close
IMGP3549

Kebiasaan mencatat akan terasa menguntungkan ketika kita membutuhkannya di kemudian hari. Sepanjang Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi, saya menghabiskan dua buku catatan kecil. Cukup sekali untuk mengembalikan memori-memori selama ekspedisi ditambah bantuan berkas digital seperti foto dan video.

Tercatat Selasa, 12 Februari 2013, pihak kampus meminta untuk wawancara terkait keberangkatan ekspedisi. Cukup mendadak pemberitahuannya sehingga saya tergesa-gesa datang ke gedung yang ditunjuk. Sesampainya di sana, ada wajah-wajah familiar sejurusan dari Kriminologi dan teman seperjalanan yang saya ceritakan sebelumnya, Rury.

Beredar kabar bahwa salah satu pewawancara dikenal merepotkan dan membuat suasana berlangsung tegang. Khawatir pun menghinggapi saya. Apalagi, relevansi Kriminologi dengan tema ekspedisi berjarak cukup jauh. Sewaktu menunggu, kami yang dari Kriminologi mulai cari-cari  relevansi yang masuk akal.

Pengumuman rekomendasi dari kampus untuk pihak Kopassus sebagai panitia ekspedisi, berlangsung cepat sejak wawancara dilakukan. Jumat, 15 Februari 2013, kabar lulusnya peserta dari Universitas Indonesia sudah tersiar. Sayangnya, teramat dekat tenggat waktu dengan periode dimulainya ekspedisi. Senin, 18 Februari 2013, kami sudah harus berangkat ke Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) di Batujajar, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat.

Beberapa peserta dari kampus makara memutuskan untuk berangkat bersama-sama. Pagi-pagi saya sudah mempersiapkan diri, mengecek ulang barang-barang agar jangan sampai ada yang terlupa. Tergopoh-gopoh membawa carrier berukuran 55 liter dari kosan menuju titik pertemuan di kedai Es Pocong, Margonda, Depok (sayangnya, Es Pocong sekarang sudah tutup).

Margonda padat sekali pagi itu, sekitar pukul 08.00. Ketika semua personil lengkap, kami pun berangkat menggunakan angkot 19 menuju Pasar Rebo. Barang bawaan kami yang cukup banyak membuat mobil berhenti cukup lama. Sukses menambah kemacetan di akses utama warga Depok menuju Jakarta.

Turun di tengah jalan tol

Dari Pasar Rebo, kami naik bis Doa Ibu menuju Sidareja seharga Rp 26.000. Kami tidak turun di terminal atau di jalan biasa, kami turun di tengah jalan tol dekat Samsat Padalarang. Ini jalan pintas menuju Pusdikpassus. Jika turun setelah gerbang tol maupun di terminal, katanya memutar jauh. Jadilah kami secara ilegal turun di tengah jalan tol bersama-sama dengan beberapa penumpang lainnya, menuju jalan raya dan melanjutkan naik angkutan umum ke tujuan.

Akhirnya, sampai juga kami di Pusdikpassus Batujajar. Ini kali pertama saya menjejakkan kaki di kamp pelatihan militer. Semua tampak rapi dan teratur. Penjagaan ketat. Bangunan berjejer rapi, lapangan luas beraspal, truk-truk militer,  slogan-slogan, patung-patung prajurit serta lalu lalang prajurit berseragam loreng-loreng betubuh tegap dengan tampang menyeramkan.

Meski sudah diwawancara oleh pihak kampus, panitia tetap akan melakukan wawancara lagi dan tes fisik. Wawancara tak perlu dikhawatirkan lagi. Tes fisik membuat saya bergidik ngeri. Terbayang pelatihan fisik militer yang ekstrim dan berdisplin tinggi. Kalau benar demikian, kemungkinan saya untuk gugur besar sekali dikarenakan kemampuan saya mengolah fisik sangat minim, ditambah saya juga jarang berolahraga.

Kami melakukan daftar ulang dan menunggu giliran wawancara. Ada beberapa akademisi yang terlibat dalam ekspedisi ini sebagai pemandu penelitian sekaligus menjadi pewawancara. Melihat peserta yang lebih dulu maju, membuat saya bernafas lega, Ternyata tidak ada tes fisik, hanya ada pengecekan kesehatan dasar. Sebuah privilege sebagai warga sipil.

Tidur di barak militer

Selesai wawancara, kami ditempatkan di barak PKP, khusus peserta perempuan. Sebuah ruangan yang memanjang dengan puluhan tempat tidur di sisi kanan dan kiri. Di bagian ujung tempat tidur terdapat lemari kecil. Kamar mandi ada di ujung depan dan belakang bangunan. Saya berkenalan dengan peserta lainnya. Memilih tempat tidur, membereskan barang dan akhirnya terlelap sepanjang sore.

Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan. Sebuah awal untuk perjalanan panjang berbulan-bulan ke depan. Saya hanya bisa berdoa dalam hati agar semuanya diberi kelancaran.

teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz