close
IMG_2944

Menyambung dari perjalanan hari ke-19 #KembaraNusaTenggara. Setelah berkunjung dari situs arkeologi Liang Bua, saya dan Verer beranjak menuju lokasi crop circle alami yang ada di Ruteng. Pola crop circle kerap diasosiasikan dengan alien atau UFO (unidentified flying object). Sementara di Ruteng, sawah berpola ini merupakan manifestasi dari budaya yang mengakar di masyarakat Manggarai.

Bentuk persawahan yang menyerupai jaring laba-laba ini terletak di Desa Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Kawasan sawah ini terbentuk dari sistem pembagian tanah adat yang disebut dengan lingko. Lingko adalah tanah adat yang dimiliki secara komunal untuk memenuhi kebutuhan bersama masyarakat (CNN Indonesia, 2015)

Proses pembentukan pola serupa jaring laba-laba ini dilakukan dengan cara menarik garis panjang dari titik tengah (lodok) hingga ke bidang terluar (cicing) dengan patron khas lodok, yakni kecil di dalam besar di luar (mirip jaring laba-laba). Kewenangan untuk membagi tanah komunal ada pada kuasa Tu’a Teno (tuan tanah) yang diawali dengan ritual kecil Tente Teno atau menancapkan pohon Teno di titik episentrum Lodok. Darah kambing ditumpahkan diatas kayu Teno sebagai wujud simbolisasi pengesahan secara adat (Flobamorapedia, 2017)

Perjalanan dari Liang Bua menuju Cancar menghabiskan waktu sekitar satu jam. Kami sampai pukul 13.00 WITA saat banyak anak-anak SMA pulang sekolah. Memasuki kawasan Cancar, membayar Rp 15.000 pada warga yang menjaga daerah tersebut yang sekaligus menjadi biaya untuk parkir kendaraan.

Kami segera menaiki bukit dengan jalan setapak menuju titik terbaik untuk memandangi paduan keindahan alam dan budaya ini. Melangkahlah dengan berhati-hati karena di sisi-sisi jalan diapit pohon dan semak-semak. Selain nyanyian serangga dan burung-burung, binatang melata patut diwaspadai. Hampir saja saya menginjak ular yang melintas di jalan tersebut. Membuat jantung saya berdegup kencang karena ketakutan jika ular tersebut terinjak dan balik mengigit saya.

Sawah Lodok dengan pola jaring laba-laba

Sampailah kami di atas bukit dengan nafas yang tersengal-sengal setelah 15 menit perjalanan (efek jarang berolahraga). Kelelahan itu terbayar dengan sambutan hamparan hijau sawah jaring laba-laba berlatar bukit-bukit dan langit biru. Ciptaan yang Kuasa berpadu dengan kearifan budaya lokal menciptakan pemandangan yang memesona.

Serangga dengan nama lokal riang-riang atau biasa disebut tonggeret

Selagi menikmati pemandangan ini, suara serangga terdengar cukup keras. Verer bilang serangga tersebut adalah riang-riang. Biasanya berbunyi nyaring pagi-pagi di daerah yang banyak pepohonan. Verer dengan sigap memanjat pohon untuk menangkap riang-riang ini. Cukup mudah ditangkap. Awalnya, saya takut untuk memegang serangga berbunyi nyaring ini tetapi Verer mengatakan jika memegang dengan benar, niscaya tidak akan digigit atau diserang. Saya pun memberanikan diri memegang kemudian bermain-main dengannya. Jika saya menggerakkan tangan ke atas atau ke bawah, riang-riang ini memberikan suara yang berbeda-beda. Saat didiamkan pun tetap bersuara namun terdengar lebih tenang. Menyenangkan sekali bermain bersama riang-riang ini, sungguh membuat hati riang! Tidak butuh waktu lama, kami melepaskan serangga yang biasanya disebut dengan tonggeret ini.

Jam makan siang sudah terlewat 1,5 jam, pantas perut kami meronta-ronta minta diisi bahan bakar. Kami pun kembali ke rumah Verer untuk makan siang dan beristirahat sebentar. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Kampung Adat Ruteng Pu’u yang terletak tidak jauh dari kota Ruteng.

Pengunjung wajib mendaftarkan diri dan membayar retribusi sebesar Rp 10.000 per orang. Di halaman Kampung Adat Ruteng Pu’u terdapat pohon besar dengan daun yang sudah berguguran. Menyisakan ranting-ranting kering. Halaman tersebut terletak di tengah-tengah kampung yang berfungsi sebagai altar atau compang untuk prosesi persembahan saat upacara adat.

Rumah adat Mbaru Gendang di Kampung Adat Ruteng Pu’u

Tampak rumah-rumah beratap kerucut dengan puncaknya dihiasi ornamen tanduk kerbau. Mbaru Gendang adalah nama rumah adat yang mengelilingi Kampung Adat Ruteng Pu’u yang terletak di Kelurahan Golo Dukal, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Berdasarkan penelitian Hilarius Nakut (2009)*, Mbaru Gendang merupakan pusat dari penyelenggaraan budaya dan dimaknai secara individu, religius dan sosial oleh para penghuninya. Secara individu, dimaknai dengan kebutuhan hidup untuk berinteraksi, bermusyawarah dan berbagai pengetahuan serta pengalaman yang diwujudkan dalam bentuk simbol lutur (ruangan bersama). Secara religius, menjadi lokasi melakukan semua ritual yang berpusat pada siri bongkok (tiang utama) yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya wujud tertinggi (Mori Kraeng). Secara sosial, banyak simbol-simbol yang dimaknai bersama seperti tanduk kerbau (rangga kaba) sebagai lambang kerja keras, kewibawaan/kehormatan suatu kampung; wunut oles (tali ijuk) dan wiri (kayu penghubung atap) yang melambangkan persatuan dan kesatuan; dan lutur sebagai tempat untuk bermusyarawah sekaligus sebagai lambang kesejahteraan.

Ada sebuah rumah yang sedang direnovasi, potongan kayu dan papan berserakkan di mana-mana. Halaman belakang rumah tersebut ditumbuhi tanaman kopi yang sudah tinggi, berdaun lebat namun buahnya masih hijau. Salah satu penghuni Mbaru Gendang memberi tahu saya bahwa merawat tanaman kopi seperti merawat anak gadis, harus selalu diperhatikan setiap saat agar tumbuh subur. Jika pucuk-pucuk rantingnya tidak rajin dipangkas maka akan pertumbuhan buahnya terhambat. Belum lagi jika ada serangan hama yang akan berdampak jangka panjang apabila tidak segera diatasi.

Semakin banyak saya berbincang dengan masyarakat Kampung Ruteng Pu’u, semakin hormat dan kagum pada mereka yang masih bertahan tinggal dan melestarikan tradisi mereka di tengah dunia yang serba gegas. Sementara matahari terus bergerak memendamkan dirinya pada cakrawala. Sepertinya, sudah saatnya saya dan Verer kembali ke rumah.

* (Nakut, Hilarius. 2009. Makna Simbolik Konstruksi Rumah Adat Manggarai (Studi Kasus Kampung Ruteng Pu’u Kelurahan Golo Dukal Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai). Kupang: Universitas Katolik Widya Mandira.

Tags : cancarFloreskampung adat ruteng puuMbaru GendangNusa Tenggara TimurRutengsawah crop circlesawah jaring laba-labasawah lodok
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz