close
IMG_1647

Pekik tonggeret mengisi pagi yang berembun di Ruteng. Hari-hari saya di kota yang dingin ini segera berakhir. Berkemas menjadi aktivitas yang selalu, dengan berat hati, saya lakukan.

Keluarga Verer memaksa saya untuk berangkat ke Labuan Bajo menggunakan travel. Keinginan untuk hitchhiking kembali digagalkan. Padahal cara tersebut cukup untuk menghemat saat kantong dalam kondisi sekarat. Kami akhirnya memesan mobil travel sekitar Rp 100.000. Entah mengapa saya lupa mencatat harga transportasi yang satu ini.

Pagi di kota seribu biara ini selalu didominasi warna kelabu. Letaknya di dataran tinggi membuatnya sering turun hujan. Begitu juga pagi itu, Senin, 11 April 2016, mendung dan dingin. Berpamitan dan berterima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga besar Magur atas rumah dan keluarga yang begitu hangat menyambut. Baru pertama kali jumpa tapi seperti sudah kenal begitu lama.

Perjalanan menuju Labuan Bajo membutuhkan waktu sekitar lima jam. Termasuk transit di Lembor untuk makan siang. Hujan mengiringi perjalanan menuju kota paling barat di Flores. Tanpa terasa perjalanan ini sudah masuk hari ke-24. Sungguh di luar dugaan kalau perjalanan yang direncanakan dua minggu kini sudah berjalan hampir sebulan.

Atas saran Verer, saya diarahkan menuju Rumah Baku Peduli. Sebuah rumah yang digagas oleh sebuah lembaga sosial non-pemerintah yang bermarkas di Labuan Bajo. Saya diperkenalkan dengan teman Verer bernama Gregorius Afioma, yang biasa disapa Afi.

Sampai di Rumah Baku Peduli saat matahari sedang terik-teriknya. Udara Ruteng yang sejuk berganti dengan sengat matahari dan debu daerah pesisir. Jaket yang saya kenakan sepanjang perjalanan harus dilepas.

Rumah Baku Peduli sedikit masuk gang kecil dari jalan besar. Rumah bercat putih dengan halaman yang rindang dan ruangan yang luas berdaun jendela lebar-lebar. Semilir angin dengan mudah memasuki rumah ini. Ada meja-meja panjang untuk tempat bekerja para aktivis sosial ini.

Salah satu hal yang membuat senyum saya merekah adalah adanya jaringan internet gratis di sini alias Wi-Fi. Sudah beberapa hari saya tidak terkoneksi dengan internet dengan alasan berhemat uang perjalanan. Notifikasi pun berhamburan memenuhi telepon genggam saya.

Usai berkenalan dan mengecek apa yang terjadi di dunia luar lewat internet, saya dipersilakan untuk beristirahat. Sore ini diinformasikan akan datang tamu dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bekerja sama dengan organisasi di sini. Para tamu akan disambut di Rumah Tenun Baku Peduli di daerah Watu Langkas, Nggorang, di Jalan Trans Flores Km. 10. Sekitar 20 menit dari basecamp Rumah Baku Peduli yang lebih sering digunakan untuk diskusi hingga pelatihan.

Rumah Tenun Baku Peduli

Hari menjelang sore, kami bersama-sama menuju Rumah Tenun Baku Peduli. Sesampainya di sana, betapa terkagum-kagum dengan rumah megah yang luas berlatar sawah dan perbukitan yang menghijau. Di dalam rumah bernuansa bata merah ini terdapat kain-kain tenun dari berbagai wilayah yang ada di Flores sekaligus mesin tenunnya. Selain itu, terdapat hasil bumi dari area persawahan dan perkebunan sekitar berupa beras dan sorgum.

Tradisi Manuk Kapu

Cahaya matahari kian memudar. Tamu yang ditunggu pun datang dan disambut dengan ritual Manuk Kapu berupa pemberian ayam dan Tuak Kepok berupa jamuan minuman lokal khas Manggarai. Dalam Manuk Kapu, para tamu akan diberikan ayam jago berbulu putih yang melambangkan ketulusan dan kebersihan hati. Sementara untuk Tuak Kepok, tuan rumah akan memberikan jamuan minuman berupa tuak yang disimpan di batang bambu. Tuak merupakan minuman tradisional yang melambangkan persatuan, persaudaraan, dan kekeluargaan. Warna putih dari tuak juga memberikan makna ketulusan dan keikhlasan menerima tamu yang datang.

Usai sambutan dan perbincangan selamat datang, kami beranjak ke pusat kota untuk makan malam. Punggawa Rumah Baku Peduli mengajak kami bersantap di Kampung Ujung. Sebuah wilayah di paling ujung Labuan Bajo, berbatasan langsung dengan laut.

Hidangan laut di Kampung Ujung, Labuan Bajo

Di dermaga Kampung Ujung, berjejer warung-warung tenda yang menjajakan hasil tangkapan nelayan. Hasil laut yang masih segar bisa dipilih untuk langsung dimasak sesuai pesanan. Tampak turis mancanegara yang juga makan di sini. Di sisi lain, banyak penjual kain tenun dan aksesoris tak henti-henti menawarkan dagangan ke pengunjung.

Hidangan seafood selesai kami tandaskan. Malam ini merupakan awal pembahasan kerja sama antara LSM yang bersangkutan. Esok hari, terdapat agenda wisata sekaligus agenda kerja dengan mengunjungi beberapa pulau yang ada di Taman Nasional Komodo. Saya yang kebetulan ada di sana, beruntung diajak untuk ikut serta dalam agenda yang diadakan. Diam-diam menjadi penumpang gelap agenda-agenda tersebut.

Tags : FloresKampung UjungLabuan BajoRumah Baku PeduliRuteng
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

3 Comments on "#KembaraNusaTenggara: Kota Tujuan Terakhir, Labuan Bajo"

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Lala Yusuf
Guest

Kok gantung Mar gue bacanya? Hahaha

investindoimpacts
Guest

Iya nih, putus di besoknya gimana? hahaha

Jejak Sendal Jepit
Guest

Penumpang gelap !!!! Wew…… Belum pernah saya,tapi kaya nya seru juga