close
IMG_2578

Bajawa adalah ibukota dari Kabupaten Ngada, Flores. Saya sampai di kota ini ketika kabut mulai turun dan gelap merayapi hari. Saya berteduh di basecamp guru-guru program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T). Tempat ini direkomendasikan oleh teman-teman SM3T di Ende.

Kami saling memperkenalkan diri. Ada beberapa guru yang mengajar di kota hingga ke desa-desa di Ngada. Perjalanan ke desa memerlukan waktu tempuh berjam-jam dari kota. Bagi yang tinggal di jauh dari hiruk pikuk kota, biasanya akhir pekan berkunjung ke basecamp ini untuk berkumpul bersama rekan guru lainnya.

Suasana di Credo Cafe

Mengetahui tujuan saya melihat pengolahan kopi, teman-teman SM3T Bajawa mengajak saya mencoba olahan kopi Bajawa di Credo Café, Jl. D. I. Panjaitan. Senang sekali terdapat sambungan internet di tempat ini. Sudah beberapa hari paket internet saya habis dan tidak mengisinya untuk menghemat biaya perjalanan. Saya juga berbincang dengan pemilik café dan beberapa turis asing yang bertandang.

Basecamp SM3T Bajawa sedang ramai karena beberapa anggotanya akan mendaki Gunung Inerie. Saya yang masih lelah dari Ende sangsi untuk ikut. Lagipula, saya jarang berolahraga dan takut menyusahkan orang-orang yang baru saya kenal. Rencananya, tim pendakian berangkat pukul 00.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah).

Sekitar pukul 23.00, anggota yang tidak ikut pendakian pamit untuk tidur. Saya pun ikut undur diri untuk beristirahat. Gelisah sebenarnya. Ajakan untuk mendaki gunung itu menggoda sekali. Kapan lagi bisa naik gunung? Jika lusa atau hari-hari lainnya bisa tidak ada teman yang mau menemani. Saya bingung memutuskan untuk terlelap atau ikut serta mendaki gunung yang terletak di Desa Tiworiwu I, Kecamatan Jerebuu, Bajawa.

Kali ini, keputusan impulsif menjadi pemenang. Saya beranjak dari tempat tidur dan memberitahukan tim yang bersiap-siap bahwa saya akan ikut. Bawa perlengkapan seperlunya, saran Mas Rio Respati. Saya dipinjamkan sebuah tas punggung kecil untuk membawa baju ganti dan makanan ringan. Masih ada cemilan dan cokelat cadangan di tas saya. Semoga cukup, doa saya dalam hati.

Sewaktu di Credo Café, saya sempat menanyakan bagaimana trek pendakian Ineria ke Mas Rio.

“Seperti Papandayan lah kalau di Jawa”, jawabnya dengan enteng.

Inilah yang menjadi salah satu alasan memutuskan untuk ikut. Gunung Papandanyan memiliki trek bersahabat, hanya trek pendek sebelum Tegal Alun yang cukup terjal.

Rombongan besar guru-guru SM3T sudah berangkat terlebih dahulu. Tersisa saya dengan tiga orang pengajar SM3T, yaitu Mas Rio Respati, Mas Teguh Agil Wibowo dan Mas Febyan Kristanto. Bersama-sama kami bergegas ke kaki gunung Inerie menembus dinginnya malam Bajawa menggunakan sepeda motor. Gelap. Cahaya bulan pun tertutup rerimbunan pohon di kiri kanan jalan. Saya hanya bisa berdoa dalam hati agar kami selamat sampai tujuan.

Rombongan ternyata sudah naik terlebih dahulu untuk mengejar terbitnya matahari. Berempat kami menyusuri hutan dan ladang-ladang penduduk untuk menemukan jalur pendakian. Mencoba beberapa jalan setapak yang keliru sampai akhirnya menapaki jalur yang tepat setelah 30 menit tersesat.

Semakin mendaki, semakin hilang pepohonan yang dapat menahan angin malam. Tersisa alang-alang yang bergerak-gerak tertiup angin kencang. Mau tidak mau, kami harus terus melangkah agar terus berkeringat dan tidak menggigil kedinginan. Jika ingin beristirahat, kami duduk di balik batu besar atau gundukan tanah untuk menghindari terpaan angin malam.

Keikutsertaan saya yang mendadak membuat tiga orang pengajar SM3T tertinggal dari rombongan. Senter yang sudah disiapkan terbawa rombongan. Kami berempat pun hanya menggunakan nyala senter telepon genggam selama perjalanan.

Menjelang pagi, tampak rombongan sedang beristirahat di gundukan batu besar. Mas Rio memilih untuk tetap tinggal karena ingin merekam terbitnya matahari. Ia menyuruh kami menyusul rombongan di atas.

Setelah dua jam perjalanan, trek yang bersahabat kini menjadi trek yang jahat. Semakin terjal dan menguras tenaga. Menyerah menjadi opsi yang terngiang-ngiang di kepala.

Sesaat sebelum bergabung dengan rombongan besar, matahari mulai mengintip dari balik Gunung Ebulobo. Gunung di sisi timur Inerie ini menjadi latar pergantian malam menuju pagi. Semburat cahaya oranye perlahan-lahan menggantikan pekat malam. Betapa indah ciptaan Sang Maha Kuasa. Mungkin ini pengganti sunrise yang belum sempat saya saksikan di Kelimutu.

Matahari terbit di Inerie berlatar Gunung Ebulobo

Setelah selesai mengabadikan keindahan semesta, kami melanjutkan perjalanan ke puncak Inerie. Dingin malam tergantikan terik matahari. Trek ke puncak terjal berbatu. Lagi-lagi saya berpikir untuk tidak mencapai puncak. Lelah sekali rasanya. Apalagi seharian belum sempat istirahat, dari Ende menuju Bajawa dan mendaki Inerie.

Teman-teman SM3T terus memberi semangat. Padahal, kami baru saling kenal tadi pagi tetapi mereka begitu baik hati. Akhirnya, sekitar pukul 07.30 WITA sampai juga di puncak 2 Gunung Inerie. Melihat Bajawa dari ketinggian. Tampak Gunung Ebulobo di sisi timur, ladang-ladang yang tadi malam kami lewati, desa-desa dan hamparan laut Sawu di selatan. Saya berhasil mengalahkan diri sendiri.

Pemandangan dari Puncak Inerie
Berbatasan dengan Laut Sawu

Menuju puncak 1 Inerie membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit lagi. Rombongan banyak yang enggan ke titik tertinggi 2.245 mdpl. Tampaknya, kami sudah cukup puas mencapai puncak gunung ini.

Sekitar pukul 09.00 WITA, bergantian kami menuruni lereng Inerie yang licin berkerikil. Kami melungsurkan diri di jalur kerikil tersebut. Seperti jalur turun di Gunung Semeru. Awalnya sempat takut terjungkal. Setelah diajari trik khusus menuruni lereng ini, saya malah menikmatinya. Seru sekali meluncur di atas kerikil! Sepanjang perjalanan meluncur, saya ditemani seorang anak kecil bernama Binus, kelas 5 SD. Ia hanya mengenakan sendal jepit. Meluncur dengan gesit dan naik dengan cepat jika ada yang membutuhkan pertolongan. Jika ada anggur hutan yang matang, ia petik untuk dimakan. Saya pun ditawarkan, sempat ragu tapi akhirnya saya coba. Rasanya asam namun menyegarkan.

Pendaki yang turun meluncur menyebabkan banyak batu-batu terlempar tak tentu arah. Ketika sedang beristirahat di sisi lereng, saya tertimpuk batu dari atas. Cukup nyeri hingga membuat biru tangan saya.

Lereng berkerikil telah habis jalurnya. Menuju desa masih harus melewati jalur berbatu dan beralang-alang. Saya terpisah dari rombongan. Sepertinya, saya melewati sisi lereng yang salah. Rombongan ada di jalur lain bersama Binus. Saya malah sendirian meski jauh di depan saya ada beberapa orang yang berjalan duluan.

Terik matahari menyengat dan meluruhkan semangat. Sisa-sisa tenaga sepertinya tidak cukup untuk mencapai desa. Cuma ada saya untuk menyemangati diri sendiri. Dengan langkah gontai, saya perlahan-lahan menuruni lereng gunung. Semoga tidak ada ular yang menyengat saya di tengah perjalanan. Sebuah doa yang saya gumamkan dalam hati.

Akhirnya, sampailah saya di sebuah rumah berbilik bambu milik warga pemilik ladang sekaligus pemandu lokal Gunung Inerie. Sebagian rombongan beristirahat di sana. Keringat masih mengalir deras dari pori-pori. Di bilik bambu itu, kami berbincang-bincang sambil melepas lelah. Disuguhi secangkir kopi susu panas.

Tags : BajawaCredo CafeFloresgunungGunung EbuloboGunung InerieIneriekopiLaut SawuNgadaNusa Tenggara TimurpendakianSM3Tsunrise
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz