close
IMG_2522

Ende sebuah kota sejarah yang sulit untuk dilupakan. Terik matahari yang menyengat kulit, peninggalan-peninggalan Bung Karno, pantai dan bukit-bukit cantik, kain tenun yang indah dan pasar tradisional yang masih autentik. Angkutan umum kota di Ende juga tidak kalah unik, oto, di kota besar biasa disebut angkot. Oto di Ende biasanya full music lengkap dengan sound system yang megah untuk ukuran sebuah angkutan umum. Uniknya lagi, interior oto didominasi warna cerah dengan tambahan aksesoris berupa boneka dan poster artis idola.

IMG_1182
warna-warni interior oto di Ende

Tepat setahun yang lalu, 2 April 2016, saya meninggalkan Ende menuju kota berikutnya, Bajawa. Masih berusaha melakukan kegiatan tebeng-menebeng alias hitchhiking untuk menghemat biaya perjalanan. Setelah makan siang dan berpamitan dengan Pakde, Bude dan teman-teman SM3T di Ende, saya diantarkan di perbatasan kota untuk mencari tebengan.

Saya diantarkan ke perbatasan kota Ende dan Bajawa sekaligus rest area bagi banyak kendaraan seperti angkutan umum, truk hingga kendaraan pribadi. Jangan bayangkan rest area ini seperti di Pulau Jawa yang tersedia restoran cepat saji berpendingin ruangan, di sini hanya tersedia pom bensin dan deretan warung-warung kayu sederhana yang menghadap ke pantai.

Atribut untuk menebeng sudah saya siapkan berupa kertas HVS bertuliskan bahwa saya membutuhkan tumpangan hingga Bajawa. Kernet angkutan umum bolak-balik menawarkan angkutannya untuk saya tumpangi, saya bersikeras menolak dengan halus. Lain lagi dengan beberapa tukang ojek dan pedagang di sekitar tempat saya berdiri. Mereka menanyakan ke mana saja pergi, ke Bajawa, jawab saya. Tidak lama setelah itu ada yang kembali membawa kabar berita.

“Nona mau ke Bajawa kah? Ini ada truk bawa beras mau ke arah Bajawa. Nona nanti bisa turun di pertigaan Raja dan lanjut ke Bajawa.”

“Sudah dekat kah ke Bajawa dari Raja?”, tanya saya.

“Sudah. Paling hanya satu jam dari Raja.”

“Tidak ada kah yang langsung ke Bajawa?”, saya kembali bertanya untuk memastikan.

“Susah kalau yang langsung ke Bajawa. Bisa sampai sore nanti Nona tunggu.” jawab pemberi pertolongan dengan amat meyakinkan.

Akhirnya, saya putuskan ke Bajawa dengan truk beras yang ditawarkan. Saya kira hanya berdua dengan sopir truk. Agak khawatir juga awalnya. Bagaimanapun juga, saya harus tetap waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ternyata ketika naik truk, ada Mama (sebutan untuk ibu-ibu di Flores) yang menyewa truk tersebut untuk berbelanja beras di Ende ikut serta. Puji Tuhan.

Betapa saya tidak menyangka, orang yang bahkan tidak saya kenal dengan sepenuh hati membantu saya. Saya tidak meminta bantuannya untuk mencarikan kendaraan. Dengan tulus hati, ia memberi pertolongan. Saya mengucapkan terima kasih dan berdoa dalam hati agar beliau selalu diberkati sepanjang hidupnya. Kebaikan-kebaikan seperti ini yang selalu menyentuh hati saya. Terlebih saya adalah orang asing di tanah orang.

Jalanan menuju Bajawa dari Ende awalnya banyak yang rusak. Setelah beberapa kilometer, ada yang sangat baik. Mama bilang bahwa jalanan yang mulus dengan pagar pembatas dan lampu penanda di aspal merupakan proyek bantuan asing. Sayangnya, saya lupa dari negara mana. Berbeda dengan jalan-jalan yang dibangun oleh pemerintah yang sebentar-sebentar cepat rusak.

Perjalanan menyusuri liuk-liuk jalanan Ende – Raja memakan waktu sampai dua jam. Sampailah saya di percabangan jalan di mana ke kiri menuju Raja dan ke kanan menuju Ende. Di sini saya berpisah Mama dan supir truk yang telah memberi tumpangan. Terima kasih atas bantuan yang telah diberikan dan semoga selalu diberkati.

Percabangan jalan ini ternyata sepi. Saya pikir akan seramai rest area tempat saya menunggu tumpangan sebelumnya. Hanya ada rumah-rumah warga, sebuah warung dan sebuah bengkel. Kendaraan yang lewat pun hanya 5-10 menit sekali. Saya pesimis akan segera mendapat tumpangan lagi menuju Bajawa.

Matahari semakin condong ke barat. Terik matahari semakin lama semakin berkurang. Setengah jam berlalu dan belum ada kendaraan yang sudi memberi tumpangan. Akhirnya, saya putuskan untuk naik mobil travel yang sedang melintas.

Biaya mobil travel dari Ende ke Bajawa biasanya Rp 100.000. Oleh karena itu, supir travel menawarkan harga Rp 50.000 menuju Bajawa karena sudah ada di tengah-tengah. Saya masih menawar harga tersebut dan berakhir di harga Rp 30.000.

Dari truk pengangkut beras beralih ke mobil Avanza. Bangku tengah sudah tiga orang namun depan sudah terisi dan bangku belakang beralih jadi bagasi. Mau tidak mau, saya berdesakkan dengan tiga orang remaja perempuan di bangku tengah. Menyandarkan punggung saja tidak bisa.

Mobil travel ini ternyata tidak hanya mengangkut penumpang. Memiliki fungsi lain sebagai jasa pengiriman barang. Beranjak dari Raja, mobil menuju sebuah perkebunan dan peternakan ayam. Saya kira akan menurunkan penumpang ternyata hanya mengantarkan barang saja.

Hari semakin gelap dan kabut perlahan turun di Bajawa. Dingin menyusupi pori-pori kulit. Sempat bertanya-tanya alamat tempat persinggahan yang baru. Akhirnya, saya sampai juga di Bajawa sesaat sebelum maghrib menjelang.

Tags : BajawaEndeFloreshitchhikingsolo travelingtraveling
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar