close
IMG_0881

Tak pernah terlintas untuk menyambangi kawasan paling timur di semenanjung Flores. Destinasi wisata yang identik dengan Flores antara lain Kelimutu, Taman Nasional Komodo dan baru-baru ini sedang tren, yaitu Kampung Adat Wae Rebo. Namun, Pekan Suci Semana Santa telah menghipnotis saya untuk bertandang ke kota yang disebut sebagai Tanjung Bunga

Puluhan ribu orang dari berbagai penjuru nusantara dan dunia dikabarkan berbondong-bondong ke Larantuka. Tujuannya hanya satu, melakukan ritual Semana Santa yang telah berlangsung selama lima abad dan satu-satunya di dunia. Penginapan pun sering kali dipesan setahun sebelum acara. Begitu tinggi minat umat untuk ikut serta dalam perayaan ini. Bagaimana dengan saya yang baru beberapa minggu sebelum acara merencanakan ke kota ini? Sudah pasti kehabisan penginapan komersial.

Niat baik selalu diberikan jalan. Beruntung kawan saya punya teman yang asli Larantuka. Saya diberikan kontak temannya tersebut sehingga bisa berkorespondensi untuk bertanya mengenai kota kelahiran dan tempat tinggalnya. Saat ini, teman dari kawan saya sedang bekerja di Probolinggo. Meski begitu, keluarganya masih menetap di Larantuka.

Awalnya saya hanya tanya tentang transportasi dan akomodasi. Jika ada saudara atau temannya yang berkenan, mungkin bisa mengantarkan saya ke sekolah atau balai kelurahan yang memang dikhususkan untuk menampung peziarah yang tidak kebagian penginapan. Akan tetapi, Tuhan berkendak lain. Saya malah ditawarkan untuk menginap di rumah keluarganya di daerah Podor yang tidak jauh dari pusat kota.

Betapa bersyukurnya saya mendapat rumah untuk berteduh di awal perjalanan ini. Saya pun diberikan nomor telepon ibu dari teman saya. Beliau begitu perhatian karena terus menanyakan saya sudah sampai di mana. Awalnya saya akan menebeng dengan teman satu kapal, yaitu Nesty (baca tulisan sebelumnya) yang juga turun di Larantuka. Tanpa saya sangka, ada yang akan menjemput saya di pelabuhan.

Rabu pagi (23/03/2016), cerah matahari menyambut kedatangan KM Nggapulu yang berlayar dari Tanjung Perak, Surabaya. Kapal bersandar diikuti dengan masuknya buruh angkut yang akan memindahkan barang-barang penumpang. Sempat terjadi adu mulut antarburuh karena memperebutkan bagasi penumpang yang membuat saya ketakutan. Seperti orang akan berkelahi.

Saya berpikir bahwa saya akan dijemput dengan motor, batin saya. Kaget bukan kepalang karena saya dijemput dengan pick up Ford putih berkabin ganda. Seperti tamu penting saja, padahal saya hanya pejalan dengan uang terbatas yang ingin mengikuti ritual di Reinha Rosari

Hari pertama saya habiskan untuk beristirahat setelah hampir dua hari terombang-ambing di kapal. Lelah sekali setelah perjalanan yang panjang melintasi Bali, Lombok dan Sumbawa. Malamnya, mengikuti misa Rabu Trewa di gereja St. Ignasius Loyola, Waibalun.

Kamis (24/03/2016), saya diantarkan ke rumah kerabat pemilik rumah yang mempunyai kapal dan akan melakukan ziarah ke Pulau Adonara. Pagi-pagi saya bangun dan segera bersiap-siap. Bersama Om Sofyan dan keluarga besarnya, kami menuju pelabuhan feri Larantuka. Menyusuri semenanjung Larantuka menuju Kapela Senhor di Desa Wureh, Adonara.

IMG_0992-tile
Kapela Senhor di Wureh, Pulau Adonara

Terik matahari menyengat kulit kami. Jam menunjukkan pukul 11 siang. Ada tiket masuk sebesar Rp 2.000 yang harus dibayarkan. Di hadapan kami sudah berjejer ratusan orang yang mengantri masuk Kapela Senhor untuk mencium Patung Tuan Berdiri dan Patung Anak Yesus yang sedang tertidur. Setelah satu jam antri, terdapat serombongan orang yang menyerobot antrian dengan membuat antrian baru. Jalur antrian khusus untuk lansia dipakai oleh anak-anak muda. Sontak barisan antrian saya menggerutu. Kejadian ini pun dilaporkan ke panitia tetapi tidak ada tindakan apapun untuk menertibkan antrian. Alhasil, kesabaran kami harus diperpanjang lagi.

Setelah dua jam mengantri, kami berkempatan memasuki Kapela Senhor untuk memanjatkan doa di kaki Patung Tuan Berdiri dan Patung Anak Yesus di dalam peti. Berdasarkan cerita yang saya dengar, jika berdoa sungguh-sungguh di hadapan patung Tuan Berdiri maka doa tersebut akan terkabul.

Dalam perjalanan pulang, terlihat kapal-kapal SAR bersiap untuk pengawalan prosesi Jumat Agung. Kami menikmati indahnya kota Larantuka, menjulangnya Gunung Ile Mandiri dan pulau-pulau di sekitarnya sambil makan jagung titi, popcorn versi Larantuka. Sekembalinya dari Adonara, rombongan santap siang dengan ikan bakar yang lezat, sayur merongge atau daun kelor dengan nasi jagung yang menjadi ciri khas masyarakat Nagi.

Misa Kamis Putih saya ikuti di gereja yang sama pada pukul 19.00. Tiga jam setelah selesai ibadah, Imel adik dari teman saya, mengajak untuk berdoa di Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana. Sudah tidak ada kendaraan kala itu sehingga saya, Imel dan ketiga orang teman SMA-nya berjalan kaki selama 30 menit menuju kapela di tengah kota. Antrian panjang menanti kami lagi. Bedanya, terik matahari kini digantikan dinginnya malam.

Hampir dua jam juga kami berdiri untuk masuk ke Kapela Tuan Ma. Memasuki muka kapela, kami berjalan dengan berlutut. Lutut saya yang pernah cedera semasa SMA terasa nyeri, panitia menyadari hal itu dan mengajak saya untuk langsung masuk lewat samping. Saya pun langsung berdoa di hadapan patung Bunda Maria bermantel beludru biru. Seusai dari kapela pertama, kami bergegas ke kapela kedua yang tidak jauh lokasinya. Antrinya pun tidak terlalu panjang, kali ini lutut saya tidak terasa nyeri untuk berjalan dengan lutut ke hadapan patung Tuan Ana (patung Yesus). Kami sampai di rumah kembali sekitar pukul 4.00 WITA dini hari.

IMG_2065
Prosesi laut mengarak arca Tuan Meninu

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu Jumat Agung yang jatuh 25 Maret 2016. Prosesi laut perarakan arca Tuan Meninu disaksikan ribuan peziarah baik yang ikut naik kapal maupun yang berada di tepi daratan. Perahu tradisional membawa arca Tuan Meninu menerjang arus Selat Gonzalo diikuti peziarah dengan beragam jenis dan ukuran kapal.

IMG_1035-tile (2)
Atas: Patung Tuan Ma dan Tuan Ana. Bawah: Gereja Katedral Reinha Rosari dan Prosesi Semana Santa

Malam harinya, ribuan umat bersiap di Katedral Reinha Rosari untuk mengikuti perarakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana yang akan melewati delapan titik perhentian (armida). Kedua patung akan diarak keliling kota dan diikuti oleh barisan umat yang menyalakan lilin, berdoa dan melantunkan kidung pujian. Rumah-rumah di sepanjang rute prosesi pun ikut menyalakan lilin di halaman mereka.

Prosesi usai hingga hari berganti, sekitar pukul 1.30 waktu setempat. Saya bersama Imel dan teman-temannya beristirahat sejenak di pelataran katedral. Pulangnya, kami kembali berjalan kaki ke rumah melewati kompleks pemakaman yang diterangi lilin-lilin di tiap muka makam. Pekuburan terlihat terang dan cantik di tengah gelap malam, ditambah suara desir angin laut dan debur ombak.

Sepanjang Sabtu kami gunakan untuk istirahat karena dua hari berturut-turut pulang dini hari. Sorenya, kami berangkat 30 menit sebelum Misa Sabtu Santo tetapi hampir saja tidak kebagian tempat duduk di Gereja St. Ignasius Waibalun. Misa Minggu Paskah kami lebih beruntung karena masih terdapat banyak bangku-bangku kosong.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa selama Pekan Suci Semana Santa kantor dan sekolah diliburkan satu minggu. Kapal dari Kupang juga khusus mengantarkan umat yang akan berziarah dan menunggu sampai prosesi selesai untuk mengangkut kembali. Pada Paskah hari kedua, yaitu Senin (28/03/2016) diadakan Misa Syukur Nelayan di Pulau Waibalun. Misa ini juga yang membuat saya memperpanjang kunjungan saya di Larantuka. Oleh karena itu, Selasa saya baru bisa beranjak ke danau tiga warna, Kelimutu.

Total enam hari saya berada di ujung timur Flores. Hidup bersama masyarakat Nagi dan mengikuti prosesi. Terpesona oleh keindahan kota Reinha Rosari dan bentangan alamnya yang menawan. Kini, saya harus pergi menuju Kelimutu di Desa Moni.

Sampai berjumpa lagi, Larantuka!

Larantuka, sebuah kota wisata religi. Menggugah spiritualitas umat agar mengingat kembali penderitaan Yesus yang berkorban bagi manusia dan duka Bunda Maria yang kehilangan anak-Nya.

Tags : AdonaraFloresFlores TimurLarantukaNusa Tenggara TimurReinha RosariSemana SantaWureh
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
angkisland
Guest

wah pemandangan alamnya kayaknya keren ya mbak mantap….

diteraskata
Guest

Iya, Mas. Bikin betah berlama-lama di sana 🙂

angkisland
Guest

senangnya bisa lama” menikmatinya

achihartoyo
Guest

Indonesia timur keren ya. noted!

diteraskata
Guest

Keren banget! Wajib menjelajah ke sini,Mas Achi! 🙂