close
img 5

Resolusi kadang membuat frustasi. Akhir tahun menjadi momok yang menakutkan karena banyak dari resolusi yang belum tercapai. Resolusi tidak lagi menjadi pemicu mencapai sesuatu malah menjadi pemicu depresi.

Membuat daftar resolusi di awal tahun yang lebih sering mengawang-awang. Misal, penghasilan harus bertambah sekian rupiah, berat badan turun sekian kilo, berapa judul buku yang harus dibaca dalam setahun, dan lain-lain. Resolusi kita terpatok pada angka, pada kuantitas. Bukan lagi kualitas.

Refleksi dari hari-hari sepanjang tahun 2018 membuat saya tersadar bahwa tidak semua harus dihitung berdasarkan angka. Setiap awal tahun Goodreads mengajak pembaca untuk menargetkan berapa buku yang dibaca selama setahun, selalu saja di akhir tahun saya cemas karena target yang saya ajukan di awal tahun masih jauh dari kata terpenuhi.

Saya sudah agak lama tidak membuat resolusi yang muluk-muluk karena saya tahu betul jikalau resolusi tersebut jauh panggang dari api, saya akan cemas dan kesal terhadap diri sendiri. Akan tetapi, 2018 telah memberikan saya pelajaran untuk hidup lebih sehat dan lebih bahagia. Tidak memikirkan bagaimana konstruksi sosial ataupun tekanan (media) sosial terhadap apa yang harus saya lakukan dan pikirkan. Ini beberapa pemikiran saya yang menjadi resolusi di tahun 2019.

teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of