close
Daily Routine Coffee

Semesta mengguratkan peristiwa. Memberikan manusia rupa-rupa rasa. Acap kali, peristiwa tak pernah terduga. Entah menciptakan kenangan baru atau membongkar masa lalu.

Manusia punya hal yang dihindari tapi semesta punya cara untuk menghampiri. Bertahun-tahun berusaha akan tak berdaya jika semesta berkehendak. Tanpa intensi pribadi, ia mengkonstelasi peristiwa dan membawamu ‘tuk melewati sebuah ruas jalan. Ruas jalan yang akan menggagalkan sebuah usaha bernama melupakan.

Seketika tercekat. Tergugu beberapa jenak saat melewati ruas jalan itu. Dengan kecepatan cahaya, memori-memori berhamburan tanpa bisa dikendalikan. Memori yang pernah lama teramat mengganggu hari-hari. Berbagai cara dilakukan untuk tidak kembali ke lubang memori yang menghisap sari-sari kehidupan.

Potongan kenangan berlarian tak karuan. Mencampur aduk rupa-rupa rasa. Ingatan tumpang tindih.
Luka kembali menganga. Pikiran dan perasaan berkecamuk. Hanya ingin terpejam dan ketika terbangun tak ingat lagi perasaan yang telah porak poranda.

Hari telah berlalu namun menyisakan langit gelap yang meredupkan hari esok yang cerah. Setitik optimisme nyatanya masih tersimpan, berharap bumi parahyangan memberi penawar bagi hati yang luka.

Mengunjungi sebuah kedai kopi yang paling direkomendasikan se-Bandung Raya menjadi opsi. Banyak ungkapan tentang keajaiban kopi seperti “coffee is a hug in a mug”, “a cup of joy”, “coffee understands” dan masih banyak lagi. Semoga ungkapan itu benar.

Daily Routine Coffee terletak di seberang asrama putri ITB. Meski sempat sedikit terlewat namun akhirnya sampai juga. Tak ada papan nama di depan. Memodifikasi peti kemas bekas menjadi bar dan tempat bernaung para pelanggan.

Tampaknya mereka baru datang. Saya diminta menunggu karena segalanya masih dipersiapkan. Baiklah, tak ada salahnya menikmati sejuk udara Bandung sambil membaca buku yang tersedia. Puluhan buku tertumpuk begitu saja. Setelah pilah-pilih, mata saya tertampuk pada buku berjudul Tempat Paling Liar di Muka Bumi karya kolaborasi Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes. Sepasang kekasih yang mahir melahirkan puisi

Membaca kata demi kata dalam barisan puisi tersebut perlahan-lahan mengobati luka yang kembali menganga semalam. Barisan diksi sederhana penuh makna. Tentang kisah kasih insan manusia. Memberi arti pada sebuah relasi yang dibangun oleh hati.

Matahari sore menyusupi rimbun daun di halaman kedai kopi. Semilir angin seolah menghempaskan serakkan kenangan yang telah memporakporandakan relung hati. Barisan puisi yang tengah saya baca memberi bahan bakar untuk kembali melaju, tak lagi terpaku pada masa lalu.

Kedua penyair merangkai kata tentang aneka rupa cara dan sudut pandang mencintai. Tentang keindahan cinta, siksaan jarak, keberanian melepaskan dan perihnya luka. Hingga sebuah paragraf begitu serasi dengan kondisi saya kala itu:

luka-luka cinta

“kekasih,
bila aku tidak mampu mencintaimu dengan baik
akan kuambil tempat paling jauh dari dirimu,
barangkali itu ruang-ruang yang masih kosong di langit,
atau tempat-tempat paling gelap bagi matamu, supaya di sana,
sebab telah kuketahui dari musim kemarau yang panjang
bila cinta tidak menemukan jalan-jalan yang benar
ia hanyalah luka tanpa bentuk dan rupa
luka yang paling luka.”

“bila kau tanya, luka karena cinta itu seumpama apa?
ia seumpama malam; hujan turun menusuk-nusuk rembulan,
rembulan teriak aduh-aduh, berlindung pada awan hitam,
awan hitam berlindung pada malam, malam sembunyi
kau dapat bayangkan, malam yang sudah gelap, sembunyi,
tak kelihatan muka, tak ada bayangan
adakah yang lebih berbahaya
dari malam yang tak kelihatan muka?
ada, kekasih, ada: itu adalah jarak.
jarak membuat luka karena cinta.
jarak karena luka, jarak karena cinta.

betapa berbahaya
sepasang kekasih yang dilukai karena jarak,
hingga cinta-cinta mereka kehilangan makna.”
……
…….
……..
[WJ & TR || Ambon-Bandung, 28 Maret, 01.46]

Rangkaian kata lainnya juga tak kalah menakjubkan. Betapa ajaib baris-baris puisi mampu merestorasi sebongkah hati yang hancur semalam dengan kekuatan kata dan rasa. Berangsur-angsur pulih ditambah bantuan secangkir kopi yang nikmat dan suasana yang bersahabat.

Nukilan Tempat Paling Liar di Muka Bumi (I)
Nukilan Tempat Paling Liar di Muka Bumi (II)

 

Tags : Bandungbuku puisiDaily Routine CoffeepuisiTempat Paling Liar di Muka BumiTheoresia RumtheWeslly Johannes
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

2 Comments on "Suatu sore dengan Secangkir Kopi, Baris-baris Puisi dan Sepotong Kenangan"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Ocit
Guest

Tulisannya bagus banget, kak. Aku terhanyut membacanya.