close
IMG_1176

Tepat setahun yang lalu, 21 Maret 2016, saya menginjakkan kaki pertama kali di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Mengerahkan segenap keberanian untuk berlayar menuju Pulau Flores. Pelayaran tiga hari dua malam mengantarkan saya ke dalam sebuah perjalanan panjang bernama #KembaraNusaTenggara.

Beberapa kisah dari #KembaraNusaTenggara sudah selesai ditulis, dari persiapan hingga persinggahan di beberapa destinasi seperti Larantuka, Kelimutu dan Ende. Di tengah proses penulisan, kemalangan menimpa penulis. Komputer jinjing yang biasa ia pakai mengetik mengalami kerusakkan, ditambah semua data gambar tidak terunggah seluruhnya di Google Drive. Mohon dimaklumi cerita ini tertunda cukup lama. Kini, cerita itu akan kembali dirangkai. Titik terakhir dari tulisan sebelumnya adalah Kota Pancasila, Ende.

Mungkin belum sempat saya ceritakan di tulisan sebelumnya bahwa selama di Ende saya tinggal di basecamp guru SM3T di Jalan Kelimutu. Sebuah tempat berteduh yang nyaman dan hangat. Basecamp ini sebenarnya adalah tempat tinggal sepasang suami istri asal Pulau Jawa yang berdinas di sini sejak beberapa tahun lalu. Kami memanggilnya Pakde dan Bude. Terima kasih banyak Pakde, Bude dan teman-teman SM3T telah mengijinkan saya tinggal untuk beberapa hari selama di Ende. Maaf jika saya tidak bisa membalas kebaikan kalian.

IMG_1309
Halaman depan basecamp SM3T

Semasa di Ende saya sebenarnya amat gelisah untuk menentukan destinasi saya yang berikutnya. Akar permasalahannya adalah dana perjalanan yang semakin menipis. Ada beberapa pilihan dilematis kala itu:

  1. Menuju Labuan Bajo ambil paket living on board selama 3-4 hari. Namun, konsekuensinya tidak mengunjungi Bajawa yang terkenal dengan kopinya dan tidak ke Wae Rebo di Ruteng.
  2. Menuju Ruteng, singgah di Wae Rebo. Meski mahal dan jauh dari kota tapi ya mumpung sedang di Flores, kenapa tidak, pikir saya waktu itu. Konsekuensi: paket living on board yang bisa diambil hanya 2-3 hari dan melewatkan Bajawa.
  3. Menuju Bajawa. Ada Kampung adat Bena (serupa dengan Wae Rebo) dan singgah ke perkebunan kopi di Bajawa. Konsekuensi: jatah living on board sirna karena dana untuk paket wisata tersebut akan terpakai untuk perjalanan selama di Bajawa dan Ruteng.

Mengapa saya bersikeras untuk living on board? Asal muasal saya ingin ke Flores adalah karena melihat iklan paket wisata living on board di Kep. Komodo, Labuan Bajo. Dengan berbagai destinasi menawan yang tersebar di dunia Instagram, membuat siapa saja berkeinginan ke menjejakkan kaki ke lokasi-lokasi tersebut, malamnya tidur di tengah laut di atas kapal yang mengapung-apung beratapkan bintang-bintang. Akan tetapi, paket wisata yang saya incar waktu itu sudah penuh kuotanya sehingga saya malas cari operator wisata lainnya. Eh malah saya nekat menjelajah semua kota-kota di Pulau Bunga ini dan mengorbankan mimpi living on board.

Baiklah, kembali pada kota apa yang akan saya tuju setelah Ende. Di tengah kegalauan itu, sehari sebelum saya beranjak dari kota pengasingan proklamator, saya mendapat sambungan telepon dari seorang kawan. Kawan tersebut ingin membayar pinjaman yang telah lama belum dibayar. Saya saja hampir lupa. Suntikan dana segar pun mengalir ke rekening saya. Itu artinya saya dapat ke Bajawa, Ruteng dan Labuan Bajo sekaligus. Terima kasih!

God works in mysterious ways!

 

teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of