close
2016-08-15 02.15.40 1

Baru-baru ini nama SMP Tanjungpinang, Kepulauan Riau, cukup santer terdengar. Berseliweran kontroversi mengenai lulusan berprestasi dengan nilai ujian nasional SMP tertinggi tahun 2013, yaitu Karin Novilda. Selepas SMP, gadis ini melanjutkan SMA di Jakarta. Beberapa minggu belakangan, selebritis media sosial ini mencuat ke permukaan karena unggahan video blog (vlog) di Youtube yang bertabur air mata. Menuai berbagai komentar dan pertanyaan akan pergaulan anak muda urban jaman sekarang.

Di bulan kemerdekaan, nama Tanjungpinang kembali beredar. Kisah perjuangan anak pesisir Batam, Gani Lasa, dirilis dalam bentuk film pada Agustus 2016, berjudul Mimpi Anak Pulau (MAP). Gani Lasa merupakan tokoh sekaligus pejabat Pulau Batam yang sukses dan berprestasi. Menjadi salah satu dari tiga sarjana pertama yang lahir di pulau yang lebih dekat dengan Singapura tersebut. Film MAP diangkat dari buku biografi karya Abidah EL Khalieqy, yang juga menulis buku Perempuan Berkalung Sorban. 

Kegetiran hidup usia belia menempa karakter Jani (Gani kecil dipanggil Jani, diperankan oleh Daffa Permana). Jani yang tinggal di pesisir Batoe Besar, Pulau Batam, harus menanggung hidup berkekurangan. Ayahnya, Lasa (Ray Sahetapy), bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya sehari-hari. Sayangnya, kerja keras itu masih belum bisa mewujudkan keinginan Jani untuk memiliki sepasang sepatu seperti teman-teman sekelasnya.

Pil pahit masih harus ditelan Jani sekeluarga. Ayah mereka pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Rubiah (Ananda Lontoh), ibu Gani, mau tidak mau merelakan dua anak bungsunya untuk diurus kakek nenek mereka. Tersisa Gani dan kedua orang abangnya yang harus terus berjuang mencari nafkah untuk keluarga. Gani kecil mulai berjualan nanas di sekolah hingga menjadi tukang potong kayu arang bersama abangnya.

Film yang disutradarai Kiki Nuriswan ini begitu total mengangkat budaya Melayu yang melekat di kehidupan masyarakat Batam. Dialek, hikayat hingga lagu Melayu ditampilkan dengan begitu apik di film ini.Selain itu, akting para pemeran film mengalir dengan baik meski proses perpindahan adegan atau gambar masih terasa kurang halus. Pada bagian awal film terasa begitu lambat, kemudian mulai mengalir dari tengah, dan pada seperempat akhir film mulai inkonsisten (kadang cepat, kadang lambat). Emosi penonton kurang tergarap dengan baik. Latar tahun film juga tidak diinformasikan dengan jelas sehingga penonton hanya bisa menerka-nerka.

Titik perjuangan Jani adalah ketika keinginannya melanjutkan sekolah berbenturan dengan kondisi finansial keluarganya. Membeli sepasang sepatu pun tidak mampu, apalagi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi? Di Pulau Batam pada waktu itu tidak ada sekolah yang lebih tinggi dari sekolah dasar. Jika ingin melanjutkan pendidikan, maka harus mengarungi lautan menuju Tanjungpinang, ibukota Kep. Riau. Jarak tempuh dari pesisir Batoe Besar menuju Tanjungpinang sekitar 13 jam apabila menggunakan perahu dayung warisan sang ayah. Mampukah Jani mengarungi lautan luas itu untuk mewujudkan mimpinya melanjutkan pendidikan?

 

Tags : Ananda LontohBatamDaffa PermanafilmKepulauan RiauKiki NuriswanMimpi Anak PulauRay Sahetapy
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
Nanisa
Guest

Keren 🙂