Tak Berkategori

KembaraNusantara: Puncak Pertama

cimg7482

Atap tanah Pasundan ini menjadi puncak pertama setelah vakum dalam cukup lama. Tanjakan terjal itu masih membekas kuat di sanubari, begitu juga nyeri di sendi-sendi. Terpaan angin dingin dan kabut menyambut kami di puncak Gunung Ciremai.

Sesuai janji saya di tulisan sebelumnya, saya akan menuliskan perjalanan-perjalanan yang pernah saya lakukan bertahun silam. Sebagian sudah ditulis di blog lama saya, di mana tulisan saya masih berantakan. Di halaman ini, akan saya tuliskan dengan pemikiran 4 tahun setelah perjalanan.

Bersama Kamuka Parwata Fakultas Teknik Universitas Indonesia (KAPA FTUI) dan Wenty dari komunitas jelajah alam FISIP UI Jejak Mollusca, saya berangkat ke gunung tertinggi di Jawa Barat. Pendakian yang nekat bagi saya karena porsi olahraga waktu itu tidak semaksimal kawan-kawan dari pecinta alam dan komunitas jelajah. Dengan tanjakan Linggarjati yang membuat siapapun akan jera, saya berhasil menjadi faktor utama keterlambatan kami mencapai puncak.

Kala itu, Jumat sore, 9 Maret 2012, kami berangkat dari Depok menuju Kp. Rambutan untuk naik bis ke Kuningan. Menumpangi bis Satya Negara dengan tarif Rp 40.000 dengan bonus berputar-putar Kp. Rambutan – Pasar Rebo untuk mencari penumpang. Selayaknya bis jalur pantura (pantai utara), musik yang didendangkan adalah dangdut pantura dengan suara yang memekikkan telinga. Laju kencang bis sukses membuat penumpang sulit beristirahat, belum lagi pedagang asongan yang lalu lalang di beberapa titik.

Sesampainya di Desa Bandoro Raswetan, lanjut menyewa angkot ke Pos Linggarjati dengan biaya Rp 30.000. Pos masih tutup, kami menunggu hingga pagi tiba sambil menahan udara dingin sehabis hujan semalam. Mendaftarkan rombongan dan membayar simaksi sebesar Rp 10.000 setelah pos dibuka. Sarapan dan pemanasan sebelum pendakian adalah sebuah kewajiban.

Jalur Linggarjati adalah jalur yang perlu diwaspadai. Tidak ada sumber air, tanjakan curam dan sempit. Dibutuhkan tungkai dan tekad yang kuat jika ingin melalui jalur ini. Dengkul saya yang pernah jatuh sewaktu SMA, tidak pernah terasa sakit sebelumnya, saat menjejaki Linggarjati terasa begitu nyeri. Hal ini membuat saya merasa bersalah karena memperlambat ritme perjalanan. Rasa bersalah itu bisa dibaca di Catatan Perjalanan Ciremai: Pendakian Pertama setelah Sekian Lama. 

Adapun yang ingin saya bagikan adalah bagaimana mempersiapkan pendakian di jalur ekstrim untuk memudahkan perjalanan menuju puncak. Kendala fisik maupun logistik akan mengganggu ritme perjalanan dan membuyarkan rencana yang telah disusun sebelumnya. Berikut saran berdasarkan pengalaman saya:

Latihan Fisik: persiapan penting dari kegiatan outdoor adalah latihan fisik. Dengan latihan fisik, pendakian berjam-jam dengan jalur yang terjal akan terasa lebih ringan meski membawa beban berat. Anggota perjalanan dengan ritme perjalanan yang lambat akan mengganggu kenyamanan anggota lainnya karena harus menunggu lama.

Riset

Estimasi Waktu dan Logistik.

Estimasikan waktu dari lokasi pemberangkatan hingga ke pos pendakian, tentukan waktu istirahat sebelum pendakian, jam memulai pendakian, waktu istirahat di pendakian dan di tiap pos, waktu untuk mendirikan tenda dan waktu sampai di puncak hingga waktu turun. Dengan memperkirakan waktu pendakian, kita dapat memperkirakan logistik apa saja yang perlu kita siapkan, berapa kali kita akan makan, berapa liter air yang akan kita butuhkan, barang-barang apa saja yang kita butuhkan (

 

093

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *