close

WTTP XXVI – Refleksi Hidup dalam Sebuah Perjalanan

Sekitar setahun yang lalu, perjalanan dinas kerja membawa saya ke Yogyakarta. Perjalanan dinas yang bertepatan dengan hari kelahiran. Selebrasi hari kelahiran selain di kota tempat tinggal, Bekasi dan Depok, merupakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat hari kelahiran saya terasa begitu spesial. 20 Desember 2016, saya menikmati keindahan alam bumi Yogyakarta dengan mengunjungi Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus Sari. Bertemu dengan orang-orang yang baru, memaknai hari dengan cara yang berbeda, serta merefleksikan hidup di tengah-tengah udara segar dan rimbun pepohonan.

Sejak saat itu, terbersit di pikiran saya untuk merayakan hari kelahiran di suatu tempat yang berbeda dari kehidupan sehari-hari saya. Entah itu kota, desa, gunung, sungai, pantai…

Pertambahan usia kali ini saya memilih lokasi yang pernah membuat saya jatuh cinta saat pertama kali menjumpainya. Sebuah wilayah dengan bentang alam yang rupawan.

Matahari masih bersembunyi di ufuk timur saat kami berangkat. Menembus dinginnya kota menuju sebuah kaki gunung. Berencana mengejar matahari terbit di tengah musim yang sedang tak menentu ini. Pasrah apakah matahari bersinar pagi ini. Setidaknya kami berusaha.

Semakin dekat dengan tujuan, kabut turun mengiringi perjalanan. Jarak pandang kian pendek. Perlahan-lahan kami menyusuri lekuk aspal yang hanya tampak kurang dari lima meter di hadapan kami. Udara sekeliling semakin membuat kulit terasa beku.

Harapan hampir pudar untuk menyaksikan terang yang muncul dari cakrawala. Hanya doa yang dapat kami panjatkan agar selamat dalam perjalanan di tengah kabut tebal ini.

Gunung tipe stratovolcano dengan segitiganya yang sempurna

Semesta sepertinya masih berpihak pada kami. Kabut sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan. Rute yang kami lalui terlihat jelas. Tampak siluet gunung tipe stratovolcano yang berbentuk segitiga sempurna. Kami masih sempat untuk mencapai titik terbaik menikmati pemandangan matahari terbit pagi ini.

Kendaraan kami melaju menuju tugu pandang. Berlari-lari mengejar terang. Berharap kabut tidak lagi datang menjadi penghalang.

Menunggu dengan harap-harap cemas. Apakah terang akan datang. Mengingat kabut tebal yang sempat menghalangi pandangan. Tak ada yang bisa memprediksi cuaca di alam bebas, apalagi di kawasan pegunungan.

Langit yang abu-abu berganti warna. Awan-awan masih berjejer menutupi sang pemberi terang. Namun, sinarnya telah memberi warna ke alam sekitar. Sabar menunggu bangunnya sumber cahaya dari tidur lelapnya.

Ia bangkit dengan berkilauan. Meski jingga yang biasanya kita dambakan sedang enggan hadir hari itu. Semesta seolah memberi pertanda bahwa usia yang baru ini akan secerah mentari yang bersinar setiap pagi. Harapan untuk hidup yang lebih baik.

Di atas tugu pandang, saya berdoa dalam hati untuk usia yang baru saja berganti. Seperempat abad hidup telah saya lewati dengan berbagai kecamuk rasa. Quarter life crisis yang tidak pernah mudah. Keputusan-keputusan besar telah saya ambil, kekecewaan yang mendewasakan, pekerjaan baru yang penuh tantangan, lingkungan baru yang harus diadaptasi, cita-cita yang tertunda, hingga merelakan orang-orang yang meninggalkan saya maupun yang akhirnya harus saya tinggalkan.

Hidup tidak lagi soal berapa IPK yang harus saya raih atau kapan selesai skripsi. Hidup yang saya jalani kini adalah tentang bertahan dengan nilai-nilai yang saya percaya. Bertahan di tengah kondisi yang serba terbatas untuk mencapai mimpi-mimpi saya sejak dahulu. Dipandang sebelah mata sudah menjadi makanan sehari-hari. Bosan akan kritik tentang saya yang menjalani pekerjaan tidak sesuai jurusan. Banyak orang yang bukan alih-alih mendukung, malah menjatuhkan semangat. Padahal, yang patut digarisbawahi adalah melakukan pekerjaan yang mampu membuat kita merasa bahagia. Bukan pekerjaan yang membuat kita mengeluh terus menerus dan tidak berdaya untuk mengubah keluhan tersebut.

Cahaya mentari terang benderang. Kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan alam yang terhampar di hadapan kami. Aroma belerang menguar dari kawah-kawah.

Hari masih teramat pagi. Tidak wisatawan lain yang mendaki selain saya dan seorang sahabat seperjalanan. Kabut kembali turun menghampiri. Terang mentari seolah meredup.

Kami terus melangkah. Beristirahat sejenak saat nafas sudah terengah-engah. Lama tak mendaki gunung membuat badan cepat lelah.

Berhenti sejenak di sebuah tempat persinggahan. Memasak air untuk membuat minuman hangat. Sarapan singkat di tengah angin dan kabut.

Tetap menikmati alam meski kabut tebal menyelimuti

Kami sampai di sebuah tempat di mana pohon-pohon telah lama mati. Menyisakan batang-batangnya yang kering dan menghitam. Tampak eksotis di tengah selubung kabut. Kontras antara hitam dan putih. Melihat hutan yang telah mati ini, mengingatkan saya akan orang-orang yang telah lebih dulu pergi. Mereka boleh pergi tapi mereka telah memberikan warna tersendiri dalam hidup setiap orang. Mereka tetap ada dalam kenangan…

Rencananya kami akan menuju ke padang bunga abadi. Sayangnya, kabut terlalu tebal menghalangi pandangan. Alangkah lebih baik kalau kami mengurungkan niat tersebut demi keselamatan diri.

Berjalan kaki cukup jauh membuat kami kembali lapar. Singgah di sebuah kedai makanan yang ternyata dikelola oleh seorang guide profesional. Ia bercerita tentang tempat-tempat terbaik untuk mengambil gambar dan tempat tersembunyi yang jarang dikunjungi wisatawan. Ia menyarankan kami untuk menyambangi bekas kawah yang kini menjadi danau curah hujan.

Aliran sungai di perjalanan menuju danau musiman

Perjalanan menuju danau terbilang mudah karena rutenya cukup landai. Sebenarnya, rute ini termasuk ke dalam rute liar yang tidak dibangun oleh pengelola. Melewati sungai-sungai kecil yang amat cantik. Bebatuan dengan berbagai warna yang menawan. Tak ada papan penunjuk jalan atau pos-pos sebagai penanda. Kami harus membaca wilayah untuk menentukan arah yang diberikan guide penjaga kedai. Hujan pun turun seperti ingin ikut menemani perjalanan ini. Jarang-jarang mendapat sensasi petualangan seperti ini di sebuah tempat wisata.

Setelah berpacu dengan hujan, sampailah  kami di tujuan. Terhampar danau yang hijau membiru dengan bebatuan putih menguning di sekelilingnya. Di atasnya mengepul asap dari kawah belerang. Sangat beruntung bisa melihat danau kecil yang indah ini. Danau yang hanya ada kala musim penghujan tiba. Sementara, hujan masih berderai-derai tak kunjung usai. Hujan di bulan Desember…

Selamat beranjak usia di 20 Desember 2017.

WTTP XXVI – Wilujeng Tepang Taun* Project ke 26

*Ucapan selamat ulang tahun dalam bahasa Sunda

Tags : alamdanaugunungkawah
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

8 Comments on "WTTP XXVI – Refleksi Hidup dalam Sebuah Perjalanan"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Tuty prihartiny
Guest

Jikapun terjal, yuk nikmati setiap sisi perjalanan hidup…salut untuk Kak Maria…

Www.ekasiregar.com
Guest

Seru.. mewarnai hidup tidak pernah berakhir hambar tanpa rasa… berjalan selalu lebih meski hanya berputar.. selamat ya

Ristiyanto
Guest

“Melakukan pekerjaan yang mampu membuat kita merasa bahagia.” Berbahagialah kalo bisa dapat kerjaan yang sesuai passion.😀

Yokhanan Prasetyono
Guest

Asyik tulisannya. Perjalanan kadang tak terduga memberikan kita kejutan.
Kita menikmati saja, walau terjal.

Kalau kata Bondan Prakoso “Ya sudahlaah…”