close
IMG_3556

Bagaimana rasanya jika visual yang hanya bisa dilihat di layar kini ada di hadapan mata? Bagaimana rasanya merasakan hembus angin, terik matahari, dan percik ombak langsung terasa di permukaan kulit?

Pagi-pagi buta sudah bersiap untuk petualangan hari ini. Bersama awak Rumah Baku Peduli dan rekanan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terkait, kami akan menyambangi pulau-pulau yang ada di Taman Nasional Komodo (TN Komodo). Baik pulau untuk berwisata maupun yang akan menjadi lapangan penelitian.

Matahari masih bersembunyi saat kapal hendak berlayar. Tampak puluhan kapal nelayan dan kapal wisata berjejer rapi di sekitar dermaga. Dingin angin dini hari menusuk-nusuk dan kabut pun menyelimuti permukaan laut. Bau amis ikan menyeruak memenuhi hidung.

Pagi di perairan Taman Nasional Komodo

Kami bergerak menuju pulau yang paling jauh sekaligus paling memukau. Kapal kayu kecil berkapasitas sekitar 15 orang ini mengarah ke Pulau Padar. Langit perlahan-lahan benderang. Laut yang tadinya gelap mulai tampak membiru. Pulau-pulau berbukit terjal berwarna hijau kekuningan yang tampak seperti dunia yang berbeda.  Bagi kami yang baru pertama kali berlayar ke kawasan ini, berkali-kali berdecak kagum atas keindahan sang pencipta semesta.

Pulau Padar  

Hampir tiga jam terombang-ambing di atas kapal, sekitar pukul 09.00 WITA kami sampai di Pulau Padar. Pulau ini cantiknya bukan main, menyambut kami dengan pasir putih berkilauan. Sementara, untuk melihat kecantikan yang sering kami lihat di layar dunia maya, ditebus dengan mendaki bukit yang awalnya landai namun semakin tinggi kian terjal. Sengat terik matahari menjadi tantangan yang harus kami hadapi.

Belum sampai ke titik hotspot untuk mengambil gambar tiga teluk yang menawan, kami sudah tersihir dengan pesona pulau ini. Di tengah perjalanan, sebagian sudah mengambil gambar terlebih dahulu. Bukit-bukit berumput hijau kekuningan menghampar sejauh mata memandang. Liuk garis pantai dengan gradasi biru laut, pasir putih, dan kontur tanah yang kecokelatan menjadi paduan yang memikat untuk diabadikan.

Pemandangan tiga teluk Pulau Padar

Sebuah batu yang menjadi titik terbaik mengambil pemandangan Pulau Padar menjadi antrian. Pemandangan dari titik ini memang luar biasa. Tiga teluk dengan liuk-liuk garis pantai tampak nyata. Pemandangan yang biasanya hanya dapat dilihat di layar dunia maya kini benar-benar ada di hadapan mata. Rasanya tidak percaya kalau saya bisa ada di titik ini. Sureal. Sambil menunggu kami berteduh di bawah pepohonan atau batu-batu besar. Sembari beristirahat dan bersembunyi dari matahari.

Puncak Pulau Padar yang sesungguhnya masih harus ditempuh sekitar 15-20 menitan lagi. Daripada menunggu antrian, sebagian kecil menuju puncak tersebut. Bertarung kembali dengan jalur yang cukup terjal dan matahari yang kian terik. Sesampainya di puncak tertinggi, terhampar bidang datar berumput kering yang cukup luas. Sepertinya mendirikan tenda di area ini akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Pemandangan di sini memang tidak seindah di titik yang jadi antrian namun ada kepuasan tersendiri ketika mencapai puncak.

Rumornya, masih ada beberapa komodo di pulau ini. Wisatawan harus tetap berhati-hati akan reptil istimewa ini. Terlebih jika ingin menjelajahi pantai-pantai di sekitar terbesar ketiga di gugusan pulau Taman Nasional Komodo.

Agenda Rumah Baku Peduli masih panjang. Rombongan kami tidak bisa berlama-lama di Pulau Padar. Setelah mengambil gambar seadanya, kami bergegas ke kapal menuju pulau yang akan menjadi objek penelitian bersama.

Pulau Papagaran

Pulau berpenghuni menjadi tujuan kami selanjutnya. Namun, bukan Kampung Komodo seperti yang biasa disambangi para wisatawan untuk melihat kehidupan penduduk asli yang berdampingan langsung dengan satwa endemik tersebut. Kami menuju Pulau Papagaran, tempat di mana warga bermukim dan masuk ke dalam zonasi penyangga taman nasional.

Pulau Papagaran

Sesampainya kami di pulau yang kering dengan tanah berwarna merah. Pepohonan tumbuh berjauh-jauhan. Papan-papan penjemur ikan asin terhampar. Perahu jukung berderet-deret di tepian. Rumah-rumah panggung berdiri gagah menantang matahari. Dermaga dengan balok kayu yang usang dan sebagian menghilang dari tempatnya menyambut kami.

Kami dikumpulkan di rumah kepala desa untuk berbincang-bincang mengenai kondisi serba sulit yang dialami warga. Tinggal dalam zona penyangga dikatakan malah lebih banyak menyusahkan mereka. Warga tidak dapat memiliki tanah yang mereka tinggali akibat status lahan mereka ada dalam kawasan taman nasional. Hal ini berdampak pada akses terhadap keuangan ketika ingin mencairkan kredit di bank, warga tidak memiliki sertifikat tanah sebagai jaminannya. Persoalan demi persoalan diutarakan warga kepada rombongan kami, seperti fasilitas listrik, pendidikan, akses terhadap kesehatan yang semuanya masih belum bisa memenuhi kebutuhan warga.

Rumah-rumah di Pulau Papagaran

Miris melihat kondisi warga yang bermukim di kawasan yang digadang-gadang sebagai salah satu tujuh keajaiban dunia versi The New 7 Wonders. Pembangunan atas nama kenyamanan wisatawan yang hanya menguntungkan para pemilik modal besar. Penduduk-penduduk asli yang tinggal di kawasan zonasi malah semakin menderita bukan semakin sejahtera.

Pulau Rinca (Loh Buaya)

Pulau Rinca (Loh Buaya)

Hari semakin sore. Belum lengkap rasanya ke Taman Nasional Komodo tetapi belum berjumpa dengan hewan langka yang satu ini. Dari Pulau Papagaran, kami menuju Pulau Rinca (Loh Buaya). Pulau ini merupakan pulau kedua setelah Pulau Komodo yang menjadi habitat Varanus Komodoensis.

Waktu tutup kian menjelang. Kami datang terlampau sore. Tidak sempat trekking untuk melihat komodo di alam bebas. Entah karena mereka mencium daging yang dimasak di pondokan-pondokan penjaga atau memang diberi makan oleh petugas, beberapa komodo tampak bersantai-santai di bawah pohon dan di bawah pondokan.

Komodo bersantai di bawah pondokan

Kami tidak perlu berjalan jauh-jauh untuk melihat makhluk yang menjadi daya tarik wisata ini. Dengan bantuan petugas, kami diajak berpose di belakang komodo sesuai dengan instruksi jarak aman. Ada kengerian merayapi ketika melihat dan mendekati hewan beracun ini. Ia terlihat tenang dan misterius namun sorot matanya waspada. Jika melihat di video-video semacam National Geographic, ia terekam bisa melesat menangkap mangsa dengan gesit dan seketika menaklukannya. Kasus warga maupun wisatawan yang terkena gigitan beracunnya hampir setiap tahun ada.

Perjumpaan dengan satwa ini begitu singkat. Satu hari mengelilingi taman nasional ini rasanya masih belum cukup. Terlebih belum sempat untuk melihat keindahan bawah lautnya yang mempesona.

Kondisi finansial tidak memungkinkan untuk mengambil paket wisata living on board atau menginap di kapal sambil berkeliling-keliling taman nasional. Di tengah keterbatasan ini, saya memutuskan untuk mengambil paket one day trip di hari berikutnya. Simak kelanjutan ceritanya ya!

Tags : FloresKomodoLabuan BajoLoh BuayaPulau PadarPulau PapagaranPulau RincaTaman Nasional Komodo
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of