close
no thumb

Warga Jakarta rampung berpesta pora demokrasi. Putaran pertama gagal menuai pemimpin pilihan. Pilihan menyusut dari tiga jadi dua. Petahana yang digadang-gadang bertahan, harus lapang dada menghadapi kenyataan. Angka menunjukkan warga dominan memilih nomor paling ujung.

Semasa kampanye, para calon lempar janji, lempar bukti. Lempar langsung ke tujuan hingga berputar-putar tak tentu arah. Segala upaya diterobos ‘tuk menarik hati warga.

Salah satu calon tersangkut isu yang rentan. Menggulirkan gelombang aksi massa besar-besaran. Lautan manusia memenuhi jalan. Sekali kurang, dua tidak cukup. Total lima kali para pembela menyuarakan tuntutan. Mendesak pimpinan negara segera menyelesaikan persoalan.

Ada yang melihatnya sebagai peluang. Memanfaatkan untuk jadi jalan menuju kemenangan. Menggandeng pihak-pihak berkekuatan. Berpadu menuju DKI 1.

Ibukota jadi fokus media massa, tersiar nasional. Terpapar ke berbagai lapisan masyarakat di berbagai penjuru republik. Semua ingin angkat bicara. Jika berdekade silam, berbagai isu ramai diperbincangkan, benar-benar berdialog nyata tatap muka. Beda argumentasi tak sampai memutus silaturahmi. Kini, perbincangan beralih jadi tekstual di media sosial.

Apa yang dulu jadi “obrolan warung kopi”, sekarang bertransformasi menjadi timbangan untuk saling dukung atau telikung. Sebagian berhenti menjalin relasi, di dunia maya maupun yang nyata. Betapa mudah warga dipecah pilkada. Atau betapa rentan warga terhadap apa yang tak sepikir sejalan dengannya? Demokrasi bukan hanya perkara memilih pemimpin dan menyuarakan aspirasi, namun juga menghargai beda argumentasi tanpa harus saling benci.

Pemenang boleh berbangga. Petahana punya warga yang sedemikian mencinta. Ribuan rangkaian bunga memenuhi balai kota. Sebagai ungkapan terima kasih dan dukungan sepenuh kasih. Pelipur lara di akhir masa jabatan sang gubernur.

Periode gubernur baru akan segera dimulai. Semoga janji-janji ditepati. Terealisasi tanpa skandal korupsi. Menjadi pemimpin yang melayani . Berpihak pada rakyat bukan konglomerat. Bijaknya, beliau mencarikan solusi untuk konflik horizontal yang kadung pecah atas nama pesta demokrasi.

teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar