-teman yang mengetahui rencana keberangkatan saya ke Flores. Dari dukungan moral, pinjaman perlengkapan, akomodasi dan transportasi selama di Surabaya hingga pertanyaan-pertanyaan yang cukup menggoyahkan iman. Mencuatkan kekhawatiran yang membuat saya berpikir ulang.

Apa jadinya jika terus dihantui ketakutan-ketakutan? Dalam perjalanan, butuh keberanian untuk melangkah. The journey of a thousand miles begin with a single step, titah Lao Tzu. Sebelum melangkah, kita dapat melakukan kalkulasi terhadap kemungkinan terburuk dan menyiapkan berbagai antisipasi. Jika terus dirundung pikiran negatif, walhasil kita tak akan ke mana-mana. Hanya akan jadi katak dalam tempurung.

Senin pagi (21/03/2016) di kota pimpinan Tri Rismaharini, saya sudah bersiap menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Sebelum berangkat, terlebih dahulu sarapan lontong sayur di dekat tempat tinggal seorang karib yang menampung saya selama di kota ini. Kebutuhan jasmani terpenuhi. Tiba waktu untuk saya meninggalkan tanah Jawa.

Sewaktu kecil, mungkin sekitar usia empat tahun, pengalaman pertama saya menginjak pelabuhan ketika mengantarkan kerabat yang akan pergi luar pulau. Di ingatan saya, Tanjung Priok saat itu sesak sekali, begitu banyak orang yang menyulitkan siapapun untuk bergerak. Selebihnya saya tidak terlalu ingat, samar-samar. Hanya lambaian tangan perpisahan yang masih tersisa di ingatan.

Pertama kali naik kapal besar adalah kapal feri dari Merak menuju Bakauheni di tahun 2012. Pertama kalinya ke sebuah pelabuhan dan menyeberangi lautan ke tanah Sumatera. Pelabuhan masih riuh ramai, pedagang di mana-mana, bis dan kendaraan lain lalu lalang memenuhi jalanan, orang-orang bergegas naik ke kapal. Bersama rombongan pecinta alam fakultas teknik, saya menyeberangi Selat Sunda sambil menikmati kerlip kota dan ditemani semilir angin malam di geladak kapal.

KRI Teluk Sibolga merupakan kapal kedua yang pernah saya tumpangi. Kapal perang negara yang mengantarkan saya dari Bitung menuju Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. Perjuangan mengarungi laut Celebes selama 18 jam  ini merupakan bagian dari Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 bersama rombongan mahasiswa, unsur militer TNI dan Polri. Para perempuan yang hanya sembilan orang mendapatkan ruangan khusus di bagian dalam kapal, sementara pria tidur di geladak beratapkan terpal dan berteman angin laut.

Dalam pengembaraan menuju nusa tenggara, saya tidak bersama siapapun. Tidak ada rombongan, tidak teman seperjalanan. Kekhawatiran memang sempat terbersit tapi saya hiraukan. Jika ragu-ragu, lebih baik kembali, menurut jargon militer. Kali ini, saya harus melangkah pasti.

Sesampainya di Tanjung Perak, perasaan tak karuan bermunculan. Melalui pelabuhan inilah saya akan menuju Larantuka. Di gerbang pelabuhan, buruh angkut dengan rompi bernomor punggung berebutan menawarkan jasa. Weni, kawan saya, mengantar sampai antrian penumpang masuk terminal. Kemudian, memberikan pelukan tanda perpisahan.

“Hati-hati di jalan ya. Kabar-kabari selama di perjalanan”, pesannya sebelum meninggalkan saya sendirian di pelabuhan.

Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara tampak bersih cemerlang. Terbilang sepi dari penumpang yang biasanya berseliweran. Ketika di parkiran motor, petugas kemanan berujar bahwa kali ini kapal tidak penuh seperti biasanya. Meyakinkan saya kalau nanti akan dapat tempat.

Sepeninggal Weni, saya masuk antrian pemeriksaan barang dengan pemandangan wajah-wajah khas Indonesia timur. Barang-barang penumpang diletakkan di conveyor belt untuk diperiksa dengan sinar laser. Setelah itu, saya pun menuju loket pemeriksaan tiket dan mendapat cap ungu di tangan.

Memasuki ruang tunggu, calon penumpang duduk lesehan di lantai. Banyak dari mereka dengan barang bawaan menumpuk di atas troli. Rasa-rasanya cuma saya yang bawaannya paling sedikit dibanding yang lain. Tas carrier merah berkapasitas 55 liter.

Mata saya berkeliling mencari tempat untuk menunggu. Tampak seorang perempuan yang sedang duduk sendiri dan di sampingnya terdapat tempat kosong. Saya menghampiri lokasi tersebut. Seusai melepaskan tas, saya membuka perbincangan. Ternyata perempuan tersebut juga sendirian dan hendak mencari rejeki di Manokwari. Yanti namanya, saya panggil Mbak Yanti karena memang lebih tua dari saya. Di tengah perbincangan, datang lagi perempuan muda beserta troli penuh kardus. Sontak kami berkenalan satu sama lain. Ia biasa dipanggil Nesty. Kami bertiga sepakat untuk mencari tempat bersama-sama agar bisa saling menjaga.

Sekitar 30 menit menanti, pintu terminal dibuka, penumpang dipersilakan masuk kapal. Buruh angkut di luar gedung terminal sudah menunggu penumpang yang memakai jasa mereka. Di dermaga, saya mendongakkan kepala melihat gagahnya KM Nggapulu . Kapal paling besar yang pernah saya lihat. Sekilas, seperti kapal Titanic yang karam di awal abad 20.

IMG_0889
KM Nggapulu

Mbak Yanti dan Nesty memakai jasa buruh angkut yang sekaligus mencarikan tempat untuk kami bertiga. Berdasarkan cerita yang pernah saya dengar, penumpang bisa sampai tidur lesehan di geladak dan sisi-sisi kapal. Fenomena ini biasanya terjadi ketika musim mudik Lebaran tiba. Syukurlah kali ini kami dapat tempat tidur dengan mudah. Tempat tidur di KM Nggapulu berjejer rapi seperti di barak namun tanpa bantal. Tiap barisnya tersedia enam tempat tidur dengan tiga colokan antar dua tempat tidur. Kabar baik untuk penyuka serangga, di sela-sela kasur hidup serangga kecil untuk menemani lelap tidur kita.

Keberangkatan kapal masih dua jam ke depan. Penjual bermacam barang bergiliran menawarkan barang dagangan mereka. Normalnya berjualan makanan, minuman, buah-buahan tapi ajaibnya ada yang sampai jual pakaian dan produk kecantikan.

Pelayaran Surabaya – Larantuka membutuhkan waktu sekitar dua hari. Berangkat Senin (21/03) dan tiba Rabu pagi (23/03). Jika memilih tujuan Papua, bisa memakan waktu hingga satu minggu. Pasti terbayang kebosanan yang akan menggelayuti selama pelayaran. Nah, apa saja yang bisa dilakukan selama di kapal?

  1. Tidur. Pembunuh waktu paling efektif. Terlampau lelah perjalanan dari kota megapolitan membuat saya begitu mudah nyenyak di hari pertama meski harus tidur bersama serangga-serangga yang berkeliaran. Kadang kalau sudah tidak tahu mau berbuat apa, tidur menjadi jawaban.
  2. Bincang-bincang. Berbagi pengalaman dan informasi dengan penumpang lain yang berasal dari berbagai daerah. Memetakan Indonesia dari sebuah ruang bernama dek kapal.
  3. Berburu matahari terbit dan terbenam. Dalam perjalanan, kita akan melewati waktu Indonesia tengah (WITA). Cocokkan jam dengan pengumuman yang diberikan awak kapal agar tidak tertinggal pemandangan matahari yang terbit dan terbenam dari tengah lautan yang luas terbentang.
  4. Membaca buku. Saya membawa dua buku di perjalanan kali ini. Sebuah novel dari penulis kenamaan Jepang dan sebuah buku panduan menulis kreatif karya penulis Indonesia. Betapa indahnya ketika membaca buku sambil diterpa sepoi angin dengan pemandangan laut dan langit biru yang menghampar di depan mata.
  5. Menulis. Menulis apapun seperti catatan perjalanan, puisi hingga cerita fiksi. Saya sendiri  mendapat banyak inspirasi untuk menulis selama berada di kapal.
  6. Mengisi TTS alias teka-teki silang. Bagi yang suka mengasah ketajaman otak, bisa membawa TTS untuk mengisi waktu luang selama di kapal. Dijamin bikin lupa waktu!
  7. Menonton film. Saya juga tidak menyangka ada bioskop mini di kapal ini. Ada jam-jam tertentu untuk pemutaran film, biasanya setelah jam pembagian makanan. Siapkan Rp 15.000 untuk membeli tiket film dengan bonus sensasi menonton bioskop yang terombang-ambing gelombang.
  8. Bermain gadget? Boleh saja. Namun sinyal yang timbul tenggelam menjadi penghalang bagi yang ingin berkomunikasi atau berselancar di dunia maya. Minimal bisa main game offline atau mendengarkan musik selama di perjalanan.

“Jangan bayangin makanan yang enak-enak ya di kapal”.

Sebuah ultimatum dari orang yang sudah berpengalaman naik kapal laut. Sialnya, ultimatum tersebut terbukti benar. Rasa makanannya menurunkan selera makan. Eits, tapi itu sudah saya siasati dengan membawa cabai bubuk Bon Cabe dan lauk kering kentang buatan ibunda. Cemilan dan minuman seduhan juga saya persiapkan. Harga cemilan di kapal 2-3 kali lipat dari harga normal.

Terdapat juga fasilitas ruangan untuk ibu menyusui. Interior kapal diisi dengan papan petunjuk arah, papan informasi bagian-bagian kapal, instruksi keselamatan kondisi darurat dan ukiran atau lukisan bernuansa Papua. Kondisi kamar mandi dan toilet masih kurang layak. Sering saya saya temui toilet mampet dan penerangan redup.

Hal yang menarik ketika berbagi cerita dengan penumpang lainnya adalah menambah khazanah cerita tentang kehidupan. Ada Mbak Yanti, perempuan asal Surabaya  yang merantau ke Manokwari untuk bekerja. Dalam perjalanan ke pelabuhan, Mbak Yanti mengalami musibah kecopetan di bis karena lengah saat ada penumpang yang berpura-pura muntah.  Sementara  Nesty telah enam tahun bekerja di Malang dan sekarang berniat kembali menetap di Larantuka untuk membuka usaha.

Sebuah keluarga yang satu deretan tempat tidur dengan kami, berasal dari Jawa Tengah dan mengadu nasib di Papua dengan berjualan kerupuk. Bahan mentahnya dikirim dari Jawa, dimasak di Papua kemudian dititipkan ke warung-warung sekitar tempat tinggal mereka. Lain lagi dengan dua nona di seberang tempat tidur kami yang berasal dari Maumere dan Bajawa. Nona dari Maumere sama seperti Nesty yang mencari nafkah hingga ke Malang dan kini kembali ke kampung  halaman. Sementara, nona dari Bajawa baru selesai pendidikan keperawatan dan ingin mengabdi di daerah asalnya.

Perjalanan ribuan mil dari Jakarta sampai Larantuka akan segera berakhir. Selasa malam (22/3), kapal tiba di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Berlabuh sekitar dua jam untuk naik dan turunkan penumpang. Kesempatan ini kami gunakan untuk berjalan-jalan di sekitar pelabuhan. Sekadar untuk membeli cemilan atau mencari udara segar. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Flores. Meski gelap malam yang meyambut, tak terlihat apa-apa.

Seusai mencari udara segar, kami membereskan barang-barang karena beberapa jam lagi akan tiba di Larantuka. Setelah berkemas, saya terpejam agar segar saat pagi nanti. Tidak sabar rasanya menjejakkan kaki di ujung paling timur nusa bunga.

Hari berganti menjadi Rabu. Sayup-sayup terdengar pengumuman bahwa kapal akan segera bersandar. Di luar sudah tampak sinar matahari yang memberi warna hijau gunung gemunung dan pulau-pulau yang mengelilingi Larantuka. Dengan keadaan baru bangun, saya menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Tidak lama setelahnya, telepon genggam saya berdering. Telepon dari ibu teman saya yang menanyakan saya sudah di mana sampai jam berapa. Sekitar jam 7, jawab saya. Beliau membalas dengan,

“Nanti jangan ke mana-mana ya. Akan ada yang jemput. Nanti Tante kasih nomornya.” 

Benar kata Lao Tzu, perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah. Ya, dimulai dengan satu langkah yang pasti.   

Tags : Floreskapalkapal lautKM NggapuluLarantukaNusa Tenggara TimurPapuapelabuhanPelayaran Nasional IndonesiaPelnisolo travelingSurabayaTanjung Perak
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
riennaku
Guest

wahh, 2 hari 2 malam ya mba…sy belum pernah naik kapal jarak jauh, paling lama 5 jam naik kapal cepat dr Muaro Padang ke P. Siberut.

diteraskata
Guest

Tepatnya 33 jam, Mbak, Kapan-kapan dicoba naik kapal jarak jauh. Seru!

Pulau Siberu Itu Kepulauan Mentawai ya, Mbak? Gimana perjalanannya? Berombak banget nggak?