close
rudy habibie

Kisah pemimpin bangsa yang tak henti-hentinya menjadi sorotan. Rasanya tidak cukup dengan satu film untuk menggambarkan kehidupan presiden ketiga republik ini. Sekuel Habibie & Ainun (2012) pun dirilis dengan judul Rudy Habibie, dengan harapan mendulang sukses pendahulunya yang berhasil meraup penonton hingga 4.529.633 penonton (filmindonesia.or.id).

Rudy Habibie (selanjutnya ditulis dengan RH) mengisahkan gejolak Bacharuddin Jusuf Habibie (Reza Rahadian) di tanah perantauan semasa menempuh perkuliahan teknik penerbangan di RWTH Aachen, Jerman. Jauh dari orang tua, keterbatasan finansial, konflik vertikal dan horisontal dengan rekan sebangsa setanah air serta sedu sedan kisah kasihnya dengan gadis Polandia. Kondisi tanah air yang baru merdeka menyumbang pergolakkan di tengah-tengah mahasiswa yang didaulat menjadi generasi penerus bangsa.

Penderitaan semasa revolusi kemerdekaan menancapkan nasionalisme yang begitu dalam di benak Rudy. Digambarkan pada awal film, pesawat tempur meluncurkan serangan udara yang meledakkan wilayah tempat tinggal Rudy dengan begitu dramatis bahkan bisa dibilang berlebihan. Hal lainnya yang menarik perhatian saya saat Rudy kecil (Bima Azriel) adalah ketika ia mendapat informasi bahwa balon dapat terbang jika massa jenis udaranya berbeda dengan sekitar. Dituturkan informasi itu kepada teman-temannya yang berujung pencarian balon hingga ke daerah “losmen”.  Sekawanan teman masa kecilnya menemukan balon-balon dari sekitar “losmen” yang merupakan kondom bekas pakai yang dibuang sembarangan.

B. J. Habibie lahir 25 Juni 1936. Rudy anak-anak kemungkinan berusia sekitar 10-12 tahun. Adegan mencari “balon” itu berarti berkisar tahun 1946-1948, kala Indonesia masih gegap gempita akan kemerdekaannya. Sementara distribusi kondom baru digalakkan pada tahun 1970 melalui pihak swasta dan program Keluarga Berencana dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Purdy, 2002; detikHealth, 2012). Selain itu, penelitian mengenai HIV/AIDS di Indonesia, menurut data dari Yayasan Spiritia, baru dilakukan oleh Dr. Zubairi Djoerban tahun 1983 terhadap 30 waria di Jakarta (Yayasan Spiritia, 2009). Purdy dalam Analysis of Indonesian Condom Market mengatakan bahwa HIV/AIDS muncul di Indonesia di akhir-akhir 1980-an.

Adapun pesan sang ayah, menjadi amanah yang ia pegang teguh hingga membuahkan repetisi yang membosankan dari tengah sampai akhir film. Jika kamu baik, maka sekelilingmu akan menjadi baik, seperti mata air. Daripada melakukan repetisi, adegan Rudy dengan Romo Mangunwijaya menjadi tampuk adegan yang merangkum semua kegelisahan, polemik, konflik yang selama ini meresahkan kehidupan Rudy. Adegan dengan dialog yang brilian tanpa kesan menggurui. Mata air berasal dari tanah yang bergolak, ujar Romo Mangunwijaya.

Alur yang maju mundur agak membuat kebingungan karena tidak adanya keterangan tahun di perpindahan adegan. Masa pemulihan Rudy yang entah berapa lama hingga Seminar Pembangunan II akan diadakan kembali (sebelumnya Rudy gagal mengawal Seminar Pembangunan I karena sakit). Chelsea Islan yang berperan sebagai Illona, kekasih Rudy, nampaknya masih harus berusaha lebih keras untuk menyejajarkan kualitas akting Reza Rahadian yang tidak perlu diragukan lagi. Pemeran pendukung lainnya malah tampak lebih natural seperti Liem Keng Kie (Ernest Prakarsa), Ayu (Indah Permatasari), Poltak (Boris Bokir), ayah Rudy (Donny Damara) dan ibu Rudy (Dian Nitami).

Film yang rilis 30 Juni 2016 ini menampilkan kegigihan B. J. Habibie untuk meraih cita-cita pribadi, kelompok hingga tanah airnya sekaligus sisi lemah yang tak dapat terelakkan, yaitu penyakit TBC tulang. Belum lagi mahasiswa lain yang kontra akan ide-idenya dan didukung oleh keberpihakan pemerintah pada oknum yang kontra tersebut. Pluralisme juga menjadi salah satu topik yang diangkat di film ini, Rudy yang seorang muslim belum mendapatkan tempat yang layak untuk beribadah sehingga terpaksa beribadah di gereja.

Sebelum menonton RH, saya menyaksikan Bridge of Spies karya Steven Spielberg. Film yang juga terinspirasi dari kisah nyata dengan latar tahun 1960-an. Nuansa yang disajikan Spielberg sukses membawa saya terhanyut ke masa-masa lampau. Berbeda dengan karya Hanung Bramantyo dengan latar waktu 1946-1960-an ini tersaji dengan warna yang megah berwarna-warni. Terbantu oleh outfit dan make-up para aktor yang meyakinkan. RH terasa seperti film berlatar masa kini namun tanpa kecanggihan teknologi. Mengenai musik latar dan berbagai perihal audio, bisa dikategorikan memukau dan berhasil mendukung suasana yang ingin disuguhkan. Selain itu, perbedaan yang cukup signifikan dari film pendahulu, sinema yang diproduseri Manoj Punjabi ini tidak lagi menampilkan produk sponsor yang mengganggu cerita.

Satu lagi yang mengusik saya, jika memang ingin mengangkat kembali band legendaris Indonesia, poster acara musik yang dijadikan ajang pertemuan mahasiswa anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia di Aachen (PPI Aachen), tertulis dalam posternya adalah The Tillman Brothers. Bahkan The Jakarta Post pun menuliskan demikian, The Tillman Brothers (sila klik ‘Rudy Habibie’: The Techocrat’s Dream). Bukankah The Tielman Brothers? Atau ada penjelasan lain mengenai hal ini?

Sumber:

Konfiden. 10 Film Indonesia Peringkat Teratas dalam Perolehan Jumlah Penonton pada tahun 2007-2016 berdasarkan Tahun Edar Filmhttp://filmindonesia.or.id/

Purdy, Christopher H. 2002. Analysis of Indonesian Condom Market. DKT Indonesia Research Briefing

Harnowo, Putro Agus. 9 Mei 2012. Sejak Kapan Pria Indonesia Pakai Kondom? DetikHealth.com

Yayasan Spiritia. 2009. Sejarah HIV di Indonesia. Spiritia.or.id 

Gambar diambil dari Official Facebook Rudy Habibie (11 Juli 2016, 2:49)

Tags : BJ HabibieChelsea IslanDian NitamiDonny DamaraErnest PrakarsaHabibie & AinunHanung BramantyoManoj PunjabireviewReza RahadianRudy Habibie
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

11 Comments on "Rudy Habibie: Gejolak Mahasiswa di Tanah Eropa"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
@eviindrawanto
Guest

Sudah banyak saya baca bahwa RH layak tonton. Ah jadi tambah penasaran. Semoga saya masih kebagian monggu depan 🙂

diteraskata
Guest

Amin, Mbak. Sepertinya film ini akan bertengger lama di layar lebar 🙂

Wulan
Guest

Film nya emang keren y maria! Aku nonton dan nangis berkali2 hahahah! Banyak pesan2 tersirat dan tersurat yg disampaikan.

diteraskata
Guest

Iya, banyak pesan-pesan yang ingin disampaikan walaupun ada yang terlampau dramatis. Hehe.

nengnunuz_
Guest

jadi penasaran pengen nonton.

diteraskata
Guest

Ditonton segera sebelum ditarik dari bioskop.

Muhamad Agung Prasetiyo
Guest

rekomen banget filmnya, Indonesia harus bangga punya Habibie dan bikin semangat yang nontonya heheheh

diteraskata
Guest

Habibie memang pribadi yang hebat!

Maya Nirmala Sari
Guest

Nonton ini pas tanggal 29 Juni 2016, sehari sebelum tayang serentak di bioskop. Ditemani sama Eyang habibie sendiri, Sutradara, Produser, dan para pemeran utama film ini. Waktu itu memang acara meet & greet di Solo, sekaligus buka puasa bersama.

Kenangan yang sangat berkesan.

maeshare.blogspot.com

diteraskata
Guest

Keren banget bisa nonton dengan beliau.
Semoga sosoknya terus menginspirasi 🙂

endang cippy
Guest

Kerennn filmnya..
Aku suka wkt kamera filmnya mengambil sudut2 kota yg menjd setting dlm film..

wpDiscuz