close
_MG_4046

Pernah ke Bromo? Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawaban saya mungkin iya, mungkin juga tidak. Saya ingat waktu itu saya masih SMP tapi lupa kelas berapa. Diajak sanak keluarga berwisata ke kawasan Bromo dan Borobudur. Waktu itu tidak ada yang memiliki kamera digital, hanya sepupu saya memiliki telepon genggam berkamera. Perangkat itu menjadi satu-satunya yang mengabadikan momen selama perjalanan secara digital. Sayangnya, seluler itu dijual tanpa pernah saya terima berkas digital perjalanan saya. Beruntung masih ada bukti fisik dari tukang foto keliling di Candi Borobudur. Dicetak dalam ukuran besar, berlatar megahnya bangunan candi. Namun, Bromo? Hilang tanpa jejak fisik.

Singkat cerita, kami menginap di villa yang nyaman dengan pemandangan menawan. Bangun dini hari untuk melihat keindahan matahari terbit di Pananjakan dan begitu antusias ke lokasi-lokasi lainnya. Pagi itu adalah salah satu kemunculan matahari yang paling indah yang pernah saya lihat. Terdengar gumaman kekaguman dari berbagai bahasa, banyak wisatawan mancanegara. Dari Pananjakan, kami beranjak menuju pelataran Kawah Gunung Bromo.

Pasir-pasir berterbangan menghalangi pandangan kami di mobil. Mobil berhenti sejenak, kami melihat puncak Bromo di ujung sana. Ada banyak anak tangga untuk menuju puncak. Kami sudah bersiap turun dari mobil. Tiba-tiba, Om kami berkata, “Udah lihat kan Gunung Bromonya? Sudah ya. Sekarang kembali ke villa.”

Semua orang di dalam mobil terdiam terpaku. Tidak menyangka kata-kata tersebut keluar bak komando. Anak-anaknya mulai merengek untuk turun tetapi perintah tetap perintah. Dan kami kembali dengan kecewa dalam dada.

Sejak saat itu, dendam tertanam dalam dada. Suatu saat nanti saya akan ke puncak Bromo itu. Sebebas-bebasnya, sepuas-puasnya.

Hari pembalasan dendam itu pun tiba. Sabtu, 25 Februari 2017. Sepuluh tahun lebih sejak kedatangan saya yang belum tuntas waktu itu. Di penghujung pekan Februari ini, semua akan terbayar.

Hari baru saja berganti. Saya bersama rombongan dari Malaysia beranjak dari tengah kota Malang menuju Pananjakan pukul 00.30. Memutuskan untuk bergabung dengan open trip karena saya tertinggal sendirian di Malang setelah dua hari sebelumnya ada pekerjaan di kota apel. Rekan kerja sudah kembali ke ibukota sejak Jumat pagi.

Sekitar pukul 02.30, kami sudah sampai di pelataran Pananjakan 1. Warung-warung menjadi tempat berlindung dari rengkuhan dinginnya dataran tinggi Bromo. Masih lama hingga matahari memancarkan cahaya.

Teh hangat tidak hanya menjadi minuman namun menjadi kawan seperjalanan. Sedang enggan untuk memulai percakapan dengan rombongan Malaysia maupun wisatawan lokal di warung itu.

Ruang untuk menanti kedatangan sang mentari mulai penuh pengunjung. Udara dingin menyusupi pori-pori. Angin sesekali berhembus membuat tubuh semakin menggigil. Lainnya sibuk memotret diri sendiri dengan cahaya kilat dari perangkat elektronik. Semakin menjadi gejala sosial pamer di media sosial.

Terlampau banyak orang malah membuat saya menyingkir. Posisi yang sudah dekat dengan pagar terdepan, saya abaikan. Saya beranjak ke belakang. Bersiap menyaksikan mentari dari jauh. Malas bersesakkan.

Perlahan semburat cahaya keemasan muncul di ujung pandangan. Dikawal kerumunan awan, berlatar perbukitan. Masih indah. Meski tak seindah yang pertama. Terima kasih semesta untuk pertunjukkan alam yang selalu menakjubkan.

IMG_4098
Kawasan Widodaren

Selesai dari Pananjakan, kami menuju Widodaren. Sebuah gunung dengan kawasan berpasir yang amat luas. Menikmati matahari pagi sambil mengambil beberapa gambar. Jeep melanjutkan perjalananan menuju Gunung Bromo. Gunung yang telah lama saya nanti-nanti. Bertahun-tahun lamanya dendam itu terkubur.

Lautan pasir menghampar di hadapan kami. Kendaraan pengangkut bermesin wajib parkir di batas tertentu. Di mana ada warung-warung tenda berjejer dan bangunan untuk toilet didirikan. Entah pengunjung yang sedang membludak atau kapasitas ruang toilet yang minim, antrian toilet perempuan hingga 30 menit lebih.

Rombongan Malaysia sudah jalan terlebih dahulu. Saya benar-benar ingin menikmati ini sendirian. Banyak yang menawarkan kuda untuk mengangkut pengunjung ke kaki Gunung Bromo, di mana ratusan anak tangga beton dibangun. Katanya, harga jasa kuda Rp 100.000 – 125.000 PP (pulang-pergi). Saya antara mau dan tidak mau, iseng saya tawar hingga Rp 80.000 dan voila bapak tersebut setuju. Harga yang saya minta sudah termasuk dengan jasa pengambilan gambar tanpa batas (tapi jika mau gambar bagus tetap harus diarahkan).

IMG_4285

Cukup menegangkan ternyata naik di atas kuda. Butuh usaha ekstra dan keberanian. Apalagi ketika kuda mulai berjalan, punggungnya bergoyang membuat saya terasa mau jatuh. Si bapak penarik kuda meyakinkan saya kalau itu wajar, semua akan baik-baik saja. Ketika kontur jalanan menanjak dan menurun, semakin terasa menakutkan. Saya berdoa dalam hati agar tidak jatuh konyol dari atas kuda.

IMG_4199
Di sisi kawah Bromo

Perjalanan dari batas parkir jeep hingga kaki tangga Bromo cukup jauh. Naik kuda sekitar 20 menit, jika jalan kaki lebih lama dan akan lebih cepat lelah. Padahal, ratusan anak tangga sudah menanti kita. Beruntung saya naik kuda karena energi untuk naik tangga masih dalam kondisi penuh.

Perasaan saya secerah langit hari itu. Mengharu biru. Kadang, masih tidak percaya bahwa saya akan sampai juga di titik ini. Titik yang dulu pernah tertunda hanya karena keangkuhan seseorang. Bromo yang selalu saya nanti, Bromo yang kini ada di hadapan mata kepala saya sendiri. Kawah dan pemandangan yang saya endapkan baik-baik di hati dan pikiran. Sebuah perjalanan yang akan selalu saya ingat.

IMG_4299
Pasir Berbisik
IMG_4351
Bukit Teletubbies

Selesai menikmati keindahan kawah dan pemandangan Bromo, rombongan bergeser kawasan Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies. Betapa kawah bekas letusan dapat menjadi kawasan yang eksotis dan hamparan rumput ilalang begitu memanjakan mata. Sayangnya, saya hanya memilih paket perjalanan singkat. Perjalanan harus usai di sini, menyisakan perasaan yang membahagiakan.

Ingin ke Bromo dengan itinerary yang sama? Teman-teman dapat memesan paket wisata ini ke nomor saya di +62 856 8570 460 (WhatsApp/sms) atau mariaanastasiaa (Line). Tersedia keberangkatan dari Surabaya Rp 450.000/orang dan Malang Rp. 350.000/orang. Minimal pemesanan untuk 5 orang, jika kurang dari jumlah ini maka akan disesuaikan dengan jadwal open trip kami. 

Tags : BromoBukit Teletubbiesgunungkawahopen trippaket wisatapaket wisata BromoPananjakanPasir BerbisiksunriseTaman Nasional Bromo Tengger SemeruTNBTSWidodaren
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

2 Comments on "Bromo"

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Lisa Fransisca
Guest

Bromo cantik sekali ya, kak 🙂

diteraskata
Guest

Iya. Pemandangannya sungguh memanjakan mata 🙂