close
IMG_3125

Sudah sampai Ruteng akan menyesal jika tidak singgah ke sebuah kampung adat yang harum namanya di belantika pariwisata dunia. Lokasi pariwisata inilah yang menggoda saya untuk singgah ke Ruteng. Kota yang sebelumnya tidak ada dalam daftar destinasi karena keterbatasan biaya perjalanan. Untungnya, sewaktu di Ende saya mendapatkan suntikan dana dari seorang teman yang membayar hutangnya. Dana segar pun mengalir ke rekening dan ucapkan selamat datang ke Wae Rebo!

Verer, penduduk asli yang lahir dan besar di Ruteng, malah belum pernah menjejakkan kakinya di Kampung Adat Wae Rebo. Melihat saya yang jauh-jauh dari Bekasi begitu antusias untuk ke sana, ia pun berinisiatif mengajak teman-temannya ikut dalam perjalanan ini. Vianne dan Ighi setuju berpetualang bersama. Semakin banyak orang semakin seru!

Kami berempat berangkat dengan dua sepeda motor. Berbekal petunjuk arah dari orang tua Verer, kami berangkat pagi-pagi sekali pukul 04.20 WITA. Dari kediaman Verer yang di tengah kota, kami menuju ke selatan. Gelap berbalut udara dingin mengiringi perjalanan kami. Ruteng masih tidur. Jalanan sepi, kabut menyelimuti. Kami merapatkan jaket.

Pemandangan di perjalanan menuju Wae Rebo

Kami berkendara selama 2,5 jam. Matahari mulai menunjukkan keindahan perbukitan, rumah hingga sawah yang tadinya berbalut gelap gulita. Kami beristirahat sejenak sambil menikmati mentari pagi dengan pemandangan tebing-tebing di sisi jalan. Perjalanan masih jauh dan berliku.

Saat kebingungan, sembari mengisi bensin eceran yang dijual oleh warga, kami bertanya arah menuju ke Wae Rebo. Berkelok-kelok jalan yang kami lewati. udara terasa semakin kering dan matahari semakin terik. Tanpa kami sadari, rute kami mengarah ke pantai. Sebuah jalur aspal yang tepat bersisian sepanjang pantai selatan Ruteng.

Pantai menuju Wae Rebo

Laut seolah menghipnotis kami untuk singgah di tepiannya. Rasa lapar mulai menyadarkan kami untuk beristirahat dan membongkar bekal yang kami bawa. Kami sarapan dengan latar laut yang tenang dan kapal-kapal nelayan yang berlayar. Angin pantai berhembus dengan sejuk sekaligus kering.

Selepas sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang kami lalu begitu tenang. Jarang sekali kami bertemu kendaraan lain. Sesekali ada penduduk setempat yang melintas. Tampak tebing-tebing kokoh Pulau Mules yang seolah menyapa kami. Indah sekali tampak dari kejauhan.

Hampir lima jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Desa Denge. Desa ini merupakan titik pendakian menuju Kampung Adat Wae Rebo. Aspal terputus. Hanya ada sebuah rumah kayu sederhana dengan toilet terbuka di bagian belakang. Di sini kami bertemu dengan porter yang akan membawakan barang-barang sekaligus menunjukkan rute pendakian ke kampung di atas awan.

Menuju kampung adat ini, kami tidak disarankan untuk melakukan perjalanan sendiri. Setidaknya ditemani oleh porter atau guide. Biaya porter Rp 200.000, kami bagi berempat menjadi Rp 50.000 per orang. Sementara, guide lebih mahal mencapai harga Rp 400.000. Untuk biaya masuk Wae Rebo per orang Rp 200.000. Porter kami memberikan kami strategi untuk menghemat biaya. Salah satu dari anggota rombongan akan berperan sebagai supir sehingga tidak perlu dikenakan biaya. Trik ini bisa dipercaya karena memang ketiga orang yang bersama saya asli putra daerah Manggarai. Tidak perlu khawatir ketahuan. Hehe.

Perjalanan pun dimulai. Kami disambut aliran sungai menuju jalur pendakian. Mendaki selangkah demi selangkah di tanah yang lembab dan licin sehabis hujan. Sinar matahari terhalang dedaunan. Bersama-sama kami menembus hutan menuju desa di atas awan.

Berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing. Vianne yang lulusan filsafat Driyakara memberikan kuliah sepanjang perjalanan. Menceritakan pemikiran dari filsuf-filsuf dunia dengan gaya bicaranya yang jenaka namun tetap berisi. Sungguh menginspirasi sekaligus mengalihkan rasa lelah.

Jalur pendakian cenderung landai. Suara burung-burung dan gemericik air menemani perjalanan kami. Beberapa kali kami berhenti untuk melepas letih. Begini kalau jarang berolahraga. Baru jalan kaki sebentar sudah capek.

Pemandangan dari jalur pendakian Wae Rebo. (kiri ke kanan: saya, Ighi, Vianne, Verer)

Tanpa terasa, 2,5 jam berjalan kaki mengantarkan kami ke sebuah desa nan indah yang tersembunyi di balik gunung-gunung. Saat kami datang, porter kami membunyikan kentongan sebagai tanda adanya tamu yang datang. Aktivitas ini sudah menjadi tradisi di Kampung Adat Wae Rebo. Dengan membunyikan kentongan, penduduk desa akan bersiap-siap menyambut tamu yang datang.

Prosesi penyambutan tamu ini disebut dengan Upacara Wae Lu’u. Tamu yang datang ke desa ini tidak diperkenankan melakukan aktivitas apapun jika belum melalui prosesi ini. Prosesi di mana tetua adat merapal doa-doa agar para tamu dapat diterima oleh penduduk maupun alam desa ini dan mendapatkan keselamatan selama maupun setelah meninggalkan desa. Pengunjung dapat memberikan biaya seikhlasnya untuk tetua adat yang menjalankan prosesi.

Usai prosesi ini, kami dapat beraktivitas dengan bebas di desa peraih penghargaan Top Award of Exellences dalam Asia Pacific Heritage Awards 2012 yang dihelat oleh UNESCO. Kami diajak masuk ke salah satu rumah Mbaru Niang untuk beristirahat dan makan siang. Kami disuguhi kopi hitam hasil kebun warga. Nikmat sekali rasanya, begitu hangat seperti sambutan masyarakatnya.

Makan siang sedang disiapkan. Sembari menunggu, kami mengagumi keindahan desa dengan mengabadikannya dalam bidikan kamera. Tampak rumah beratap ijuk berbentuk kerucut dengan puncaknya berhias ornamen tanduk kerbau. Warga menjemur hasil bumi seperti biji kopi dan kayu manis. Hijau pepohonan dan perbukitan yang mengelilingi membuat desa ini elok nian.

Rumah Mbaru Niang di Kampung Adat Wae Rebo

Desa berketinggian 1.100 mdpl ini hampir punah pada 1997 saat pertama kali ditemukan. Tersisa dua rumah dalam keadaan rusak. Pada 2008, arsitek Yori Antar menginisiasi pembangunan rumah adat Wae Rebo dengan nama gerakan Rumah Asuh. Sebuah gerakan dengan misi melestarikan kekayaan arsitektur nusantara. (Goodnewsfromindonesia.id, 2016) . Pria bernama lengkap Gregorius Antar Awal kemudian memberangkatkan lima belas mahasiswa untuk merekonstruksi rumah-rumah tersebut.

Makan siang sudah siap. Kami bersantap bersama-sama dengan rombongan lain yang ternyata masih teman-teman dari Verer, Ighi dan Vianne. Disajikan nasi bersama telur, sayur labu, sambal, dan kerupuk. Sederhana tapi begitu lezat.

Hal yang paling saya sukai saat berkunjung ke desa-desa adat adalah berbincang-bincang dengan penduduk lokal. Berbagi cerita kehidupan, adat istiadat, budaya, dan tradisi yang masih dijunjung tinggi. Banyak nilai-nilai yang dapat dipetik dari cerita-cerita yang mengalir. Kami juga bermain dengan anak-anak. Anak-anak yang selalu riang gembira membawa keceriaan bagi kami lelah menempuh perjalanan jauh. Betapa bahagia tak terkira.

Kembali pulang. (Ighi, saya, dan Vianne)

Hari kian kelabu. Khawatir turun hujan, kami bersiap kembali. Perjalanan pulang masih panjang. Sekitar pukul 13.45 WITA, kami beranjak. Padahal, ingin hati berlama-lama di desa ini. Kalau ada kesempatan, mungkin akan menginap di desa ini. Menyatu dengan alam dan masyarakatnya.

Tags : desa di atas awanFloresKampung Adat Wae ReboMbaru NiangRutengUpacara Wae Lu'uWae Rebo
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

53 Comments on "#KembaraNusaTenggara: Petualangan menuju Desa di Atas Awan Wae Rebo"

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Nunik Utami
Guest

Wae Rebo selalu memesona! Penasaran banget pengen lihat rumah2 kerucut itu.

fajar
Guest

Dari tulisan ini tercermin keindahan alam wae rebo dan keasyikan dalam perjalanan kesana. Wae rebo adalah salah satu destinasi idaman saya yang belum terwujud. Semoga suatu saat saya bisa kesana

Antin Aprianti
Guest

Perjalanannya seru banget dan fotonya keren2 ka

Taumy
Guest

Kalau menginap di Waerebo nya biayanya sama saja atau nambah lagi ya?

Arlindya Sari
Guest

Destinasi impianku…semoga bisa segera terwujud kesana. Ternyata butuh biaya yg cukup besar ya utk masuk ruteng. Noted infonya, makasih kak mar

Citra rahman
Guest

Lumayan mahal juga ya biaya masuknya. Porter itu ga wajib kan ya?

Kartini
Guest

Doain aku juga ya, supaya bisa ke sana.. Asik banget..

Iqbal
Guest

Mahal ya ternyata.. nginap nambah lagi. Tapi ya positifnya, kan jadi gak semua orang bisa ke sana. Gak cepat rusak

Tengku
Guest

Belum kesampean. Bagus bgt yaaa tmpatnyaaa

Ristiyanto
Guest

Rupanya Wae Rebo bangunan itu rekonstruksi ya. Tapi tetap unik sih.

Dayu Anggoro
Guest

Suatu saat pengen kesana, bukan cuma berkunjung tapi nginep kalo bisa wkwk

yunita
Guest

terpana aku bacanya. tulisan rapi sekali, kata2nya benar2 dipilih dengan konteks yang teoat dan gambar2nya, pemandangan di sana cantik sekali yaaa Mba. keep writing and cheer up.

Zaoza
Guest

Wah seru banget kak Maria… Biaya minimal hasil maksimal πŸ˜€

Achi Hartoyo
Guest

Boleh nginep gak sik di rumah itu? Pengen banget ngerasain nginep di rumah Wae Rebo

Dewi Setyowati
Guest

Asik banget mba perjalanannya. Tulisannya juga keren!

Nasa
Guest

Sambil baca ngebayangin klo main kesana, baru tahu juga kalau ternyata bangunan itu sempat hampir punah. Semoga nanti bisa kesana sekaligus nyeruput kopinya yang bikin penasaran,.

Kharina Windi
Guest

Perjalanannya seru banget kak apalagi dibungkus tulisan kakak dan fotoΒ² yg keren.

kelanakucom
Guest

Seru banget kak perjalanannya. Belum kesampean nih ke Wae Rebo.

Ndari
Guest

Ih ini destinasi idaman bgt kakk…sedih ngeliyatnyaa

Lenifey
Guest

Foto-fotonya bagus 😍😍
Btw.. kalo makan disana bayar juga gak kak?

rizki
Guest

duh NTT…

Hayati
Guest

Ceritanya seru, fotonya indah.. Jadi makin pengen ke wae rebo😍😍😍

Ariwidi
Guest

Waah ini bener-bener belom kesana. Waerebo.gorgeous placed..

Ariwidi
Guest

Kepengen kesiniiiiii

Ning!
Guest

Berbincang dengan penduduk lokal emang selalu asyik ya, apalagi kalau bicara soal adat. Pasti selalu ada hal unik yang mereka percayai, hormati dan selalu dijunjung tinggi. Indonesia memang luar biasa! Hehe

Johanes Anggoro
Guest

Cukup mahal untul ukuan sebua desa adat. Atau mungkin memang sengaja, untuk membatasi wisatawan.

Diah Sally
Guest

Ah gila, ini sih keren banget! πŸ˜€

www.ekasiregar.com
Guest

Selalu rindu untuk kembali dan berlama-lama di tanah itu…

Maya Nirmala Sari
Guest

Wae rebo masuk wish list 2018. Terimakasih infonya. Bikin makin ga sabar pengen ke sana.

Eka Rahmawati
Guest

Aku suka sama gambar2nya. Jd makin penasaran sama NTT πŸ™‚

Kalena Efris
Guest

Wae Rebo bagus banget😍😍😍 , jadi pengen banget kesanaaa.

titi
Guest

jadi pengen ihh main kndesanwisata

Beni
Guest

Mba Maria, tulisannya mau di buat buku kah?

Ulpahsm
Guest

Ini bukan ikut OT ya? Jadi pengen coba karena kyknya lebih seru dan bisa atur jadwal sendiri dan dapat teman baru juga hihii

derus
Guest

alamak, ternyata kayak naik gunung ya kesana, 5 jam pula.. tp terbayarkan pastinya dengan view yg keren πŸ™‚

Mustika Sari Virginia
Guest

Sumpah keren bgt!! Aku blm pernah ke Flores sih Mbakk.. Tp buat aku yg pernah tinggal di Nusa Tenggara, pesona alam Nusa Tenggara emg bagus bgt seperti menghipnotis nggak bisa dilupakan hiks

Lensa Nasrul
Guest

Duh keren ya pingin kesana, emm tapi butuh dana banyak juga ya…

yosh
Guest

duhhh..
jadi makin yakin 2018 buat berkunjung ke Wae Rebo