close
IMG_1537

Perjalanan masih berlanjut untuk menjelajahi wilayah Manggarai yang sejuk. Kesejukkan Ruteng membuat saya betah berlama-lama ada di kota ini. Terlebih sambutan masyarakatnya yang selalu ramah kepada setiap pengunjung yang datang.

Mengunjungi pasar tradisional di Ruteng

Di Ruteng, saya tidak hanya mendatangi tempat-tempat wisata. Saya ikut serta dalam kehidupan sehari-hari Verer yang mengolah biji kopi untuk dijual dalam bentuk kopi bubuk kemasan (tulisan tentang kopi Flores bisa dibaca di Kopitala.com). Saya juga diajak Verer untuk mengunjungi pasar, gereja, biara, kantor pemerintahan hingga sekolah luar biasa untuk tuna netra.

Mengunjungi Biara Pink Sisters

Pria lulusan Universitas Gajah Mada ini mengatakan Ruteng memiliki banyak sekali biara. Biara yang ada di Ruteng merupakan sebuah rumah pertapaan bagi para biarawan dan biarawati Katolik. Biarawan atau biarawati Katolik biasanya disebut dengan suster, pastor, frater atau bruder. Ada sekitar 52 komunitas biarawan/biarawati dari bermacam kongregasi religius berbagai belahan di dunia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kongregasi adalah perkumpulan biarawan, biarawati, rohaniwan, atau rohaniwati Katolik dari satu kesatuan khusus. Banyaknya biara di kota ini membuat Ruteng dijuluki “Kota Seribu Biara”.

Hal ini membuat saya tertarik untuk mengunjungi biara yang diceritakan oleh Verer. Ia bercerita kalau ada sebuah biara di mana para suster selalu memakai baju berwarna pink sehingga dikenal dengan “Pink Sisters”. Kabarnya yang lebih menarik lagi adalah masyarakat percaya jika memanjatkan doa dan menitipkan doa di tempat ini, niscaya akan terkabul.

Kami bersama kerabat Verer, Kak Livens, berangkat menuju Biara Adorasi Tritunggal Mahakudus yang terletak di Jalan SMU II, Tromol Pos 801, Ruteng. Suster yang berada di biara ini bagian dari Kongregasi Suster-Suster Abdi Roh Kudus Adorasi Abadi atau yang juga dikenal dengan Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetu. Hujan menyambut kami ketika sampai di biara yang sudah ada di Flores sejak tahun 1917.

Pink Sisters di Kongregasi Suster-Suster Abdi Roh Kudus Adorasi Abadi

Memasuki rumah ibadah biara ini yang megah dengan bangku-bangku kayu berjejer rapi untuk jemaat, daun pintu yang lebar, kaca patri berukuran besar dan lampu-lampu gantung yang menerangi ruangan. Tampak biarawati dengan jubah berwarna merah muda dan tudung kepala berwarna putih sedang memanjatkan doa dengan khidmat. Suasana begitu syahdu menyusupi relung hati.

Kertas Doa di Biara Adorasi Tritunggal Mahakudus

Terdapat tumpukan kertas kosong dan alat tulis. Disediakan untuk siapapun yang ingin menuliskan harapan-harapannya agar didoakan oleh para suster di sini. Saya pun menulis harapan hidup pribadi seperti karir, keluarga, pendidikan dan pasangan (ehm). Harapan yang saya tulis kemudian saya doakan di rumah doa tersebut. Setelah itu, kertas doa tersebut dimasukkan ke dalam Kotak Intensi yang ada di teras rumah doa. Semoga segala harapan terealisasi dengan baik. Amin.

Mengunjungi Gereja Katedral Pertama di Ruteng

Gereja Katedral Lama Ruteng

Hari sudah menjelang gelap. Verer bersikeras mengajak saya ke bangunan gereja bersejarah di kota ini. Menurutnya, saya harus melihat gereja katedral pertama Ruteng yang dibangun tahun 1929-1939. Sesampainya di sana, menjulang bangunan gereja yang megah dengan daun-daun jendela yang lebar dan atap yang menjulang membentuk kubah kerucut. Sayangnya, Gereja Santo Yosef ini dalam keadaan tertutup. Saya pun tidak bisa masuk ke sana.

Awalnya gereja ini bernama Gereja Paroki Ruteng yang kemudian menjadi Gereja Katedral Ruteng dengan nama Pelindung Santa Maria Diangkat ke Surga dan Santo Yosef. Status Keuskupan Ruteng diresmikan pada tanggal 3 Januari 1961 dan Mgr. Wihelmus van Bekkum, SVD menjadi uskup yang pertama. Saat ini, Keuskupan Ruteng dipimpin oleh Rm. Dr. Hubertus Leteng, Pr. yang diangkat pada 14 April 2010 (Katedralruteng.id). Kini, gereja katedral beralih ke Gereja Santa Maria Assumpta – Santo Yosef dengan bangunan baru yang lebih luas.

Mengikuti Pesta Sambut Baru

Jika ada rekor MURI untuk penyembelihan babi massal terbanyak, pasti Ruteng menjadi salah satu kandidatnya. Pasalnya, Pesta Sambut Baru di kota ini menggunakan daging babi untuk sajian para tamu. Pesta Sambut Baru merupakan perayaan ucapan syukur saat anak-anak menerima Komuni Pertama mereka. Komuni Pertama adalah tradisi umat Katolik di mana anak-anak menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya. Biasanya, anak-anak yang berusia 9-12 tahun.

Komuni Pertama untuk anak-anak Ruteng ditetapkan secara serentak oleh majelis gereja. Hal ini menyebabkan ratusan anak-anak di seluruh kota merayakannya dengan Pesta Sambut Baru. Keluarga yang saya tumpangi, menerima puluhan undangan Pesta Sambut Baru. Ayah dan Ibu Verer pun membagi-bagi tugas kepada setiap anggota keluarga untuk mendatangi kerabat yang mengadakan pesta. Dalam satu hari, bisa beberapa lokasi didatangi. Ibu Verer mengatakan tidak enak jika tidak datang.

Saya kebagian ikut Verer dan teman-temannya untuk datang ke Pesta Sambut Baru beberapa kerabat. Makanan melimpah ruah, khususnya olahan daging babi dengan berbagai racikan bumbu. Hiburan berupa musik dari cakram padat hingga yang lengkap dengan alat musik dan sound system pun ada. Tenda-tenda dibangun di halaman rumah. Di saat seperti ini, vendor perlengkapan pesta meraup untung besar.

Di lokasi-lokasi awal, kami bisa makan makanan berat yang disajikan. Lama kelamaan begah juga. Akhirnya, saya hanya mencicipi kue dan minuman saja. Menjelang malam, kami mengunjungi keluarga besar Verer yang sedang mengadakan Pesta Sambut Baru untuk anak laki-lakinya.

Pesta Sambut Baru di Ruteng

Ruteng yang dingin tetap terasa hangat dengan lagu-lagu khas tanah Flobamora. Ditambah tari-tarian tradisional yang dipadukan dengan lagu khas Flores. Saya yang awalnya ragu-ragu untuk menari akhirnya ikut menari juga. Belajar mengikuti gerakan kaki ke kiri, kanan, depan dan belakang dengan hitungan tertentu. Ditambah gerakan tangan untuk beberapa bagian lagu, serupa tapi tak sama dengan Tari Poco-Poco. Hawa dingin pun sirna digantikan keringat dari gerakan dansa-dansi ini. Semua gembira! Tua, muda, menari tak pandang usia. Menyenangkan sekali ada di tengah-tengah keluarga yang sedang berpesta! Bahagia! Terlebih saya hanya musafir yang bahkan bukan bagian dari keluarga ini tetapi disambut dan diterima dengan baik. Bersyukur sekali atas penerimaan dalam keluarga besar ini.

Mari menari bersama!

Sampai sekarang jika terdengar lagu Flores di suatu acara, tanpa pikir panjang akan ikut serta. Seperti tahun lalu di acara Festival Kopi Flores yang diadakan di Bentara Budaya, Jakarta, saya langsung terjun ke lantai dansa. Meski lupa gerakannya, yang penting ikut bersenang-senang bersama dan menumpahkan rasa rindu akan kenangan di pulau bunga.

Tags : biaraFloresGereja Katedral RutengKomuni PertamaNusa Tenggara TimurPesta Sambut BaruPink SistersRuteng
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

1 Comment on "#KembaraNusaTenggara: Menyelami Kehidupan Nasrani di Kota Seribu Biara"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
tuty. prihartiny
Guest

Hai Ka Maria…
Menarik sekali …..
Sepertinya saya harus balik nih ke Ruteng…