close
IMG_1103

“Nanti Om carikan bis ke Moni! Tenang-tenang saja sudah.”

Berat rasanya meninggalkan Larantuka. Betapa kota ini membuat saya terpikat akan keindahan alam dan keramahan masyarakatnya. Namun, perjalanan harus berlanjut. Terus ke barat menuju Kelimutu.

Senin malam di penghujung Maret menjadi hari berkemas untuk beranjak dari kota paling timur Pulau Flores. Om Sofyan berbaik hati memesankan kursi penumpang untuk bis Larantuka – Maumere – Ende. Bis memang lebih baik dipesan terlebih dahulu daripada langsung menunggu di pinggir jalan. Ada kemungkinan tidak mendapat tempat duduk yang nyaman atau bahkan tidak kebagian bis.

Bis menuju Ende hanya ada jam 06.00-07.00 pagi karena bentangan jaraknya mencapai 250-an km. Berjarak tempuh sekitar 7 jam. Belum termasuk waktu istirahat makan di titik tertentu. Kalau ke Moni, tinggal kurangi 1-2 jam saja karena posisinya sebelum Ende jika dari Larantuka.

Selasa dini hari (29/03/2016), saya sudah bangkit dari tempat tidur. Mengecek dan merapikan kembali barang bawaan. Selanjutnya, saya mandi dan makan pagi. Sekitar pukul 05.30 WITA, saya ijin ke kota untuk mengambil uang di mesin ATM. Tersedia banyak ATM BRI, beberapa BNI dan sedikit Bank Mandiri. Sialnya, mesin BRI gangguan sehingga membuat saya panik. Uang tunai saya tidak akan cukup untuk melanjutkan perjalanan jika begini kondisinya. Sewaktu di Surabaya, saya sempat memisahkan sebagian uang di BNI untuk berjaga-jaga. Akhirnya, saya mengelilingi kota mencari mesin bank tersebut. Puji Tuhan, mesin penarik uangnya berfungsi.

Saat matahari mulai menampakkan diri, saya mohon pamit undur diri. Beribu terima kasih saya ucapkan untuk keluarga Hadjon atas kesediaannya menerima kehadiran saya selama beberapa hari. Usai pamit dan berfoto bersama, saya menunggu bis yang telah dipesan oleh Om Sofyan, famili dari keluarga Hadjon. Tempat saya menunggu tidak jauh dari sekolah, terlihat anak-anak berseragam putih abu-abu mulai berdatangan untuk menimba ilmu.

Selama menunggu, datang pula dua orang lelaki berusia sekitar 60-an dan 30-an. Yang lebih muda menyapa, mengajukan beberapa pertanyaan sederhana seperti kota tujuan dan selama di Larantuka menginap di mana. Saya jawab di rumah di belakang sekolah, menumpang di rumah warga karena tidak kebagian penginapan. Ia menimpali bahwa masyarakat Larantuka akan senang jika ada peziarah yang menginap di rumahnya dan akan bersedih jika tidak ada yang menginap. Hal ini dikarenakan Festival Semana Santa merupakan perayaan kebanggaan warga yang diadakan hanya setahun sekali.

“Jangan ragu untuk mengetuk rumah di sini. Kalau ada ruangan, pasti diberi tumpangan.”, ujar laki-laki yang ternyata mengantarkan ayahnya untuk menunggu bis ke Ende. Namun, bis pesanan kami berbeda. Armada bis saya datang lebih dulu. Tas carrier diletakkan di atas bis oleh kernet dan diikat tali.

Bis berukuran sedang ini memiliki posisi duduk 2-2. Saya mendapat tempat duduk di pinggir, tidak kebagian yang dekat jendela. Beberapa menit setelah saya naik, bis melaju pelan karena masih menaikkan beberapa penumpang. Kurang tidur membuat saya mengantuk pagi ini, saya pun meniup bantal leher agar bisa tidur dengan nyaman.

Bangku-bangku terisi penuh. Bis mulai melesat melewati liuk-liuk jalan Larantuka. Pemandangan laut dan bukit-bukit sungguh memanjakan mata. Hanya saja, kelokkan tajam membuat saya tidak dapat terlelap. Ditambah dengan volume musik yang memekakkan telinga. Saya hanya bisa berpegangan agar tetap bertahan di posisi saya.

Rasa mual mulai mengganggu . Saya berdoa agar tidak mabuk di jalan. Sebisa mungkin saya pejamkan mata, lekas tidur biar tidak mual terus. Jangan sampai muntah, batin saya. Sedikit-sedikit bisa tidur meski tidak nyenyak. Acap kali terbangun karena bis mengerem tiba-tiba.

Dua jam berlalu, terasa begitu lama. Kami berhenti di Desa Boru. Boru merupakan sebuah desa di Kabupaten Flores Timur. Titik transit yang pertama. Terdapat rumah makan dan warung-warung yang berjualan cemilan maupun buah-buahan.

Betapa terkejut saya karena buah-buahan di sini dijual dengan harga tinggi. Seperti rambutan dihitung per tumpukan yang isinya sekitar 8-10 buah dijual seharga Rp 10.000. Sementara, dengan harga tersebut di Pulau Jawa rambutan dijual per ikat yang mencapai 40-60 buah. Katanya, buah-buahan sulit tumbuh di pulau ini. Buah yang banyak tumbuh di Flores seperti pisang dan alpukat sehingga harga per sisir atau per kg-nya cukup terjangkau.

IMG_1106
Buah-buahan yang dijual di Boru

Sekitar 30 menit kami transit. Banyak penumpang yang antri ke toilet. Sisanya ada yang langsung memesan makanan. Saya sendiri masih cukup kenyang sarapan tadi pagi. Hanya ke toilet dan sisanya berjalan keliling-keliling. Saat berkeliling, saya bertemu dengan seorang ibu yang juga jauh-jauh datang dari Jakarta untuk mengikuti Semana Santa. Beliau begitu mendukung anak muda yang suka berpergian karena dapat menambah khazanah pengetahuan mengenai nusantara dan mengenali masyarakat setempat.

Supir mulai menyalakan mesin. Penumpang naik satu per satu. Musik kembali berdendang. Pilihan lagu cukup trendi, banyak diputar lagu masa kini. Dicampur dengan lagu-lagu berbahasa lokal dan diselipkan tembang kenangan. Petualangan lintas Flores akan berlanjut lagi. Dalam hati saya berdoa: Tuhan, lindungilah kami sepanjang perjalanan. 

Sepertinya supir memang mengisi tenaga untuk medan yang lebih ekstrim. Lebar Jalan Nasional hanya memuat dua mobil dari arah berlawanan dengan jarak yang begitu dekat. Belum lagi, beberapa bagian jalanan yang tidak rata. Selanjutnya, tanjakan demi tanjakan dilewati dengan cukup gesit. Tikungan demi tikungan dilalui begitu lihai. Melihat jurang-jurang di tepi jalan, saya bergidik ngeri. Saya semakin giat berdoa dalam hati. Rasanya seperti menyabung nyawa di tanah asing. Sendiri dan tak ada yang mengenali. Kalau sampai sesuatu terjadi, tidak tahu akan bagaimana jadinya nanti.

“Mampus kau dikoyak kelok jalanan!”, maki saya dalam hati. Tentunya, kepada diri sendiri. Mau-maunya traveling melewati jalanan ekstrim seperti ini.

Saya terus berusaha memejamkan mata. Tidur tidak tidur yang penting tidak usah melihat tepi jalan yang bikin frustasi. Lama-lama, akhirnya bisa tidur juga meski hanya beberapa menit saja. Terbangun karena tikungan tajam, mencoba tidur lagi sambil menahan mual dan memanjatkan doa keselamatan. Terus begitu hingga bis berdecit tajam dan panjang, berhenti mendadak membuat seisi bis kaget dan berteriak. Mobil dari arah berlawanan tidak memberikan tanda klakson sehingga supir bis tidak bersiap untuk menunggu di sebelum tikungan. Kejadian yang membuat jantung penumpang berdegup kencang. Melihat sisi kiri jalan terdapat jurang yang kelihatannya dalam. Kedua kendaraan berhenti beberapa detik, kemudian melanjutkan perjalanan. Seperti tidak apa-apa.

Selama lima jam saya dikenyangkan oleh tikungan-tikungan tajam berbahaya. Jalanan cukup membaik ketika sampai Maumere. Pukul 14.15 WITA, bis berhenti untuk transit makan siang. Saya masih menolak untuk makan berat karena trauma dengan jalanan yang mengerikan. Sejak transit pertama hingga yang kedua, saya bertahan dengan makan biskuit dan teh manis hangat.

IMG_1112
“Yang tabah ya, Mbing!”

Melihat trek yang begitu rawan kecelakaan, pantas saja seorang pemilik motor enggan mengendarai motornya. Ia lebih memilih untuk menitipkan motornya di bis. Bis membawa motor. Bis juga bisa membawa kambing dan ditempatkan di kap mobil. Saya begitu kasihan dengan kambing tersebut karena harus melalui cobaan jalur ekstrim ini.

Moni, desa terakhir sebelum Kelimutu, tinggal 40 menit lagi. Tidak sabar untuk cepat-cepat sampai. Penumpang di sebelah saya mengatakan bahwa jalur ke Moni sudah lebih baik, tidak separah jalur sebelumnya. Syukurlah.

Kanan dan kiri jalan mulai terlihat sawah dan ladang. Akhirnya, sampailah saya di Moni yang mulai berkabut. Awalnya saya dikenai tarif Rp 120.000 tetapi saya tawar karena tarif tersebut adalah tarif Larantuka – Ende. Ende masih dua jam lagi dari sini. Kernet pun mengiyakan tawaran saya. Selembar rupiah bergambar Soekarno-Hatta saya berikan kepadanya.

Dingin mulai menyergap pori-pori tubuh. Dari pesisir yang terik, kini tiba di dataran tinggi yang berbeda hingga beberapa derajat celcius. Hari semakin senja, saya harus segera mencari penginapan kalau tidak mau menggigil kedinginan.

 

Tags : bisDesa MoniFloresjalan nasionaljalur daratKelimutuLarantukalintas FloresoverlandReinha Rosarisolo traveling
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
@eviindrawanto
Guest

Jadi menikmati buah lebih baik sesuai endemiknya ya, Kak. Kalau makan rambutan terus sambil ngitung berapa rupiah per bijinya kalau untuk saya bisa jadi seret. Pengalaman luar biasa di Indonesia Timur. Salut 🙂

diteraskata
Guest

Ya namanya pejalan harus hitung-hitung biaya juga. Karena sudah sering makan rambutan, akhirnya kemarin beli buah mentega yang asli Larantuka. Terima kasih sudah mampir 🙂

mozienk
Guest

Waw keren mbak, aku udah comment yak, hmmmm bagus mbak, kata2nya bisa dibaca 😀

diteraskata
Guest

Teima kasih sudah mampir dan komen ya, Mas Popo 😀
Sering-sering mampirnya. Hehe

ceriloranye | tutursiska
Guest

Salam kenal mba. Kalau mau Overland flores kayaknya emang harus siap mental melintasi jalan berliku tajam ya. Oh ia selain bis, transportasi travel dr Larantuka ke MONI berupa apa ya? Dan mba tau tarifnya berapa?

diteraskata
Guest

Salam kenal, Mbak Siska 🙂
Iya memang harus siap mental, Mbak. Paling travel atau nebeng truk, Mbak. Hehe
Travel mungkin 100rb ke atas karena bis saja sampe 100rb harganya.

ceriloranye | tutursiska
Guest

Terus di blog mba, habis dr kelimutu lanjut ke mana lagi mba? Sy nggak nemuin lagi lanjutan ceritanya

diteraskata
Guest

Ada lanjutannya, Mbak. Saya lanjut ke Ende dengan judul #KembaraNusaTenggara: Menjelajahi Kota Pancasila. Sisanya memang belum ditulis lagi.