close
Processed with VSCO with hb1 preset

“Karena itu waktu aku bertanya pada murid-murid yang akan meninggalkan bangku sekolah. Siapakah yang akan meneruskan ke sekolah guru? Di antara murid yang limapuluh orang itu cuma tiga mengacungkan jarinya. Selain itu, semua mau meneruskan ke sekolah menengah. Alangkah sedihku waktu itu. Dan berkata aku pada mereka. Kalau di antara limapuluh orang cuma tiga orang yang ingin jadi guru, siapakah yang akan mengajar anak-anakmu nanti? Kalau sekiranya engkau kelak jadi jenderal, adakah akan senang hatimu kalau anakmu diajar oleh anak tukang sate? Tak ada yang menjawab di antara mereka. Kemudian kunasihati mereka yang ingin jadi guru itu, kataku. Seorang guru adalah kurban–kurban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat–membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa. Dan mereka yang tiga orang itu dengan sungguh-sungguh. Kami bercita-cita jadi guru walau bagaimanapun sukarnya. Dan aku angguk-anggukkan kepala kepada tiga orang itu.” (Pramoedya Ananta Toer dalam Bukan Pasar Malam, hal. 54-55)

Novel Bukan Pasar Malam pertama kali terbit 65 tahun yang lalu, tahun 1951. Enam tahun setelah negeri ini merdeka. Menceritakan pergolakan batin seorang anak yang ayahnya menderita sakit keras. Kondisi yang mengharuskannya kembali ke tanah kelahiran di Blora sementara ia baru memulai pekerjaan barunya di Jakarta.

Pramoedya Ananta Toer mengisahkan selapis demi selapis perasaan ayah, anak-anak, tetangga dan kolega mengenai penyakit yang diderita ayahanda hingga kondisi sosial yang terjadi pada saat itu. Pembaca digiring untuk memahami betapa menyiksanya sebuah penyakit dan situasi yang harus dihadapi sanak keluarga yang mengurusinya. Konflik batin terasa begitu menggetarkan hati.

Kemiskinan yang menyusupi keluarga ini membuat mereka pasrah dengan pengobatan seadanya di daerah mereka. Untuk mendapat perawatan yang lebih baik dibutuhkan biaya yang mereka tidak sanggupi. Kondisi rumah yang tak terurus juga menjadi beban tersendiri karena menjadi perbincangan warga yang sungguh mengusik telinga penghuni rumah. Dituliskan di halaman 43-44 mengenai hal tersebut:

“Karena itu, barangkali ada baiknya kuulangi kata orang tua-tua dulu: Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak.”

Penyebab sakit keras ayahanda bukan hanya karena kondisi fisiknya tetapi tanggungan beban terhadap sesama. Ayahanda yang berpotensi masuk jajaran pejabat tinggi daerah menolak mentah-mentah tawaran tersebut karena ingin mengabdikan diri, menjadi kurban selama-lamanya, menjadi guru dengan segala konsekuensi yang harus dihadapinya. Sosok pejuang pendidikan ini gugur di lapangan politik karena menolak terlibat di dalam partai agar terhindar menjadi badut-badut pencari untung.

Berdasarkan karya Pram yang saya baca sebelumnya seperti Tetralogi Buru, Larasati, Midah (Si Manis Bergigi Emas) dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan; Bukan Pasar Malam menjadi novel yang paling syahdu. Pria yang keluar masuk penjara karena tulisannya ini terasa lebih lembut di Bukan Pasar Malam. Berbeda dengan karya lain yang begitu berapi-api mengisahkan sekaligus mengkritik kondisi yang terjadi pada periode tersebut. Sebuah karya yang patut dibaca oleh semua generasi. Berisi nilai-nilai kemanusiaan yang terkadang luput diajarkan di bangku pendidikan.

 Judul: Bukan Pasar Malam

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Cetakan: ke 8, Agustus 2015

Perancang Sampul: Ong Hari Wahyu

 

Tags : BloraBukan Pasar MalamnovelpendidikanPramoedya Ananta Toerulasan
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

6 Comments on "Bukan Pasar Malam: Pergolakan Batin Pasca Revolusi"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
titisayuningsih
Guest

Wah, novelnya bagus ya kak dan penulisnya pun sudah terkenal dengan karyanya

diteraskata
Guest

Iya bagus banget novelnya. Syahdu. Karya Pram udah nggak perlu diragukan lagi 🙂

Dede Ruslan
Guest

btw mar ini novel fiksi bukan? judulnya menarik utk dibaca 🙂

diteraskata
Guest

Bisa dibilang novel fiksi tapi mungkin novel sastra lebih tepatnya. Menarik memang karya-karyanya Pram 🙂

nengnunuz_
Guest

Ini buku pram kedua yang saya baca sampai tamat, setelah sebelumnya Gadis Pantai. Buku dia bagus-bagus. pengen baca tetralogi buru, belum sempet. hikz

Hidup ini bukan pasar malam, yang datang beramai-ramai dan pulang beramai ramai.

diteraskata
Guest

Tetralogi Buru itu wajib dibaca, Mbak. Tapi siap-siap galau kalau habis baca tiap bukunya. Apalagi kalau baca buku paling akhir, galaunya bakalan lama deh. Hehe. Begitu membekas di hati.

wpDiscuz