close
IMG_2656

Berat rasanya meninggalkan Bajawa. Pesona alam, budaya dan keramahan warganya membuat saya terpikat. Hanya saja, perjalanan harus terus berlanjut. Seorang teman di Ruteng berkali-kali mempertanyakan kapan saya akan mengunjungi tanah kelahirannya. Akhirnya, Selasa, 5 April 2016, saya memastikan untuk beranjak dari Bajawa.

Pagi sebelum berangkat, saya ke pasar dan berkunjung ke koperasi petani kopi. Seusai makan siang di basecamp guru-guru SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal), saya diantarkan menuju pertigaan jalan di mana angkutan umum dan travel menunggu penumpang. Pertigaan ini adalah akses utama menuju Ruteng.

Terima kasih untuk semua teman-teman SM3T Bajawa yang mengijinkan untuk tinggal dan merepotkan kalian. Hanya Sang Pencipta dapat membalas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan. Semoga pengabdian teman-teman menjadi inspirasi bagi siswa dan masyarakat Bajawa.

Pertigaan Watujaji adalah tempat saya menunggu kendaraan yang akan mengantarkan saya ke Ruteng. Kali ini, saya tidak mencari tumpangan atau hitchhiking. Saya memutuskan untuk mencoba naik “mobil travel” yang tersedia di Pertigaan Watujaji. Sekali-sekali boleh lah tidak bersusah-susah cari tumpangan. “Mobil travel” yang dimaksud adalah mobil pribadi seperti Avanza atau Xenia yang digunakan mengangkut penumpang antarkota. Seperti yang sebelumnya saya tumpangi dari Raja menuju Bajawa.

Saya sudah membayangkan duduk manis di “mobil travel”, menyalakan pemutar musik sambil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Bayangan tersebut tak kunjung terwujud. “Mobil travel” memang sudah ada tidak lama setelah saya sampai namun mereka masih menunggu penumpang lainnya. Saat itu, baru ada saya yang akan bertolak ke Ruteng menggunakan jasa mereka.

Setengah jam berlalu dan belum ada tambahan penumpang. Matahari bersinar terik tetapi angin berhembus sepoi-sepoi, apalagi Bajawa adalah dataran tinggi sehingga hawa terasa sejuk. Saya pun mengantuk. Lalu saya minta ijin untuk tidur di dalam mobil agar bisa tidur lebih nyaman. Sebelumnya, saya menunggu dengan duduk-duduk di halaman restoran yang memang biasa dipakai untuk penumpang menunggu.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 WITA, tandanya sudah 2,5 jam saya menunggu. Penumpang lain tidak kunjung datang. Saya gelisah kalau-kalau sampai malam tidak ada penumpang, bagaimana nasib keberangkatan saya ke Ruteng? Saya tidak berani untuk melakukan perjalanan malam. Berisiko. Terpikir untuk kembali menginap semalam lagi di basecamp SM3T Bajawa meski harus menanggung malu karena siangnya sudah berpamitan. Di sisi lain, tidak enak juga dengan teman di Ruteng yang sudah menunggu kedatangan saya sejak berhari-hari lalu. Dikarenakan awalnya saya tidak berencana ke Bajawa dan langsung ke Ruteng dari Ende.

Saya hampir putus asa ketika sopir mengatakan bahwa ia tidak akan berangkat ke Ruteng. Membawa satu penumpang saja malah membuatnya rugi. Beruntung ada kendaraan yang ingin kembali ke Ruteng dan menawarkan untuk membawa saya ke sana.

Baiklah, masih ada matahari di atas kepala. Saya pun terpaksa ikut “mobil travel” yang baru ini. Deg-degan sebenarnya karena saya satu-satunya penumpang di mobil tersebut. Kekhawatiran dan prasangka buruk lalu lalang di kepala. Mengerikan karena jalur yang kami lewati terbilang sepi.

Saya berjaga-jaga dengan pisau lipat kecil dan stun gun di tas kecil. Supir travel ini pun canggung diajak bicara yang malah membuat saya semakin takut. Apalagi mobil ini kurang stabil karena ada masalah di bagian ban. Ia mengatakannya ketika di kiri kanan jalan sudah hutan semua. Apa saya akan sampai ke Ruteng dengan selamat kalau bannya saja sudah bermasalah di awal perjalanan seperti ini?

Saya tidak bisa tidur karena cemas. Was-was kalau akan terjadi apa-apa. Di beberapa titik sempat ada warung dan saya menyarankan untuk berhenti di situ untuk memperbaiki mobilnya. Ia mengelak dan mengatakan bahwa lebih baik memperbaikinya di tempat yang lebih ramai di dekat Ruteng.

Langit semakin redup. Jantungnya masih terus kencang berdegup. Setelah 1,5 jam perjalanan, sampailah kami di Borong, ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Kondisi sudah cukup ramai dengan ruko di kiri kanan jalan. Supir pun menepikan mobilnya untuk reparasi.

Doa agar selamat sampai tujuan terus saya panjatkan dalam hati. Selesai mereparasi, perjalanan berlanjut menuju Ruteng. Beberapa saat setelahnya, ada 2 orang Borong yang ikut perjalanan ini. Saya cukup lega karena tidak menjadi satu-satunya penumpang, ditambah matahari sudah undur diri. Kini, biarpun hari sudah gelap saya lebih tenang.

Kami pun berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Penumpang yang baru pandai mencairkan suasana. Kecemasan saya pun perlahan menghilang. Alamat yang saya tuju diarahkan oleh penumpang yang baru. Sayang sekali, saya lupa untuk berkenalan.

Sekitar pukul 19.00 WITA, akhirnya saya sampai di rumah seorang kawan bernama Verer. Perjalanan selama empat jam yang diawali dengan menegangkan berakhir menyenangkan di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Setelah menurunkan barang-barang, saya mengangsurkan selembar uang Rp 100.000 kepada supir dan berterima kasih.

Saya berkenalan dengan Verer melalui seorang teman yang sekampus dengannya di UGM. Belum pernah bertemu sebelumnya namun kami berkorespondensi sejak saya mempersiapkan perjalanan. Saya bertanya banyak mengenai tempat wisata dan transportasinya. Ia pun menawarkan agar saya singgah di rumahnya.

Inilah pertemuan pertama saya dengan Verer. Sesaat setelah saya sampai, berdatangan teman dan kerabat dari Verer. Tidak saya sangka, hari itu adalah hari lahir dari Verer. Agak canggung sebenarnya berada di acara keluarga seperti ini. Kecanggungan saya tidak bertahan lama karena keluarga dan teman-temannya menyambut dengan baik.

Bersama keluarga dan kerabat Verer di Ruteng. Verer kedua dari kiri.

Kami pun berdoa bersama untuk usia Verer yang baru dan dilanjutkan dengan makan malam dan bincang-bincang. Ruteng yang dingin malam itu terasa begitu hangat.

 

Tags : BajawaFloresNusa Tenggara TimurRutengsolo traveling
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz