close
IMG_2640

Krisis Air

Letih masih menjalar di seluruh tubuh sehabis mendaki dan menuruni Gunung Inerie seharian penuh. Tenaga sudah habis. Rasanya ingin membersihkan badan kemudian terlelap untuk membalas absen tidur tadi malam. Kami, rombongan pendaki Inerie, beristirahat di tempat tinggal Mbak Atin dan Mbak Mia, pengajar Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) di desa Tiworiwu 2, Jerebuu, Bajawa. Sayangnya, berlokasi di kaki gunung tidak menjamin desa ini berkelimpahan air.

Mbak Atin dan Mbak Mia, kedua pengajar SM3T, tinggal di bangunan sekolah yang tadinya diperuntukkan sebagai perpustakaan. Dikarenakan perpustakaan belum siap beroperasi sehingga sementara menjadi tempat bernaung kedua perempuan tangguh ini.

Tinggal di Tiworiwu 2 berarti harus bertahan menghadapi krisis air. Air tidak setiap saat tersedia. Keduanya harus menampung air dari selang yang menjulur di tepi jalan yang dikelola oleh pihak desa untuk kebutuhan warga. Sebenarnya, sudah ada jadwal mengalirnya air namun terkadang masih tidak pasti hari dan jamnya. Aliran air lebih banyak mangkir dari jadwal sehingga warga harus pintar-pintar menyiasati saat air tidak mengalir. Selain itu, mendapatkan air juga harus antri kemudian mengangkutnya ember demi ember ke tempat penampungan air. Jarak saluran air dan penampungan air sekitar 300 meter. Harus berhati-hati mengangkut air agar air tidak berceceran di jalan dan malah habis ketika sampai penampungan.

Minggu, 3 April 2016, ketersediaan air di tempat tinggal Mbak Atin sedang dalam kondisi darurat. Harus benar-benar berhemat. Untuk buang air kecil saja minim sekali. Keinginan saya untuk bersih-bersih pun tertunda. Sudah beberapa hari air tidak mengalir sesuai jadwal katanya.

Setelah makan dan beristirahat sebentar, rombongan kembali ke tempat tinggal masing-masing di berbagai penjuru desa di Ngada. Saya sendiri masih kebingungan antara kembali ke basecamp di tengah kota Bajawa yang juga krisis air atau ke tempat Mbak Vita di desa Tude di mana air melimpah ruah. Saya bersikeras untuk membersihkan diri karena badan saya sudah teramat lengket oleh keringat saat pendakian. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Mbak Atin dan warga bertahan saat tidak ada air sama sekali tanpa ada kepastian kapan air akan mengalir. Hal ini membuat saya menghargai setiap tetes air di tanah ini. Ende pun demikian, saya selalu diingatkan untuk menghemat air.

Akhirnya, Mbak Atin pun menyarankan untuk mencari tumpangan mandi di rumah warga, siapa tahu ada yang persediaan airnya masih banyak dan berbaik hati memberikan tumpangan. Belum lama kami berjalan, selang air di tepi jalan tiba-tiba mengalir. Mbak Atin dan saya seketika bersorak gembira danΒ bergegas mengambil ember-ember untuk memindahkan air ke penampungan. Warga lain pun berdatangan untuk mengantri.

Saya membeli sampo di warung dekat selang air. Saya disarankan untuk keramas langsung di dekat selang air daripada harus bolak-balik membawa ember ke kamar mandi Mbak Atin. Ini pengalaman pertama keramas di pinggir jalan. Untungnya, tidak banyak warga maupun kendaraan yang lewat. Selesai keramas dan mengangkut air ke tong penampungan, saya pun mandi dengan seember penuh air di kamar mandi berbilik kayu tanpa lampu. Padahal hari semakin gelap. Penerangan saya hanya sisa-sisa cahaya matahari sebelum berganti malam.

Sekitar pukul 19.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah), saya pun memutuskan untuk menginap di tempat Mbak Vita di Tude. Baju saya dari Ende dan yang saya pakai saat pendakian kotor dan harus dicuci. Jika tidak, pakaian bersih saya akan habis. Aliran air tadi sore hanya sebentar. Tong penampungan Mbak Atin hanya terisi sepertiganya. Entah kapan air akan mengalir lagi.

Dengan ojek langganan Mbak Atin, saya diantarkan ke rumah kepala desa Tude. Kepala desa yang menampung dua pengajar SM3T, yaitu Mbak Vita dan Mbak Ayu. Perjalanan menuju Tude dari Tiworiwu 2 gelap gulita. Tidak ada penerangan jalan, rumah warga pun jauh dari tepi jalan. Kami menembus gelap dan jalan rusak berbatu-batu.

Di rumah kepala desa Tude, saya disambut dengan baik oleh keluarga di sana. Benar saja air begitu melimpah. Mengalir langsung ke tempat pencucian. Tidak perlu angkut-angkut air dari tepi jalan atau menunggu jadwal mengalir. Saya dipersilakan untuk mencuci baju menggunakan mesin cuci. Betapa canggung saya menggunakan perangkat tersebut. Di rumah saya sendiri, saya masih mencuci dengan tangan.

Kampung Adat Bena

Kampung Adat Bena

Keesokan harinya, badan saya terasa remuk. Pegal-pegal sehabis pendakian masih melekat. Jadwal hari ini adalah mengunjungi Kampung Adat Bena bersama Mbak Vita dan Mas Yusuf, keduanya juga pengajar SM3T. Jalan rusak menjadi sahabat kami. Harus tahan terguncang-guncang di atas motor.

Mbak Vita telah menjadi langganan tour guide dadakan bagi teman-temannya yang ingin berkunjung ke Bena. Ia memperkenalkan saya dengan keluarga kepala desa Bena. Kami dipersilakan masuk ke teras rumah di mana istri dan ibu kepala desa sedang menenun menggunakan benang berwarna-warni. Tidak lama kami berbincang, bapak kepala desa datang dan menjelaskan sejarah dan budaya Kampung Adat Bena.

Kampung Adat Bena memang tidak sepopuler Kampung Adat Wae Rebo di Ruteng. Namun anehnya banyak dari orang yang saya temui selama perjalanan di Flores lebih merekomendasikan Bena daripada Wae Rebo. Lebih banyak yang bisa digali atas keunikan budayanya, kata orang-orang yang merekomendasikan. Hal yang harus saya buktikan sendiri.

Kampung Adat Bena terletak di atas bukit di kaki Gunung Inerie. Terhampar puluhan rumah kayu beratap alang-alang. Terdapat sekitar 9 suku, 45 rumah, 120 keluarga dan 326 jiwa penghuni kampung telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu (Direktori Pariwisata NTT). Setiap rumah dibangun dengan upacara adat yang berlangsung secara bertahap selama tiga bulan dan menelan biaya hingga ratusan juta rupiah.

Menenun benang warna-warni

Pepohonan dan ladang yang melingkupi desa membuat udara begitu sejuk. Di teras rumah adat, menggantung kain tenun yang berwarna-warni dengan motif yang didominasi oleh kuda sebagai lambang suku. Di bagian bawah rumah terdapat ukiran kayu bermotif yang dicat warna hitam dan putih. Dipajang juga tanduk kerbau dan taring babi di bagian depan rumah. Mama yang sedang menenun melemparkan senyum dan mengajak kami untuk mampir.

Berjalan terus ke bagian tanah yang lebih tinggi, terdapat susunan batu yang dipercaya dari zaman megalitikum, ngadhu berupa tiang berpayung alang-alang yang menjadi simbol laki-laki, bhaga berupa bangunan seperti lumbung beratap alang-alang sebagai simbol perempuan dan peu berupa batu berukuran sedang untuk mengikat kerbau yang akan disembelih. Ngadhu dan bhaga masing-masing berjumlah sembilan yang melambangkan sembilan suku yang tinggal di kampung ini.

Menurut cerita penduduk, susunan batu megalitikum yang paling tinggi akan memberi isyarat jika ajal sedang mendekati salah satu anggota desa. Isyarat tersebut berupa darah yang tiba-tiba muncul di permukaan batu. Tidak lama setelah darah tersebut muncul, dipastikan ada salah satu anggota desa yang menghembuskan nafas terakhirnya.

Mengupas kemiri

Kami singgah di rumah yang paling ujung. Ada Mama Maria yang sedang mengupas kemiri dengan cara memukulnya ke benda keras menggunakan kayu khusus (yang saya lupa namanya). Sementara, ibu Mama Maria, Mama Emilia sedang sibuk mengunyah sirih pinang yang membuat mulut dan giginya merah merona. Saya menanyakan apakah boleh saya mencoba mengupas kemiri, beliau pun mengijinkan. Sekali pukul, kulit kemiri tidak langsung pecah. Mama Maria bilang kalau pukulan saya kurang keras dan sedikit keliru arahnya. Baiklah, saya coba lagi. Percobaan kedua berhasil.

Mata pencaharian penduduk Bena adalah bertani, berladang dan menenun. Β Hasil tani dan ladang berupa lada, cengkeh, kemiri, kakao, pala dan jagung. Kain tenun dari Bena harganya cukup tinggi, mulai dari Rp 200.000. Sayang sekali, saya tidak dapat membeli satu pun dari kain-kain cantik itu karena keterbatasan biaya perjalanan. Destinasi saya masih ada Ruteng, Labuan Bajo dan perjalanan kembali ke rumah. Mau tidak mau harus berhemat.

Ada permainan congklak dengan jumlah biji congklak sebanyak empat buah yang berasal dari buah dhara. Aturannya pun berbeda dengan congklak pada umumnya, jika sudah isi empat maka akan dapat empat. Permainan ini biasanya dilakukan di luar jam kerja, yaitu pada malam hari.

Di tanah yang paling tinggi sekaligus ujung dari desa ini, terdapat patung Bunda Maria sebagai tempat untuk memanjatkan doa. Penduduk desa Bena telah memeluk agama Katholik dan masih memegang teguh kepercayaan serta adat yang berlaku sejak ribuan tahun lalu. Agama dan budaya bisa melebur secara harmonis di sini.

Jika berkunjung ke Flores, sempatkanlah mampir ke Kampung Adat Bena. Sebuah desa yang menyuguhkan keindahan alam sekaligus keragaman budaya yang patut untuk ditelusuri!

Tags : BajawaFloresGunung InerieInerieJerebuukampung adatKampung Adat BenaKampung BenaKampung tradisional Benakrisis airNgadaNusa Tenggara TimurTiworiwu
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

27 Comments on "#KembaraNusaTenggara: Menyapa Kampung Adat Bena"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
bang doel
Guest

sumber air su dekat??.. duh NTT baru nyampe kupang aja

Hayati Ayatillah
Guest

Seru banget, ka.. aku jadi penasaran batu megalitikum itu, koq bisa kayak gitu ya..

Tengku
Guest

Nice, belum kesampaian ke daerah timur. Memang tak ada habisnya cerita menarik dr timur

Lisa Fransisca
Guest

bersyukur banget ya kita yang tinggal di ibukota, ga merasakan kesulitan air.

btw, nice share kak maria!
selalu menarik melihat sebuah kampung yang mempertahankan adat dan budayanya πŸ™‚

Arlindya sari
Guest

Hhmmm…menambah wawasan nih. Selain wae rebo ada kampung bena juga ternyata

Lalaysf
Guest

Btw mar, gue gak bisa bayangin kalo gue harus keramas dipinggir jalan.

Kartini
Guest

Keren.. Jd pengen ke daerah timur stlh baca dan melihat foto2nya.

Achi
Guest

Waah orang-orang harus baca ini supaya nggak menyia-nyiakan air, banyak orang2 kota nggak peduli dengan ketersediaan air tanah, nun jauh di pulau sana, banyak saudara2 kita yang kekurangan air bersih πŸ™

Maya Nirmala Sari
Guest

Jadi lebih bersyukur tinggal di daerah yang mudah mendapatkan air. Semoga saudara-saudara kita di sana kehidupannya selalu lancar yaa.. Biar kita bisa tetap berkunjung ke Bena πŸ™‚

Ning
Guest

Luar biasa ya orang2 yang mau mengajar di daerah terpencil. Mereka harus siap dgn segala keterbatasan.

airin
Guest

Jadi tahu keunikan pulau seberang yang jarang diekspos tetapi terdapat keindahan tersembunyi

Annisa
Guest

Wah betapa kita harus menghargai tetesan air.. Indah ya Flores! Semoga bisa kesana πŸ™‚

Taumy
Guest

Semoga masalah air ini bisa lebih cepat tertangani.

inez
Guest

pengen ke sini bagus! πŸ™‚
http://www.belajaronlineshop.com

wpDiscuz