close
IMG_1148

“Lo belum ke Indonesia Timur kalo belum nyobain hitchhiking di sana.” – Gorys

Agenda setelah menikmati alam Kelimutu adalah melepas lelah di pemandian air hangat dan air terjun. Kedua tempat ini satu jalur dengan perjalanan pulang ke penginapan. Namun, karena dikejar waktu check out, saya tidak bisa berlama-lama menikmatinya. Hanya singgah sejenak, lalu kembali ke Watugana Bungalow untuk berkemas.

Kota tempat pengasingan Bung Karno menjadi tujuan saya berikutnya. Di tempat ini ada teman dari kawan saya yang mengabdi untuk negeri sebagai pengajar SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). Program SM3T adalah program dari Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi sebagai syarat mendapat beasiswa Pendidikan Profesi Guru. Sebelumnya, saya sudah berkorespondensi dengan teman dari kawan saya tersebut kalau saya akan ke Ende hari Rabu (30 Maret 2016) dan kemungkinan sampai sore hari.

Bis menuju Ende dari dusun Moni, biasanya ada selepas jam 12.00 WITA. Bis tujuan Ende berangkat dari Larantuka atau Maumere pagi hari, seperti waktu saya berangkat dari Larantuka hari sebelumnya. Sekitar dua jam perjalanan menuju Ende namun akan terhambat jika terkena penutupan jalan sementara karena sedang perbaikan.

Teringat kalimat dari teman saya bernama Gorys yang pernah ke Indonesia Timur, Pulau Sumbawa dan Lombok. Sebelum berangkat, saya sempat berbincang dengannya dan satu hal yang ia pesan adalah untuk mencoba hitchhiking atau menumpang kendaraan selama di perjalanan. Patut dicoba, gumam saya dalam hati.

Jarak Moni – Ende yang relatif cukup dekat membuat saya nekat untuk mencoba hitchhiking. Orang-orang Flores yang saya temui selama perjalanan sering mengatakan bahwa orang Flores baik-baik dan aman jika mau menumpang kendaraan di tanah Flobamora. Baiklah kalau begitu, saya akan menumpang kendaraan apapun yang memberi tumpangan.

Watugana Bungalow memberikan sarapan dengan porsi makan siang. Sungguh mengenyangkan menyantap pancake, pisang, alpukat, pepaya dan markisa Moni yang masam. Lagipula, sudah jam 10-an waktu itu, bisa dibilang brunch atau breakfast and lunch sehingga saya merasa tidak perlu makan lagi untuk makan siang. Lumayan untuk berhemat, perjalanan masih panjang.

Matahari berada di atas kepala saat saya selesai mengepak barang. Bertambah berat karena baju-baju basah akibat berendam di pemandian air hangat dan air terjun. Moni yang tadinya dingin menjadi begitu terik. Terlihat anak-anak sekolah dari SD hingga SMA berjalan kaki menuju ke rumah.

Anak-anak ini menyapa saya, “Siang, Kaka!”

“Siang, Adik. Baru pulang sekolah kah?”, saya pun balik bertanya. Mereka jawab bahwa mereka baru pulang sekolah dan saya bilang hati-hati di jalan. Ramah sekali anak-anak di sini.

Di depan Watugana Bungalow tidak ada pohon, panas langsung menusuk kulit. Saya pun berpindah menuju tempat rimbun agar terlindung dari sinar matahari. Ketika ada kendaraan lewat, saya mulai mengangkat jempol saya ke jalan untuk memberi tanda bahwa saya butuh tumpangan. Sebanyak 2-3 kendaraan lewat dengan jeda cukup panjang. Tidak ada yang berhenti. Sepi sekali waktu itu.

Sekitar 15 menit berlalu, saya akhirnya membuat tulisan di atas kertas HVS yang sudah saya siapkan dari rumah berikut dengan spidolnya.

“Butuh tumpangan ke Terminal ENDE”, begitu isi tulisan yang saya buat. Saya pegang dengan tangan kanan dan tangan kiri tetap mengangkat ibu jari untuk memberi tanda. Kendaraan sedikit sekali yang lewat. Mobil pick up kecil dan kendaraan pribadi hanya lewat 5 menit sekali. Motor-motor kebanyakan tidak pakai helm, menandakan bahwa pengendaranya hanya melintas jarak dekat. Bis tujuan Ende pun belum tampak.

Pemilik cafe di seberang jalan menanyakan tujuan saya. Saya bilang mau ke Ende. Ia menawarkan untuk menunggu di depan cafenya yang lebih teduh, mungkin karena melihat saya masih kepanasan di bawah pohon. Ia mengatakan bahwa nanti bis ke Ende akan berhenti kalau lihat orang di pinggir jalan meski bukan di sisi yang dilewati. Saya menolak halus tawaran tersebut karena saya tidak menunggu bis tetapi mencari tumpangan.

Khawatir juga kalau tidak mendapat tumpangan di tempat sepi begini. Daripada menunggu tidak tentu, saya membatasi waktu tunggu. Jika selama dua jam tidak mendapat tumpangan, saya akan naik bis daripada harus keluar biaya lagi untuk penginapan.

Setelah 40 menitan menunggu, berhenti motor sport untuk membaca tulisan yang saya buat. Ternyata, bapak tersebut memiliki tujuan yang sama. Beliau pun memberikan tumpangan untuk saya meski awalnya ragu karena tas carrier saya yang besar. Tas punggung yang diikatkan di jok penumpang kemudian dilepas dan dikenakan di bagian depan. Saya sempat menanyakan apakah tidak apa-apa jika saya tidak memakai helm. Tidak apa-apa, jawab beliau.

Bersyukur sekali sebelum dua jam sudah mendapat tumpangan. Bapak pemberi tumpangan mengatakan bahwa saya beruntung naik motor ke Ende karena kondisi jalan ke Ende sama berlikunya seperti rute Larantuka – Moni (bisa dibaca “Menuju Moni”). Naik motor membuat saya tidak mabuk di jalan. Akan tetapi, angin sepoi di perjalanan sukses mengundang rasa kantuk.

Perjalanan kami tertahan di KM 17 arah Kota Ende karena diberlakukan sistem buka tutup jalan atas nama perbaikan jalan yang terkena longsor. Jadwal dibukanya jalan jam 12.00-13.00 dan jam 15.00. Kami sampai di lokasi tersebut pukul 13.30 yang berarti terlewat dari jadwal dan harus menunggu 1,5 jam lagi.

IMG_1154
KM 17 arah Kota Ende

Di lokasi perbaikan sudah berjejer kendaraan-kendaraan yang tertahan. Jalanan menjadi tempat parkir dadakan berbagai kendaraan seperti motor, mobil pribadi, mobil pick up, truk pengangkut barang hingga otto kol (truk yang dimodifikasi jadi angkutan penumpang). Warga memanfaatkan lokasi untuk mencari keuntungan dengan berjualan makanan dan minuman. Mendirikan tenda sederhana dengan meja dan tempat duduk. Saya dan Pak Frans berteduh di salah satu warung untuk menunggu jadwal dibukanya jalan.

Kendaraan semakin lama semakin banyak yang datang. Beberapa turis mancanegara yang bosan menunggu malah berjalan-jalan mondar-mandir untuk berjemur. Turis laki-laki bertelanjang dada, yang perempuan dengan pakaian minim. Padahal, debu tanah longsor berterbangan sepanjang jalan. Lain lagi warga lokal dalam otto kol. Terdapat rombongan yang menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama diiringi gitar. Sisanya ada yang tidur atau keluar kendaraan untuk mencari makanan.

Setengah jam berlalu dengan berbincang-bincang di warung tenda. Perut saya mengirimkan sinyal bahwa sudah saatnya diisi asupan. Kebetulan ada tukang bakso yang juga singgah di warung tersebut. Saya pun memesan satu porsi yang ternyata merupakan satu porsi terakhir.

Saat saya menyantap bakso tersebut, Pak Frans mengatakan “Kalau orang Flores yang jual bakso, pasti tidak laku.” Penasaran, saya tanya apa alasannya. Pak Frans menjawab kalau orang Flores lebih percaya masakan yang dijual orang Jawa dibanding oleh orang Flores sendiri. Ada-ada saja.

IMG_1159
Jalanan yang penuh tanah dan rawan jika hujan

Tanpa terasa, 1,5 jam sudah berlalu. Menjelang pukul 15.00 WITA kendaraan bersiap untuk melaju. Jalanan makin dipenuhi debu. Kalau hujan turun, akan menjadi licin dan rawan tergelincir.

Saya membuat janji dengan Mbak Shofi, pengajar SM3T, jam 15.00 WITA di Taman Perenenungan Bung Karno. Sistem buka tutup jalan ini membuat saya memundurkan jadwal bertemu menjadi 16.00 WITA. Namun, baru sebentar berangkat dari KM 17, kami harus tertahan lagi di KM 13 karena masih perbaikan dan jalan ditutup. Makin telat saja dari perjanjian.

Mungkin petugas di KM 17 dan KM 13 kurang berkoordinasi sehingga kendaraan kembali tersendat dan mengorbankan waktu kami untuk menunggu. Begini ternyata kondisi jalanan di Flores. Butuh kesabaran ekstra. Sekitar 20 menit menanti, akhirnya kami bisa jalan lagi.

Pak Frans mengatakan bahwa Taman Perenungan Bung Karno masih jauh dari Terminal Ende. Beliau pun berbaik hati langsung mengantarkan saya ke lokasi perjanjian. Terlebih lagi, jika memang saya tak ada teman di Ende beliau menawarkan untuk membantu mencari penginapan. Terbukti, orang Flores memang baik-baik ya.

Sampailah saya di tempat sang proklamator menyusun falsafah negara walaupun telat cukup lama dari perjanjian. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Frans yang sudah memberikan tumpangan. Beliau melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Di taman, Mbak Shofi sudah cukup lama menunggu. Saya pun meminta maaf atas keterlambatan yang tidak terduga karena kondisi jalan.

Misi hitchhiking di Indonesia Timur telah berhasil. Selamat sentosa di kota tujuan. Membuktikan bahwa orang Flores memang baik dan mau menolong orang yang tidak dikenal sekalipun. Terima kasih, Pak Frans!

 

Tags : EndeFloreshitchhikingKota PancasilalongsorMoniNTTNusa Tenggara Timurperbaikan jalansolo travelingTaman Perenungan Bung Karno
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of
Muhamad Agung Prasetiyo
Guest

Seru juga ya walaupun butuh effort tinggi kesana, tapi emang Flores merupakan salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi, next time bisa kesana heheh

diteraskata
Guest

Seru banget, Mas! Siapkan waktu yang banyak juga biar puas keliling Flores-nya! Semoga bisa segera singgah ke Flores ya! Terima kasih sudah mampir 🙂