close
IMG_2454

Terguncang berjam-jam di atas bis dari Larantuka hingga daerah Moni membuat badan remuk redam. Bis menurunkan saya di Moni sekitar pukul 15.30 WITA, di seberang penginapan dan restoran. Dikarenakan terdapat plang nama Tourist Information Centre, saya pikir ini tempat yang akan memberikan rekomendasi penginapan murah di sini. Ternyata masih bagian dari penginapan bertarif 250 ribu rupiah dengan air hangat dan jaringan Wi-Fi. Saya sempat tergoda tapi melihat kondisi keuangan yang tidak memungkinkan saya pun beralih.

Sempat terlintas pikiran untuk membuka tenda di tanah lapang atau di dekat gereja. Namun lelah yang menerpa membuat saya menyerah dan memutuskan mencari penginapan murah. Datang ke tempat wisata di saat low season menjadi sebuah keuntungan karena dapat melakukan tawar menawar. Penginapan berhasil saya tawar 20% dari harga normal dengan fasilitas kamar dengan ranjang berkelambu, kamar mandi dan sarapan.

Pemilik Watugana Bungalow, Pak John dengan rambut gimbalnya, sangat ramah terhadap setiap pengunjung. Ia tidak hanya menceritakan legenda Kelimutu tetapi juga berbagai pengalamannya dalam melayani pengunjung. Ia menawarkan ojek yang akan mengantarkan ke Kelimutu dengan tarif Rp 100 ribu. Sayangnya, tarif yang ini tidak dapat ditawar lagi. Harga mati.

Uang yang terbatas membatasi saya untuk tidak membeli makanan di cafe atau restoran terdekat maupun memesan ke penginapan. Dengan lauk kering yang saya bawa dari rumah, saya pun berniat membeli nasi dari Pak John untuk makan malam.

“Tunggu sebentar ya. Tidak apa-apa, kan? Masih dimasak nasinya.” Pak John meminta saya untuk menunggu.

Saat itu belum ada pengunjung lain. Agak takut juga karena kamar sebelah kanan dan kiri saya kosong. Belum lagi, selama menunggu nasi, Pak John malah cerita hal-hal yang bikin bulu kuduk bergidik ngeri.

Kengerian saya sirna ketika istri Pak John membawakan nasi berserta lauknya. Saya terdiam cukup lama dan memasang wajah penuh tanya kepada Pak John.

“Makan saja sudah. Tidak apa-apa. Sesama orang Kristen harus saling bantu.” jawabnya sambil tersenyum.

Saya pun langsung menyantap lauk ikan sirip kuning segar dengan tumis sayur selada air dilengkapi sambal. Kenikmatan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Terima kasih atas berkat-Mu ini, Tuhan, ucap saya dalam hati.

Setelah makan malam, saya segera tidur karena akan dijemput ojek pukul 04.00 WITA jika ingin melihat keindahan matahari terbit. Hari masih gelap dan dingin menyergap ketika saya menunggu ojek datang. Telat 10 menit dari perjanjian. Saya khawatir terlambat ke puncak.

Tidak ada kendaraan lain yang melintas. Tidak ada lampu jalanan. Rutenya menanjak dan berliku. Di beberapa sisi, terdapat sapi dan kerbau yang masih tertidur lelap. Sampai di gerbang Taman Nasional Kelimutu, pengunjung wajib mendaftarkan diri untuk membeli tiket seharga Rp 5.000 per orang dan motor dengan tarif yang sama. Pada hari itu (Rabu, 30 Maret 2016), saya adalah pengunjung pertama yang datang. Harga ojek yang saya bayarkan tidak termasuk tiket masuk, jadi saya membayar tiket untuk saya, ojek dan motor dengan total Rp 15.000.

Pelataran Kelimutu masih sekitar 20 menit dari gerbang tiket. Saya merapatkan jaket karena terpaan angin dingin sepanjang jalan. Akhirnya, sampai juga di pelataran parkir yang kosong dari kendaraan. Ojek yang saya sewa merangkap jadi pemandu di jalur trekking yang gelap. Headlamp yang saya bawa tidak menyala, padahal semalam dicoba masih berfungsi. Senter dari ponsel menjadi penyelamat.

Berbekal senter ponsel kami berjalan menyusuri hutan yang gelap. Ojek sekaligus pemandu dadakan yang menemani saya irit sekali bicara. Tidak menjelaskan apapun. Saya mencoba mencairkan suasana untuk mengurangi ketakutan saya. Namun sayangnya dijawab dengan singkat dan padat. Dingin sekali udara dan suasananya. Mencekam. Membuat saya semakin takut jikalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti melihat makhluk dunia lain atau si ojek punya niat jahat. Berbagai pikiran negatif menghantui, ditambah di depan atau belakang kami tidak ada rombongan lain. Hanya berdoa yang bisa saya lakukan.

Immanuel. Tuhan ada beserta kita, khususnya saya saat itu. Tiba di tugu pandang Gunung Kelimutu di ketinggian 1.690 mdpl pukul 05.15 WITA. Sudah ada orang di puncak! Puji Tuhan. Pedagang minuman dan kain tenun tiba terlebih dahulu. Setelah beberapa menit menunggu, bermunculan rombongan lain baik lokal maupun mancanegara.

Popularitas Danau Kelimutu dipelopori oleh warga Belanda bernama Van Such Telen pada tahun 1915 dan kian terkenal ketika Y. Bouman menuangkan keindahannya dalam tulisan pada tahun 1929. Dari tugu pandang ini, kita dapat melihat tiga tiwu (danau) yang terdiri dari:

  1. Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya roh atau jiwa muda-mudi dan merupakan danau yang paling besar. Biasanya berwarna biru atau hijau toska.
  2. Tiwu Ata Polo, terletak di sebelah danau paling besar dipercaya sebagai tempat berkumpulnya jiwa orang-orang melakukan kejahatan.
  3. Tiwu Ata Mbupu, danau yang terpisah dengan lainnya merupakan danau tempat berkumpulnya jiwa orang-orang tua.
IMG_2455
Tiwu Nuwa Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo

Sayangnya, saya belum diijinkan semesta untuk menikmati keindahan panorama matahari terbit dari puncak Kelimutu. Kabut tebal yang tak kunjung hilang menyelimuti kawasan puncak selama satu jam lebih sampai danau tidak terlihat jelas. Untuk membunuh waktu, saya berbincang dengan pengunjung perempuan yang tidak disangka adalah solo traveler dari Alaska. Berada di Indonesia hampir tiga bulan, dimulai dari Bali, Lombok, Sumbawa hingga Flores. Berbagi pengalaman mengenai perjalanan, pengalaman hidup, dan kondisi di negara masing-masing. Stacey, ia memperkenalkan diri. Tak terasa berbincang seru dengannya membuat saya lupa waktu. Cerah matahari yang membuat kami beranjak untuk menikmati warna-warni tiwu berlatar pinus dan langit biru.

“Magical scenery!”, pekik Stacey ketika kabut memudar dan menampakkan keelokkan tanah Flores dari ketinggian.

“Wonderful one I’ve ever seen!” saya menambahkan.

Kami berdua terdiam lama menikmati pemandangan luar biasa di hadapan kami. Angin gunung menerpa lembut wajah kami, udara segar memenuhi paru-paru. Teringat bertahun lalu saat saya membaca-baca artikel mengenai destinasi wisata di timur Indonesia dan berangan kapan akan bisa sampai di sana. Kini, angan itu terwujud membuahkan kebahagiaan yang tak terungkapkan. Betapa bersyukur bisa berada di titik ini yang dulu tampak seperti mimpi.

IMG_2441
Tiwu Ata Mbupu

Spot foto yang bagus masih dikuasai rombongan lokal yang tak henti-hentinya berfoto. Membawa berbagai perlengkapan dan bermacam gaya di lokasi tersebut. Sambil menunggu, saya memotret dari sisi yang lain. Tiwu Ata Mbupu cukup lama saya pandangi karena begitu menenangkan dengan warna air hijau tua yang dikelilingi oleh pohon pinus.

Betah berlama-lama di tempat ini. Rasanya tidak ingin cepat beranjak. Destinasi wisata selanjutnya, pemandian air panas dan air terjun masih menunggu. Jadwal check out penginapan juga memburu saya agar lekas bergegas.

Sampai jumpa lagi, Kelimutu! Semoga saat kembali nanti tidak lagi berkabut supaya saya bisa menyaksikan matahari muncul dari puncakmu!

 

Tags : Danau KelimutuEndeFloresIndonesiaKelimutuMonisolo travelingTaman Nasional KelimutuTiwu Ata MbupuTiwu Ata PoloTiwu Nuwa Muri Koo Fai
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of
riennaku
Guest

Kelimutu 😍
Tukang ojek nya masih ngantuk kali mba hehee..driver ku dulu milih tidur di parkiran. Stereotip orang timur mungkin keras dan tegas tapi sepanjang perjalanan di Flores saya temui penduduk lokal luar biasa ramah, ini yg bikin kangen selain keindahan alamnya. Kalo disapa berlanjut obrolan panjang berasa ketemu kawan lama.

diteraskata
Guest

Nah iya bisa jadi itu masih ngantuk. Soalnya Pak John, pemilik Watugana aja ramah dan baik banget. Cuma waktu itu kan gelap di tengah hutan, kalo diem-dieman kan horor juga. Hehe

Kalau udah ngobrol emang pasti jadi lama, apalagi kalau udah ditawarin kopi dan kue-kue. Mantap!

nyonk
Guest

Seandai’a gw. Bisa ke sana

diteraskata
Guest

Pasti bisa, Nyonk!! Ayo nabung-nabung! 😀