close

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017): Melahirkan Keberanian di Atas Ketidakadilan

Marlina

Nasib mujur seolah menjauh dari Marlina, seorang perempuan yang ditinggal mati suami dan jabang bayi yang berusia delapan bulan. Kepergian sang buah hati memakan biaya pemakaman adat yang terbilang tidak murah. Korban sembelih berupa kerbau dan kuda dalam jumlah yang cukup besar wajib disediakan sebagai sesaji penguburan agar arwah layak masuk surga.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Almarhum suami Marlina masih teronggok kaku di pojok rumah, hutang pun masih menumpuk untuk dilunasi. Pemakaman adat untuk sang suami entah kapan akan dilaksanakan. Sementara, lintah darat sudah tidak sabar ingin piutang dikembalikan. Babi, sapi, kerbau, kambing, dan ayam yang menjadi sisa-sisa harta Marlina diambil paksa. Perempuan Sumba yang diperankan Marsha Timothy ini sudah jatuh tertimpa tangga. Gerombolan laki-laki biadab tidak hanya mengambil ternak, mereka juga berniat jahat untuk memperkosa Marlina.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Marlina tidak tinggal diam, ia melawan dengan segenap kekuatannya. Film garapan sutradara Mouly Surya ini menggambarkan perlawanan Marlina terhadap penindasan, ketidakadilan, hingga realitas sosial yang menimpa dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Menyajikan lanskap timur nusantara yang khas dengan bentangan langit biru berikut perbukitan yang berselimut padang rumput. Keindahan alam Sumba berbanding terbalik dengan fasilitas transportasi dan kesehatannya yang minim. Dalam film yang rilis 16 November 2017, alat transportasi berupa motor, truk angkutan umum atau oto hingga kuda. Oto merupakan truk yang ditambahkan atap dan tempat duduk hingga menyerupai bis yang datang setiap satu jam sekali.

Novi (Dea Manendra), sahabat Marlina, usia kehamilannya sudah lewat dari sembilan bulan. Isu yang berkembang jika perempuan belum juga melahirkan tepat waktu maka perempuan tersebut berselingkuh. Novi bimbang namun tidak jua berangkat ke fasilitas kesehatan terdekat. Hal ini tentu membahayakan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Menurut data dari Survei Dasar Kesehatan Indonesia (2007), angka kematian ibu melahirkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 306 ibu dari 100.000 kelahiran. Di tingkat nasional, angkanya 288 ibu dari 100.000 kelahiran. Angka kematian bayi sebanyak 57 kematian di NTT dan tingkat nasional hanya 36 kelahiran, masing-masing dari setiap 1.000 kelahiran (Liputan6.com, 2017). Kematian ibu dan bayi bukan tanpa sebab. Beragam faktor mempengaruhi tingginya angka kematian ibu dan bayi seperti sarana dan prasarana, tenaga medis, akses ke fasilitas kesehatan, kekurangan gizi, kurangnya pengetahuan dasar kesehatan hingga kondisi sosial dan geografis.

Film yang terinspirasi dari gagasan cerita Garin Nugroho ini memotret kondisi sosial dan budaya Sumba lewat narasi, suara, dan visual yang apik. Cermati seorang ibu dan anaknya yang membawa kuda untuk mahar lamaran (belis); saat Marlina dan Novi buang air di tengah sabana; kehamilan Novi dan asumsi terhadap bayinya yang sungsang; mumi sang suami yang dibalut kain tenun; dapur dengan tungku kayu bakar; kebiasaan membawa pedang; kondisi dan pelayanan kantor polisi yang tidak memiliki sensitivitas terhadap korban hingga fasilitas visum dan transportasi yang belum memadai. Semua hal tersebut disajikan lewat empat babak cerita yang mengalir, menegangkan namun tetap diselipkan dialog jenaka yang mengundang tawa di beberapa bagian. Sedikit yang mengganjal, busana Marlina masih terlihat begitu modis di tengah pemeran lain yang tampak lebih natural.

Kekuatan film ini telah membawanya berkeliling dunia lewat berbagai festival seperti Cannes Film Festival, New Zealand International Film Festival, Melbourne Film Festival, dan Toronto International Film Festival. Beragam penghargaan berhasil diraih antara lain: skenario terbaik di Festival International du Film de Femmes de Sale (FIFFS) ke-11 di Maroko; aktris terbaik untuk Marsha Timothy di Sitges International Fantastic Film Festival di Spanyol; film terbaik Asian Nest Wave Competition dari The QCinema Film Festival di Filipina; meraih kategori Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC) Jury Award dari Five Flavours Film Festival di Polandia; kategori Grand Prix di International Film Festival Tokyo Filmex di Jepang; dan dari dalam negeri meraih aktris pilihan untuk Marsha Timothy dan film pilihan dari Festival Film Tempo 2017.

Deretan penghargaan tersebut kian mengumandangkan kualitas film yang digadang-gadang menelurkan sebuah genre baru bernama Satay Western. Saksikan empat babak yang akan membawa Anda dalam sebuah dunia yang baru. Dunia yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dengan gedung tinggi, kemacetan, banjir, dan segala hal yang melahirkan keluh kesah. Dunia baru ini akan menerbitkan gelisah, gelak, geram, gerutu hingga gembira dalam sebuah rangkaian cerita yang bernafaskan ketidakadilan.

Tags : Dea ManendraMarlina Si Pembunuh dalam Empat BabakMarsha TimothyMouly Surya
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

1 Comment on "Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017): Melahirkan Keberanian di Atas Ketidakadilan"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Arlindya Sari
Guest

Keren banget kak…ulasannya lengkap.
Bisa jd bahan referensi buat review selanjutnya.