close
_MG_0100

Kisah-kisah tersembunyi di sudut-sudut ibukota. Serupa kisah yang tertimbun di Gereja Tugu yang usianya lebih tua ratusan tahun dari kemerdekaan republik. Tahun ini, Gereja Tugu merayakan ulang tahunnya ke-269.

Bertajuk Festa Hut Aniversario ke-269 tahun Gereja Tugu, jemaat dan warga Kampung Tugu merayakan hari jadinya pada 30 Juli 2017. Minggu pagi diisi dengan ibadah di gereja yang terletak di Jalan Raya Tugu, No. 20, Cilincing, Jakarta Utara. Halaman parkir yang bersisian dengan makam-makam leluhur Tugu di bagian depan penuh dengan kendaraan bermotor. Sementara, halaman bagian dalam sudah berdiri tenda dan bangku-bangku plastik yang menampung ratusan orang. Di sisi belakang tenda, terdapat jajaran meja berisi jajanan pasar.

Berangkat dari ujung selatan menuju bagian utara Jakarta memakan waktu 2,5 jam. Naik ojek daring ke halte Transjakarta, naik bis sampai dua kali transit di Dukuh Atas dan Monas. Terakhir turun di halte Cempaka Timur untuk kembali naik ojek. Sempat ternganga melihat jalur penghubung dari halte Cempaka Timur ke koridor Transjakarta arah Tanjung Priok yang panjaang sekali. Melihatnya saja sudah melelahkan.

Tiup lilin HUT Gereja Tugu

Sesampainya di gereja yang ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya ini, telah berlangsung pidato sambutan dari perwakilan Kedutaan Besar Portugis di Indonesia. Dilanjutkan dengan acara tiup lilin bersama-sama perangkat masyarakat, undangan dan pemerintah. Acara tiup lilin diiringi oleh kelompok musik Keroncong Tugu yang terbentuk sejak 1925.

Leluhur masyarakat Kampung Tugu berasal dari tawanan dan budak Portugis yang dikalahkan Belanda di Malaka tahun 1641. Belanda memberikan kemerdekaan pada orang-orang Portugis dengan syarat, meninggalkan Katholik dan memeluk Protestan. Kaum yang dimerdekakan ini disebut “Mardijker”. Mardijker awalnya beribadah di Gereja Sion yang terletak di pusat kota (benteng) Batavia pada masa itu. Tahun 1678, dibangun gereja di luar Batavia dan merupakan Gereja Tugu pertama yang kemudian rusak karena faktor usia. Gereja Tugu dibangun kembali di lokasi yang berbeda pada 1740 dan bertahan hingga kini (diolah dari: Jakarta.go.id dan Kemdikbud.go.id)

Bagian dalam Gereja Tugu

Gereja Tugu diresmikan pada 27 Juli 1748 oleh Pdt. J. M. Johr. Tahun peresmiannya sama seperti yang tertera di plang nama gereja. Peninggalan bangsa Portugis berupa cawan, mimbar dan berbagai perlengkapan lainnya berasal dari Roma. Begitu juga lonceng legendaris sebagai penanda ibadah akan dimulai yang mulai rapuh dimakan usia. Kini, lonceng asli disimpan dan dibuat replika untuk menggantikan fungsinya (Detik.com). Keaslian bangunan masih terjaga dengan baik. Dengan genteng merah dan tembok bercat putih pucat, pintu dan daun jendela yang lebar, langit-langit yang tinggi serta furnitur kayu masih kokoh membuat siapapun yang masuk merasa kembali ke masa lalu.

Kue-kue khas Betawi / Kampung Tugu

Tamu undangan yang hadir disajikan makanan khas Betawi sekaligus penganan unik dari Kampung Tugu. Terdapat gado-gado Tugu, soto betawi, pindang serani, es cendol hingga makanan ringan seperti wajik, ketan unti, apem kinca, kue pisang udang, geplak dan ladu. Tiga kue terakhir kabarnya tak lagi dijual di pasar. Biasanya, masyarakat Tugu membuat sendiri kue-kue tersebut untuk menyambut tamu saat acara. Sambil menikmati hidangan, orkes keroncong mengiringi dengan tembang-tembang populer dan karya kolektifnya.

Guidho Quiko, ketua Orkes Poesaka Kerontjong Toegoe Cafrinho

Orkes Poesaka Kerontjong Toegoe Cafrinho adalah nama lengkap kolektif musik tradisional kampung ini. Bermula dari inisiatif warga yang membutuhkan hiburan, tercipta alat-alat musik pelepas penat seperti macina (seperti ukulele), prounga dan jitera. Tradisi bermusik ini ternyata disukai oleh orang-orang Belanda. Mengantarkan mereka tampil di acara-acara Belanda dengan membawakan lagu berbahasa Portugis maupun Belanda. Barulah pada 1925, kelompok keroncong ini diresmikan dalam bentuk organisasi yang diinisiasi oleh Jozef Quiko. Kesenian tradisonal khas ini masih tetap lestari hingga generasi keempat, yang kini diketuai oleh Guidho Quiko (Kompas.com).

Lagu-lagu keroncong yang dibawakan bernada ceria dan berlirik jenaka. Membuat orang-orang menari-nari dan bergembira bersama. Tembang terus mengalun, undangan bergantian menyumbang suara, lainnya bergoyang ikuti irama. Senang rasanya ikut berbahagia merayakan hari jadi sebuah gereja. Menelusuri sekelumit sejarah ibukota lengkap dengan kuliner dan keseniannya yang kian tergerus modernisasi.

Plang Gereja Tugu (1748)
Tags : Gereja TuguJakartaKampung TuguPortugis
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar