close
IMG_2746

Siang menjelang, kesejukan perlahan berganti terik matahari. Kami beranjak dari Kampung Bena untuk kembali ke rumah kepala desa yang semalam saya tumpangi. Saya terkejut ketika pamit kembali ke basecamp SM3T di tengah kota, Mbak Vita memberikan titipan dari pemilik rumah.

“Ini dari Mama Vero buat Mbak Maria. Mama sekarang masih ngajar di sekolah.” Ujar Mbak Vita sambil mengangsurkan sejumlah uang kepada saya. Saya terkejut menerima ini. Saya yang menumpang, malah saya yang diberi uang. (Mama: panggilan untuk ibu di Flores)

Melihat kondisi finansial perjalanan saya yang semakin menipis, saya hanya bisa berterima kasih atas kebaikan hati Mama Vero. Sedikit banyak membantu biaya perjalanan ke Ruteng sebagai rute selanjutnya. Terima kasih banyak Mama Vero atas kebaikan yang telah diberikan dan semoga selalu diberkati Sang Maha Pengasih.

Saya mengambil pakaian yang telah dicuci semalam. Hampir kering, nanti di basecamp bisa dijemur lagi. Saya pun berpamitan untuk kembali dari Tude ke basecamp di tengah kota Bajawa.

Sore berselimut mendung. Rencananya, saya akan mengunjungi Taman Wisata Rohani Maria Ratu Semesta Alam yang terletak di Puncak Wolowio. Lokasinya tidak jauh dari basecamp tempat tinggal guru-guru SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal) tempat saya bermalam.

Jarak yang dekat membuat saya dan Mas Yusuf nekat berangkat meski hujan tampak akan turun. Di perjalanan, saya melihat tanaman kopi di kanan kiri jalan tumbuh dengan lebat. Sebagian sudah berbuah tetapi masih hijau. Belum musim panen sepertinya. Bajawa, kota yang terkenal dengan kopinya yang nikmat.

Rintik hujan turun beberapa detik ketika kami hampir sampai tujuan. Kabut menggelayut di atas kami. Air yang turun sepertinya berasal dari kabut tersebut. Sebentar kemudian hilang tertiup angin.

Taman Wisata Rohani Maria Ratu Semesta Alam di Bajawa

Motor diparkirkan dan kami berjalan kaki menuju Puncak Wolowio dengan jalan yang sudah dibeton. Di taman wisata rohani ini, terdapat patung Bunda Maria Ratu Semesta Alam setinggi empat belas meter dengan ketinggian pondasi tiga meter. Sementara, di sisi yang lain terdapat patung salib yang kira-kira tingginya lima meter.

Salib di Taman Wisata Rohani Maria Ratu Semesta Alam

Dari Puncak Wolowio, terlihat Bajawa dari ketinggian di mana tampak perkebunan dan pemukiman warga. Sesampainya di bawah patung dan salib, saya memanjatkan doa. Doa yang sama yang saya panjatkan di Larantuka, di bawah patung Tuan Ma, Tuan Ana, Tuan Berdiri dan Anak Yesus. Tentang kehidupan pribadi, keluarga, karir dan masa depan. Semoga diberikan jalan dan kekuatan untuk melewati rupa-rupa liku kehidupan ini.

Gereja dan masjid dibangun berseberangan di Bajawa

Keesokan harinya, saya mengunjungi Pasar Inpres Bajawa dengan berjalan kaki untuk berbelanja. Saya kagum dengan kerukunan umat beragama di sini. Gereja dan masjid dibangun berseberangan. Toleransi dijunjung tinggi. Sementara, di beberapa kota lain, umat yang ingin beribadah kerap dicekal warga atau organisasi masyarakat. Sentimen agama selalu membuat saya sedih. Kapan umat beragama di seluruh nusantara dapat hidup selaras tanpa harus ada kericuhan?

Untuk rumah yang saya tumpangi, mungkin saya tidak bisa membayar dengan uang mengganti biaya menginap dan makan. Mungkin saya hanya bisa menggantikannya dengan membelikan buah atau bahan makanan sekadarnya. Ungkapan rasa terima kasih karena telah berbaik hati membukakan pintu rumahnya bagi musafir seperti saya.

Hari itu, Selasa, 5 April 2016, perjalanan saya menginjak hari ke – 18. Tidak terasa hampir tingga minggu menyusuri Flores. Siangnya, saya akan beranjak dari Bajawa menuju Ruteng. Sebelum berangkat, saya sempatkan mampir ke koperasi petani kopi. Penasaran saya ingin mengetahui proses pengolahan kopi langsung dari lokasi penanamannya yang tersohor di Indonesia.

Persinggahan ke koperasi kopi ini yang di kemudian hari menginspirasi saya untuk membuat ruang menulis kopi khusus yang terpisah dari Teras Kata, yaitu Kopitala. Agustus 2016, Kopitala hadir sebagai tempat saya mencurahkan ketertarikan terhadap dunia kopi. Silakan berkunjung ke Kopitala.com yang juga aktif di Instagram dengan akun Kopitala. Cerita koperasi kopi yang saya datangi dapat dibaca di sana.

Saya berkemas. Perasaan ini selalu ada dan membebani. Ketika kamu sudah jatuh hati pada sebuah kota namun harus meninggalkannya. Perjalanan tak boleh berhenti. Semua peristiwa, hanya bisa saya simpan baik-baik dalam hati.

Tags : BajawaFloresNgadaNusa Tenggara TimurPuncak WolowiuTaman Wisata Rohani Maria Ratu Semesta Alam
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

4 Comments on "#KembaraNusaTenggara: Mengitari Bajawa"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
endang cippy
Guest

Tq sdh sharing cerita
U pergi k Indonesia Timur
Mgkn aku akan pikir panjang kali lebar…
Hrg perjlnannya sebanding hrg motor honda vario tipe standar.

abesagara
Guest

Tulisannya bagus mba, mengalir dengan deras. Orang timur memang baiknya ngga ketulungan. Mungkin, kesederhanaan lah yang membuat mereka sebaik itu.

wpDiscuz