close
IMG_2904

Bangun pagi disambut udara Ruteng yang dingin. Tidur semalam sangat nyenyak membuat pagi terasa lebih berenergi. Banyak lokasi yang hendak dikunjungi hari ini (Rabu, 6 April 2016).

Mencuci baju adalah aktivitas pertama yang saya lakukan setelah membuka mata. Mungkin ada yang bertanya-tanya, untuk perjalanan panjang seperti ini, butuh berapa potong pakaian. Saya membawa satu jaket, satu flanel, lima kaos, dua celana pendek dan satu celana panjang dry fit. Dengan persediaan baju yang minim ini, mencuci baju adalah kewajiban setiap hari.

Seusai sarapan, kami merasakan udara dingin berangsur menjadi hangat namun tetap sejuk. Pukul 09.30 WITA menjadi waktu keberangkatan kami menuju Liang Bua. Sebuah situs arkeologi penemuan manusia purba Homo floresiensis.

Menghirup udara bebas polusi, memanjakan mata dengan perbukitan yang menghijau serta rimbun kebun-kebun warga. Disapa dengan senyum anak-anak sepanjang perjalanan. Perjalanan selama 45 menit semenyenangkan ini membuat saya lupa untuk menggerutu pada rute jalan yang sempit dan berlubang menuju Gua Liang Bua. Sesampainya di Dusun Rampasasa, gemericik sungai dan hamparan sawah seolah menyambut kedatangan kami.

Terdapat Museum Mini Liang Bua untuk memperkenalkan manusia hobbit yang dipicu atas temuan Pastor Belanda, Theodore Verhoeven, tahun 1950-1960. Bermula saat Verhoeven yang mengajar di Seminari Mataloko, Kabupaten Ngada, menemukan artefak batu dalam konteks tulang-tulang Stegodon yang diperkirakan berusia 750 ribu tahun di Cekungan Soa. Temuan ini diragukan karena latar belakangannya bukan arkeologi maupun geologi.

Museum Mini Liang Bua, Flores

Penemuan Verhoeven menjadi tonggak ditelusurinya kembali kehidupan purba di Flores. Peneliti berhasil menemukan terlebih dahulu tulang belulang komodo, gajah purba (Stegodon florensis), burung bangau raksasa (Marabou stork), dan tikus besar khas Flores atau betu (Papagomys armandvillei dan Spelaeomys florensis). Sementara, manusia mungil yang menempati gua tersebut baru ditemukan pada 6 September 2003 di kedalaman 595 cm dari kotak galian arkeologi.

Flo menjadi sebutan manusia purba yang berasal dari puluhan ribu tahun yang lalu. Masih menjadi perdebatan ilmuwan tingkat dunia mengenai perkiraan tahun hidup si mungil Flo. Berdasarkan perkiraan dari rangka rapuhnya yang berhasil didapatkan pertama kali; Flo memiliki tinggi 106 cm, berjenis kelamin perempuan dengan usia sekitar 25-30 tahun, berciri fisik tulang alis menonjol, kening melandai, tidak memiliki dagu dan rahang yang kokoh. Selanjutnya, ditemukan sisa-sisa tulang dari enam individu yang berbeda dari Homo erectus dan Homo sapiens sehingga dimasukkan pada kelompok spesies tersendiri, Homo floresiensis.

Museum mini ini begitu lengkap menyajikan informasi berupa narasi dan grafis yang mudah dipahami. Tidak terasa semua jabarannya sudah selesai saya baca dengan terkagum-kagum atas kegigihan para peneliti. Museum ini merupakan hasil penelitian kolaboratif bertahap dari Pusat Arkeologi Nasional (Indonesia) dan The University of New England (Australia) periode 2001-2004; The University of Wollongong (Australia) periode 2007-2009; The Smithsonian’s Human Origins Program, NMNH (Amerika) periode 2010 hingga saat ini.

Gua Liang Bua

Selesai mengabadikan momen di museum, kami beranjak menuju gua yang sedari tadi kami baca kisah panjangnya. Liang Bua menganga seperti mulut raksasa dengan gigi-gigi tajam dari stalaktit dan stalagmitnya. Masa penelitian sudah usai. Gua ini bersih dari berbagai perlengkapan penggalian arkeologi yang terpampang di museum.  

Bagian dalam Gua Liang Bua

Air sesekali menetes dari langit-langit gua. Membuat permukaan gua licin, harus berhati-hati saat berpijak. Lantai gua terdiri dari lapisan tufa atau endapan material vulkanik lembut yang terkonsolidasi (Kompas.com). Hingga kini, belum ada penelitian yang mengungkap muasal tufa bersumber dari letusan gunung api yang mana.

Gua ini tempat hidup Flo yang berdampingan dengan hewan-hewan purba lainnya. Membayangkan bagaimana kehidupan ribuan tahun silam dengan peralatan sederhana untuk berburu dan meramu demi keberlangsungan hidup. Bertahan dari terpaan hujan, angin dan terik matahari. Membayangkan bagaimana mereka berkomunikasi pada masa di mana bahasa belum tercipta.

Verer berpose di tempat tinggal Flo

Jika harus mengalaminya sendiri, mungkin akan terasa sulit karena sudah terlenakan oleh kemajuan peradaban dan teknologi. Apa-apa serba mudah. Tidak perlu berburu untuk mendapat makanan, tinggal ke pasar untuk membeli bahan makanan atau langsung ke restoran yang siap menyajikan berbagai menu peredam lapar. Tidak usah susah-susah bikin api untuk memasak karena sudah ada korek api bahkan kompor gas. Ada rumah yang melindungi dari terpaan hujan, angin dan matahari. Betapa bersyukur hidup di masa kini saat peradaban manusia terus berkembang.

Tags : FloresGua Liang BuaHomo floresiensismanusia purbaRuteng
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

9 Comments on "#KembaraNusaTenggara: Peradaban Manusia Purba di Liang Bua"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Tuty prihartiny
Guest

Hi kak mar…many thanks untuk tulisan nya…berasa sedang di sana nih saat saya membacanya. Karena beberapa kendala saya ndak sempat ke museum dan gua tsb. Tulisan kak mar tulis lebih lengkap daripada yang guide sampaikan ke saya.

andy
Guest

Di ruteng tuh asiknya nongkrong di kopi mane bisa sambil gitaran dan main catur..

Ning!
Guest

Bahkan sekarang udah ada ojek online yang tinggal “klik” makanan dateng. Nggak perlu menggosok batu buat bikin api atau masak dengan kompor gas, hehe *anak kost banget

Lalaysf
Guest

Wah Mar, kirain manusia purba tinggi dan besar. Tapi Flo sepertinya tidak ya.

zen
Guest

jadi kangen mendengar gemericik air, anak SD pada berangkat sekolah… duhh di kota gak pernah lihatt