close
IMG_20160418_181844_1

Berada di kawasan kepulauan tetapi tidak menikmati pantai dan alam bawah laut, rasanya ada sesuatu yang belum lengkap. Rabu, 13 April 2016, saya mencari operator travel yang menyediakan jasa one day trip yang di dalamnya sudah termasuk dengan snorkeling. Berharap bisa langsung berangkat hari itu juga namun sayangnya bangun kesiangan dan kapal-kapal sudah berangkat sejak matahari tiba.

Saya berkeliling sekitar pelabuhan dan jalan utama Soekarno-Hatta untuk mencari-cari trip murah. Banyak diantaranya menyediakan jasa perjalanan dan perlengkapan diving yang menjadi favorit turis mancanegara. Jika sewa kapal dan trip untuk sendirian harganya menjadi sangat mahal. Sementara, periode tersebut sedang low season sehingga agak sulit mencari barengan trip. Setelah keluar masuk belasan kantor operator travel, akhirnya saya mendapat harga yang cocok untuk pemberangkatan besok.

Perjalanan dengan harga Rp 330.000 mendapat tiga destinasi, yaitu Pulau Komodo, Pink Beach, dan Pulau Kelor. Termasuk kapal, guide, perlengkapan snorkeling, dan makan siang. Harga belum termasuk tiket masuk Taman Nasional Komodo sebesar Rp 50.000.

Pagi menuju Pulau Komodo

Esoknya (14/04/2016), saya sudah bersiap saat matahari masih bersembunyi. Aktivitas warga masih lengang. Sekitar pukul 06.00 WITA, kapal kayu berangkat dengan tujuh orang penumpang. Satu orang nahkoda, satu orang guide, empat turis asing, dan saya. Menarik bahwa empat turis asing yang terdiri dari pasangan dewasa usia sekitar 50-an tahun dan pasangan muda usia 20-an ini baru bertemu di sebuah destinasi yang kemudian memutuskan untuk melakukan perjalanan selanjutnya bersama-sama.

Kami berbincang sekadarnya menanyakan asal negara, sudah pernah ke mana saja di Indonesia, dan berbagai topik ringan lainnya seputar Flores. Berbeda dengan kebanyakan trip lokal yang pernah saya ikuti di mana peserta trip (turis lokal) sibuk mengambil gambar hampir sepanjang waktu, bule-bule ini mengambil gambar di momen tertentu sesekali saja dan lebih banyak diam menikmati, meresapi, keindahan taman nasional ini yang terasa magis. Udara pagi yang sejuk berbaur dengan aroma laut menciptakan semilir yang menenangkan. Langit yang beralih dari gelap menuju terang memberikan pendar warna yang mengagumkan berlatar bukit-bukit dan pulau-pulau.

Deru mesin kapal menjadi lagu yang mengiringi perjalanan ke destinasi pertama, Pulau Komodo. Selama 2,5 jam berlayar menuju pulau tempat bersemayam hewan purba ini. Sesampainya di sana, kami langsung ke loket untuk menentukan jarak tempuh yang akan kami lalui untuk menyaksikan langsung kadal raksana di habitatnya. Rombongan mengambil jarak medium yang ditempuh sekitar 1 jam mengelilingi taman nasional. Kami ditemani pemandu taman nasional yang berbekal kayu panjang sekitar 1,5 meter dengan ujung bercabang menyerupai huruf Y. Sebenarnya, heran juga ketika pemandu membawa tongkat kayu panjang sederhana untuk mengendalikan hewan gesit dengan air liur mematikan ini. Hanya bisa berdoa dalam hati agar hal-hal mengerikan tidak terjadi.

Kami berjalan menyusuri hutan yang rindang sekaligus terik. Dedaunan di hutan ini tidak mampu menutupi panas matahari yang kian menyengat kulit. Pemandu memberikan informasi sepanjang perjalanan mengenai lokasi aktivitas komodo. Sampai kami naik ke sebuah bukit, reptil ini belum tampak juga. Akhirnya, setelah kami menuruni bukit menuju pantai, beberapa ekor sedang bersantai dekat pondokan. Masih terasa mengerikan berada di dekat hewan ini. Meskipun perangainya terliat tenang, tidak ada yang tahu bagaimana pergerakan ia selanjutnya. Usai mengambil gambar, kami kembali kapal menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pink Beach.

Pink Beach dari kejauhan

Kapal tidak bisa merapat ke pantai tujuan karena ada karang-karang dan tidak bisa melempar jangkar. Kami berenang langsung dari kapal menuju pesisir yang pasirnya berkilauan berwarna merah muda. Warna merah muda dihasilkan dari hewan laut bersel satu dan bercangkang pink, Foraminifera.   Dikarenakan tidak membawa dry bag, saya pun tidak mengambil gambar di Pink Beach ini. Cukup merekam baik-baik dalam memori betapa halusnya pasir pink, keelokkan terumbu karang, hingga jernih dan segarnya air laut.

Selesai dari destinasi kedua, kami menuju destinasi selanjutnya. Makan siang disediakan di kapal. Sederhana namun nikmat, makan di tengah laut setelah lelah trekking dan berenang. Letak Pulau Kelor cukup dekat dengan pelabuhan sehingga kami mengarungi laut sekitar dua jam menuju ke sana.

Pulau Kelor

Pulau Kelor tak kalah jelita. Perbukitan nan hijau bersanding dengan pasir putih menawan membuat saya mengagumi ciptaan Yang Maha Kuasa. Terbersit perasaan tidak percaya bahwa saya akhirnya sampai juga di sini. Menikmati indahnya pantai dan pulau-pulau dengan jerih payah sendiri.

Hari menjelang sore. Puas menjelajahi bawah laut Pulau Kelor dan menaiki puncak bukit, kami kembali ke Labuan Bajo. Kembali dengan perasaan bahagia yang sulit digambarkan. Melihat dan merasakan sendiri apa yang dulu hanya ada di gambar-gambar majalah, internet, dan layar kaca. Pengalaman yang tak akan terlupakan!

Bukit Cinta

Masih banyak tempat wisata sekitar Labuan Bajo yang dapat dikunjungi. Sayang beribu sayang, kondisi finansial membuat saya harus menahan diri mengunjungi tempat-tempat menawan tersebut. Ada air terjun Cunca Wulang, Gua Batu Cermin, Gili Laba, Manta Point, dan Gua Rangko. Alhasil, saya menikmati Labuan Bajo yang bisa diakses tanpa biaya seperti Bukit Cinta dan Pantai Waececu. Pantai yang terakhir sebenarnya bukan pantai umum karena telah dibangun resort. Hanya saja karena masih proses pembangunan, kami bisa diijinkan masuk. Ada juga Pantai Pede yang seharusnya menjadi pantai publik, di mana hampir seluruh pantai Labuan Bajo sudah dikuasai swasta, kini masih sengketa kepemilikan. Semoga negara berpihak pada rakyat!

Perjalanan yang direncanakan berdurasi dua minggu tanpa terasa mengalir menjadi 34 hari. Sebulan lebih menyusuri Flores dari Larantuka sampai Labuan Bajo. Rupiah di saku yang semakin menipis membuat saya harus kembali. Begitu banyak pengalaman mengesankan selama ada di pulau bunga ini. Kebaikan hati yang tulus dari setiap orang yang saya temui telah menggugurkan asumsi-asumsi negatif yang pernah terbersit. Wilayah dengan keindahan yang tiada tara dari daratan hingga lautannya. Kearifan lokal yang masih melekat kuat menjadikan Flores destinasi wisata dengan ciri khas dan karakter yang memikat. Sungguh pengalaman luar biasa bisa berada di pulau ini dan melebur bersama warganya! Suatu hari nanti saya akan kembali ke sini!

Terima kasih banyak untuk semua pihak yang berbaik hati menampung dan menolong saya selama perjalanan. Keluarga besar Hadjon, keluarga besar Magur, teman-teman SM3T di Ende dan Bajawa, warga yang membantu selama di perjalanan dari mencarikan tumpangan sampai yang memberikan tumpangan, Rumah Baku Peduli, Kopi Mane, dan teman-teman yang ditemui selama perjalanan ini. Beribu terima kasih saya ucapkan atas kebaikan yang telah dilimpahkan kepada saya. Semoga semesta membalas kebaikan teman-teman semua. See you when I see you!

Dengan ini, #KembaraNusaTenggara berakhir!

Kapal Egon yang membawa saya pulang
Tags : FloresLabuan BajoNusa Tenggara TimurPink BeachPulau KelorPulau KomodoTaman Nasional Komodo
teraskata

The author teraskata

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of